Bahan Baku Produksi Minuman Segar Jeruk Nipis Melambung Tinggi

EKONOMI

KUNINGAN, (PRLM).- Harga bahan baku produksi minuman segar air perasan jeruk nipis kemasan botol dari pemasok kepada produsen di Kab. Kuningan, selama musim kemarau ini mengalami lonjakan tinggi jauh dibanding harga pada musim hujan beberapa bulan lalu. Kendati pun, begitu para perajin minuman segar perasan air jeruk nipis kemasan botol di Kuningan, hingga saat ini masih tetap bertahan dan tidak meningkatkan harga jual produksinya.

Menurut keterangan dari beberapa pekerja dan pemilik rumah produksi minuman kemasan botol air jeruk nipis di Kuningan, harga jeruk nipis dari pemasok sekitar tiga bulan lalu hanya Rp 1.500 per kilo gram (Kg). Akan tetapi, selama musim kemarau ini, harganya terus merangkak naik, dan sejak sebulan lalu hingga sekarang sudah mencapai Rp 4.000/Kg.

Selain harganya melambung, menurut mereka, jeruk nipis untuk bahan baku minuman tersebut, pada musim kemarau ini cukup sulit didapat. "Untuk sementara ini, di sini kebetulan sedang tidak ada kegiatan produksi, karena sedang tidak ada jeruk nipisnya," ujar seorang anggota keluarga salah satu pemilik rumah produksi minuman tersebut di sebelah barat alun-alun Desa Ciawigebang, Kec. Ciawigebang, Kuningan, Selasa (18/9/12).

Minim serta tingginya harga jeruk nipis bahan baku minuman segar khas Kuningan itu, juga dibenarkan Benhardi, pemilik salah satu rumah produksi minuman tersebut lainnya di Desa Ciawigebang. "Hampir setiap musim kemarau, termasuk pada musim kemarau sekarang, jeruk nipis memang cukup sulit didapat dan harganya pun, melambung tinggi," kata Benhardi.

Akan tetapi, ujarnya lebih lanjut, sampai sekarang aktivitas produksi minuman segar jeruk nipis di rumahnya, setiap hari masih rutin berjalan. "Meskipun harga bahan bakunya melambung dari semula Rp 1.500 sampai sekarang telah mencapai Rp. 4.000/Kg., harga jual minuman kemasan air jeruk nipis produksi di rumah saya, tidak ditingkatkan," kata Benhardi.

Sementara itu, Kab. Kuningan selain telah dikenal dengan produk makanan khas berupa tape ketan dibungkus daun jambu dalam kemasan ember plastik, dalam beberapa tahun terakhir telah diperkaya juga dengan sejumlah produk makanan atau minuman lainnya hasil kerajinan masyarakat. Satu di antaranya minuman segar kemasan botol berisi air perasan jeruk nipis.

Minuman segar khas Kuningan itu, selama ini sudah diproduksi di beberapa tempat dengan merek berbeda. Di antaranya dari dua rumah produksi di Desa dan Kec. Ciawigebang.

Hasil produksinya pun, dalam beberapa tahun terakhir sudah dipasarkan di kios-kios penjual oleh-oleh makanan khas Kuningan. Bahkan sudah menembus atau dijajakan di sejumlah super market, baik di Kuningan maupun luar Kab. Kuningan.

Namun, menurut beberapa pengusaha atau perajin minuman itu, bahan baku berupa jeruk nipisnya, selama ini, masih harus mendatangkan atau membeli dari luar Kab. Kuningan. "Di Kuningan juga ada, tetapi sedikit, tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan produksi," ujar Benhardi.(A-91/A-108)***

Baca Juga

Naik, Harga Sayuran di Tingkat Petani Kuningan

EKONOMI
Naik, Harga Sayuran di Tingkat Petani Kuningan

KUNINGAN, (PRLM).- Harga pembelian beberapa jenis sayuran dari pengepul kepada para petani di Kabupaten Kuningan, pada awal-awal musim hujan ini mengalami peningkatan cukup memuaskan.

Harga Pangan Naik, Inflasi di Tiongkok Meningkat

EKONOMI

BEIJING, (PRLM).- Inflasi barang-barang konsumsi di Tiongkok naik 1,6 persen pada bulan Desember dari tahun ke tahun karena harga bahan pangan naik, menurut data resmi, Sabtu (9/1/2016).

Daging Ayam dari Rp 28.000, Kini Rp 40.000 per Kg

EKONOMI
Daging Ayam dari Rp 28.000, Kini Rp 40.000 per Kg

GARUT, (PRLM).- Harga daging ayam di Pasar Ciawitali, Kabupaten Garut merangkak naik hingga pedagang pun kesulitan untuk menjualnya, bahkan dari sebelumnya harga daging Rp 28.000-Rp 30.000 kini sudah mencapai Rp 40.000 per kilogram.

Pedagang Daging Ayam Berhenti Berjualan

EKONOMI

SOREANG, (PRLM).- Puluhan pedagang daging ayam di Pasar Banjaran, Kabupaten Bandung mulai berhenti berjualan sejak beberapa hari terakhir. Mereka tidak berani lagi mengambil resiko kerugian di tengah tingginya harga ayam hidup yang tak kunjung turun dalam dua bulan terakhir.