Tenaga Technopreneur Kurang, Produktivitas Nasional Rendah
BANDUNG, (PRLM).- Jiwa entrepreneur bagi teknolog atau peneliti perlu dikembangkan dapat mendorong kemajuan bangsa. Namun, kendalanya saat ini tenaga technopreneur masih kurang yang menyebabkan rendahnya produktivitas nasional dan daya saing usaha kecil dan menengah. Padahal hal tersebut menjadi tulang punggung perekonomian Nasional.
Hal tersebut dikemukakan Deputi Jasa Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonaesi (LIPI) Dr. Fatimah Z Padmadinata dalam sambutan Talkshow Sains Technopreneurship sebagai Solusi Kemandirian dan Daya Saing Generasi Muda dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 di Sabuga ITB, Jln. Tamansari, Kota Bandung, Rabu (8/8/12).
"Kita sebenarnya telah memiliki banyak sarjana sains dan teknologi. Akan tetapi tanpa bekal maupun iklim entrpereneurship bagi para sarjana maka mereka akan lebih memilih mencari kerja di perusahaan atau kantor dengan kesempatan yang terbatas," katanya.
Iklim entrepreneurship bagi para sarjana teknologi dan sains ini menurut Fatimah perlu dibangun. Sistem inovasi nasional dan daerah (SINas dan SIDa) dapat menfasilitasi generasi muda untuk menjadi technopreneur.
"Generasi muda harus diarahkan untuk berani menjadi technopreneur untuk mengelola kekayaan alam Indonesia," ujarnya.
Sementara Menteri Negara Riset dan Teknologi Prof. Gusti Muhammad Hatta mengemukakan tahun 2010 hingga 2035 Indonesia mendapat bonus demografi deviden dengan jumlah populasi penduduk usia produktif mencapai 50 persen atau 120 juta.
Menurut Gusti pendidik generasi muda menjadi entrepreneur atau kewirausahaan sejati tidak mudah. Pendidikan baik formal maupun informal dan budaya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menumbuhkan jiwa entrepreneur di kalangan generasi muda. Ada tiga sikap yang perlu dimiliki untuk entrepreneur sejati yaitu harus memiliki keinginan kuat, semangat menyala-menyala dan percaya diri. (A-208/A-88)***
Post new comment