Headlines
Sepakati Tujuh Bidang Penting

AS Memperkuat Hubungan dengan Indonesia

JAKARTA, (PRLM).- Amerika Serikat (AS) terus memperkuat kehadirannya di Asia dan termasuk negara-negara kecil di Samudera Pasifik. Penguatan kerja sama bilateral di berbagai bidang di kawasan Asia dan Pasifik menjadi agenda penting kebijakan luar negeri dari negara adidaya tersebut. Banyak kalangan menilai bahwa sengketa Laut China Selatan dapat menjadi sumbu konflik kontestasi pengaruh antara AS dengan rival barunya di dunia, China.

Hal itu kian kuat mengemuka menyusul kunjungan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton ke beberapa negara di Pasifik dan Asia, termasuk Indonesia. Kepada Indonesia, Ny. Clinton menyampaikan apresiasinya atas upaya Indonesia dalam mendorong terbentuknya Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan. Kegigihan Menlu Marty Natalegawa yang terus melakukan lobi terhadap negara-negara bersengketa di Laut China Selatan disebut-sebut Hillary sebagai langkah terpuji. "Khususnya apresiasi Amerika Serikat terhadap RI yang mendorong Code of Conduct dan penekanan agar masalah ini dapat dikelola dengan baik terutama menjelang KTT ASEAN dan East Asia Summit (EAS) November mendatang," ujar Menlu Marty Natalegawa dalam konferensi pers seusai pertemuan kunjungan kehormatan Hillary Clinton bersama Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jln. Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (4/9).

Kunjungan kehormatan Hillary juga menjadi sinyal untuk menunjukkan hubungan yang makin kuat antara kedua negara kepada Cina. Tujuh bidang penting terangkai dalam kesepakatan kemitraan komprehensif, yaitu kerja sama regional dan global; ekonomi, perdagangan, dan investasi; pendidikan; pembangunan; iklim, lingkungan, dan energi; pertahanan dan keamanan; serta penegakan hukum.

Di bidang kerja sama regional dan global, AS bekerja erat dengan Indonesia untuk melibatkan dirinya dalam ASEAN Regional Forum (ARF) dan East Asia Summit (EAS). Secara tegas, Ny. Clinton mengatakan alasan bergabungnya AS dalam kedua forum itu untuk memperkuat kehadiran AS di Kawasan Asia Pasifik sebagai bagian dari politik luar negeri AS di bawah pemerintahan Obama.

Dukungan bagi Indonesia tak berhenti sampai di situ. Di bidang ekonomi, Ny. Clinton menyampaikan bahwa Amerika Serikat merestui dan mendukung kepemimpinan Indonesia dalam Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) tahun 2013. Hillary mengingatkan tugas dan tanggungjawab Indonesia yang sangat besar ketika mengemban tugas sebagai Ketua APEC.

Selain itu, AS mencoba mendekatkan diri dengan hadir sebagai pemberi bantuan dana dan fasilitas. Melalui Lembaga USAID, AS mengucurkan kredit pinjaman senilai lebih dari 20 juta USD, 83 juta USD bagi pelatihan dan pendidikan guru, dan 20 juta USD lagi untuk beasiswa mahasiswa Indonesia untuk belajar di AS. Pada November tahun lalu, AS juga mengucurkan dana senilai 600 juta USD melalui program The Millenium Challenge Corporation (MCC) untuk investasi di bidang energi terbarukan, nutrisi anak dan ibu hamil, dan modernisasi sistem pengadaan barang.

Di bidang pertahanan dan keamanan, AS menghibahkan 30 pesawat tempur F-16. Sebagaimana diakui oleh AS, hibah ini adalah kerjasama pertahanan antara Indonesia dengan AS terbesar setelah mengalami kebekuan akibat embargo senjata pascareformasi. Belum lama ini, Departemen Antiteroris AS juga melatih 545 anggota Polri di bidang kemampuan melawan aksi terorisme dan investigasi ledakan bom. (A-156/A-147)***

Komentari di Facebook !