PVMBG Diminta Ukur Ulang Kandungan Gas SO2
BANDUNG, (PRLM).- Kondisi gas di Tangkubanparahu kembali diukur Rabu (19/9). Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono meminta tim PVMBG mengukur ulang gas sulfur dioksida (SO2) dalam kondisi tekanan tinggi dan tekanan rendah. Jika hasil pengukuran ini menunjukkan batas yang aman, dia mengatakan status Gunung Tangkubanparahu mungkin diturunkan.
“Kita akan tunggu hasil akhir pengukuran gas. Memang ada indikasi penurunan, tetapi saya ingin memastikan secara tuntas. Gas SO2 di tempat parkir dan daerah wisata itu betul-betul di bawah Standar Nasional Indonesia yang tidak diperbolehkan orang di situ. Jadi saya mau memberikan rekomendasi menurunkan atau meningkatkan asal semua itu sesuai standar. Saya minta diukur oleh teman-teman dalam kondisi tekanan rendah misalnya kondisi pagi hari sebelum ada matahari dan dalam kondisi tekanan agak tinggi di mana matahari ada,” katanya saat ditemui di kantor PVMBG Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu (19/9).
Jika gas SO2 sudah layak untuk adanya aktivitas di sekitarnya, Surono memastikan akan menurunkan rekomendasi baru. Apalagi berdasarkan aspek kegempaan, dia melihat terjadinya penurunan. Tremor yang biasanya berlangsung lama pada malam hari sudah tidak ada.
Sementara itu, dia menuturkan, kegempaan vulkanik dan tektonoik harian relatif normal. Sebagai salah satu contoh gempa harian vulkanik dangkal, dia menuturkan, hal tersebut hanya terjadi 2-3 per hari. Kondisi ini membuat PVMBG tertantang untuk melihat dan mempertimbangkan untuk menurunkan kembali status G. Tangkubanparahu.
“Penurunan aktivitas sudah tampak dari aspek kegempaan, tetapi kita tidak bisa yakin gasnya seperti apa. Kalau gas dalam kondisi tekanan rendah dan tinggi, aman, kita buka saja. Penentuannya akan dilakukan setelah datanya diterima. Scientific itu harus pasti. Lebih baik salah mengatakan tidak boleh dagang di sana dan saya dimaki-maki dari pada saya ragu,” katanya.
Hingga saat ini, di Jabar yang memiliki status wapada hanya Papandayan dan Tangkubanparahu. Selagi wisatawannya tidak masuk ke kawasan gunung, resiko kebencanaannya menurut Surono sangat kecil sehingga masyarakat harus tetap tenang. (A-206/199/A-26).***
Post new comment