Peneliti Perlu Dipertemukan dengan Dunia Industri

BANDUNG, (PRLM).- Kementrian Riset dan Teknologi terus berupaya mempertemukan para peneliti dengan dunia industri. Sebab tidak adanya jembatan penghubung menjadi penyebab utama belum maksimalnya penggunaan hasil riset yang dihasilkan peneliti yang bisa diproduksi serta digunakan masyarakat.
"Kemenristek selalu mencoba untuk mempertemukan peneliti dengan industri ini di berbagai kegiatan. Tapi kita tidak mau pertemuan itu habis begitu saja. Inginnya ada follow up. Misalnya produk apa yg dihasilkan peneliti, langsung kita tawarkan di industri. Itu yang kita dukung terus," kata Menteri Riset dan Teknologi Prof. Gusti Muhammad Hatta dalam Pembukaan The Triple Helix International Conference 2012 yang digelar di Hotel Panghegar Jln. Merdeka Bandung, Rabu (8/8).
Hatta menjelaskan, para peneliti tidak memiliki kemampuan untuk memasarkan karena fokus menghasilkan sesuatu. Karena belum bertemu dengan industri, produk-produk yang dihasilkan pun tidak tampak di masyarakat. "Ya harus ada yang menjembatani supaya hasil mereka bisa masuk industri," ucapnya.
Salah satu wadah untuk mempertemukan antara Akademisi Business, dan Government (ABG), kata Menristek, adalah Sistem Inovasi Nasional. Saat ini untuk beberapa produk hasil riset sudah mulai diproduksi. "Misalnya radar dari LIPI, sudah diproduksi oleh PT Inti. Ke depan mobil listrik juga akan kita coba. Kita kasih dulu ke BUMN, nanti baru ke swasta," ungkapnya.
Wadah untuk menjembatani ABG tadi, menurut Hatta, bisa juga melalui bisnis inovation center. Beberapa kali sudah dilakukan pertemuan dan industri sudah mulai tertarik asalkan ada jaminan dan kepastian. "Kita dari peneliti coba improove terus, agar yang dihasilkan prospeknya bagus demi kemaslahatan masyarakat. Sebab secara umum kami ingin menciptakan tiga inovasi, yakni terkait dengan produktivitas, pelayanan, dan perlindungan," tuturnya.
Sementara itu, Rektor Institut Teknologi Bandung Prof. Akhmaloka menuturkan, sebagai akademisi pihaknya juga tidak mungkin bisa mengembangkan sesuatu tanpa kolaborasi dengan pemerintah dan industri. Sebab sulit mengembangkan penelitian tanpa kolaborasi.
"ITB ini institut teknologi. Tidak mungkin mengajarkan dengan baik kalau tidak ada interaksi dengan industri. Selama ini saya juga selalu menyampaikan kepada pemerintah bahwa kita perlu wadah," katanya.
Wadah ini, kata Akhmaloka bisa dalam bentuk inovation park atau sejenisnya yang didalamnya ada industri, akademisi, dan pemerintah. Atau bila memungkinkan di semua kampus ada center of inovation meski tidak harus didalamnya ada pemerintah pusat. "Bisa juga pemerintah daerah masing-masing. Saya kira di komite nasional juga sama memikirkan hal itu juga," ujarnya. (A-157/A-147)***
Post new comment