Bireun Lestarikan Tari Seudati, Tarik Wisatawan

JAKARTA, (PRLM).- Tari Seudati adalah tarian berasal dari Aceh. Tarian ini merupakan kebanggaan masyarakat Aceh yang berlangsung secara turun temurun. Nama Seudati sendiri berasal dari serapan bahasa Arab, syech atau syahadat. Jadi kata Seudati bisa juga diartikan sebagai kesaksian. Memang selama ini tari Seudati dibawakan sebagai media dakwah.
Untuk melestarikan tari Seudati, Bupati Bireun, H. Ruslan M. Daud berencana akan menggelar Festival Tari Seudati Aceh 2012 pada Bulan Oktober 2012. Event itu juga dimanfaatkan untuk mengembangkan wisata di Aceh khususnya daerah Bireun yang dikenal memiliki banyak kuliner.
Ruslan M. Daud mengatakan, Festival Tari Seudati Aceh 2012 mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Event itu memang bagian dari upaya promosi pariwasta. Sasarannya tidak hanya wisatawan nusantara (wisnus) tapi juga wisatawan mancanegara (wisman). Untuk itu, pada pergelaran nanti akan diundung juga sejumlah negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Myanmar, dan negara ASEAN lainnya.
"Kita memang harus bangga punya seni budaya yang luhur. Namun bangga saja tidak cukup kalau tidak terlibat aktif untuk melestarikannya. Banyak tarian yang ada di Aceh, salah yang cukup dikenal, yakni Seudati. Tarian ini perlu dipromosikan secara luas. Ini juga untuk mengingatkan kepada generasi muda, untuk mau mempelajarinya," tutur Ruslan M. Daud di Balairung Soesilo Soedarman Gedung Sapta Pesona, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.
Ruslan M. Daud mengungkapkan, tarian Seudati awalnya berkembang di daerah pesisir dan menjadi media dakwah saat Islam masuk ke Aceh. Kini tarian tersebut sudah dikenal oleh masyarakat Aceh Utara, Pide, dan Aceh Timur. Ada delapan orang yang membawakan tarian Seudati. Biasanya, tarian ini ditampilkan saat bulan purnama.
"Tarian ini membawakan beberapa gerakan, seperti tepuk tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke tanah, dan petikan jari. Gerakan tersebut mengikuti irama dan tempo lagu yang dinyanyikan. Beberapa gerakan tersebut cukup dinamis dan licah dengan penuh semangat. Ada beberapa gerakan yang tampak kaku, tetapi sebenarnya memperlihatkan keperkasaan dan kegagahan si penarinya," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Promosi Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, M Farid mengatakan bahwa kesenian daerah yang ada di Indonesia mulai banyak diakui oleh negara tetangga. Untuk itu harus ada semangat dari masyarakat Indonesia untuk melestarikan budaya daerah lewat berbagai kegiatan.
"Kita jangan sampai kehilangan budaya sendiri, yang kemudian diklaim negara asing sebagai budayanya. Di sini, masyarakat Indonesia dituntut untuk mau mempelajari buadaya daerah, sehingga kenal dan mau melestarikannya. Yang jadi kendala selama ini, sedikit saja generasi muda yang mau mempelajari budaya daerah," katanya.(Mun/A-147)***
Post new comment