Headlines

Situs Gunung Padang Rusak

BANDUNG, (PRLM).- Akibat aktivitas pariwisata, penelitian dan penggalian, kondisi situs Gunung Padang di Desa Karyamukti Kec. Campaka Kab. Cianjur, mengalami kerusakan pada sejumlah bagian. Selain beberapa batu hilang, sejumlah lainnya rusak akibat pergeseran.

Demikian diungkapkan peneliti arsitektur Situs Gunung Padang, Ir. Pon Puradjatnika, bahkan kondisi terakhir situs megalit berusia sekitar 109 abad atau 10.900 tahun SM kondisinya sangat memprihatinkan.

"Selain akibat penlitian, kunjungan wisatawan juga penggalian, yang paling parah akibat kunjungan wisatawan yang rata-rata perminggunya mencapai 7000 orang, bahkan selama libur lebaran kemarin, jumlah pengunjung lebih dari 9000 orang," ujar Pon, saat ditemui di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Jalan RE. Martadinata (Riau) 209 Bandung, Senin (10/9/12).

Dikatakan Pon akibat aktivitas yang dilakukan di Gunung Padang, selain banyak bebatuan yang bergeser atau berubah posisi, juga banyak yang hilang. Kerusakan paling parah pada bagian tangga naik utama, juga di teras kedua serta pondas.

Dikatakan Pon kerusakan yang terjadi saat ini akan mempengaruhi struktur bangunan situs. "Saya heran kenapa pengunjung masih bisa lewat tangga utama ke puncak Gunung Padang, padahal telah disiapkan tangga yang lebih landai melingkar, akibatnya tekanan dari pengunjung yang lewat tangga utama membuat batu tangga terlepas,” ujar Pon.

Selain pada bagian tangga kerusakan juga terjadi pada teras kedua. Batu teras banyak yang hilang dan struktur tanah terjadi penurunan.

Melihat kondisi situs tersebut, Pon mengharapkan pemerintah Pemprov Jabar maupun Kabupaten Cianjur segera menerbitkan Perda Perlidungan kawasan Cagar Budaya untuk situs Megalitikum Gunung Padang. Karena saat ini Pemkab Cianjur hanya mengandalkan peraturan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, sedangkan Perda dari Pemrov Jabar maupun Kabupaten Cianjurnya belum ada.

Hal yang tidak kalah pentingnya menurut Pon adalah aturan kunjungan dengan membatasi jumlah pengunjung yang ingin ke puncak sebanyak 20 orang maksimal satu jam naik turun dan diantar oleh guide. Selama ini pengunjung dibebaskan masuk dan naik ke puncak situs tanpa ada batasa waktu maupun pengunjung.

Kerusakan juga terjadi akibat penelitian dan penggalian yang dilakukan instansi tertentu. Mereka menggali disembarang tempat untuk diteliti, nasil bekasnya tidak dikembali pada kondisi semula. "Untuk penelitian harus terkodinir dari pusat hingga daerah agar bisa dipertanggungjawabkan. Kalau sudah rusak begini siapa yang bertanggung jawab," ujar Pon.

Sementara Kasi Permuseuman dan Purbakala Bidang Kebudayaan, Drs. Eddy Sunarto mengaku pihaknya sudah beberapa kali menerima laporan tentang kerusakan di Gunung Padang ini. Dikatakannya, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Nunung Sobari beserta Balai Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisi akan berkunjung langsung untuk melihat kerusakan disana. "Kami baru akan meninjau ke situs tersebut dalam waktu dekat ini. Mudahan-mudahan kami bisa melihat langsung sejauh mana kerusakan yang terjadi di Situs Gunung Padang," ujar Edi.

Dikatakan Edi, pemanfaatan dan perlindungan kawasan situs tersebut kewenangannya ada di Pemkab Cianjur, Pemprov Jabar dalam hal ini Dinas Pariwisata dan kebudayaan Jabar tidak punya kewenangan mengeluarkan aturan. "Namun jika dilimpahkan ke Pemprov Jabar, tentunya kita siap mengelola, memanfaatkan dan melindungi kawasan situs Gunung Padang tersebut," ujar Edi. (A-87/A-108)***.

Facebook Comments Box