Kebijakan Satu Anak Telah Mengurangi Populasi Cina Sebanyak 400 Juta
BEIJING, (PRLM).- Lou Xiaoying tidak habis pikir mengapa ada orang tega membuang seorang bayi yang hidupnya masih panjang ke depan. 'Anak-anak ini butuh kasih sayang. Mereka ini sangat berharga," ujar Lou yang saat ini sedang dirawat lantaran sakit ginjal kronis.
Sejumlah alasan dari masalah ekonomi sampai dengan masalah jenis kelamin bayi yang tidak dikehendaki, dilaporkan menjadi salah satu alasan kasus orang tua yang membuang bayi marak di Cina. Bayi-bayi tersebut memang tidak dibunuh, tetapi dengan dibuang ke tempat sampah, itu sama saja dengan membunuh. Kasus seperti ini banyak terjadi di daerah perkotaan dan pemerintah Cina dilaporkan tidak tegas dalam menindak para pelaku pembuangan bayi.
Oleh karena itu, jumlah bayi yang ditelantarkan masih akan terus menghiasi kisah dari negeri Tirai Bambu tersebut. Sementara orang-orang seperti Li sangat jarang ditemukan. Tidak heran, jika ada warga setempat yang berkomentar bahwa dirinya khawatir, banyak bayi akhirnya harus mati di tempat pembuangan sampah karena nyawa mereka tidak terselematkan.
Apalagi dengan masih berlakunya kebijakan satu anak yang sudah diterapkan sejak 1978 itu,warga Cina yang membuang anak perempuannya masih akan terus terjadi. Sebagaimana diketahui, masyarakat Cina sangat patrilineal dan mengutamakan anak laku-laki, kendati sikap ini sudah mulai berkurang di kalangan masyarakat perkotaan. Namun di wilayah pedesaan, masyarakat masih berpikir anak laki-laki adalah yang terhebat sehingga ketika mendapatkan anak perempuan, mereka tega membuangnya. Inilah yang membuat organisasi HAM dunia mengkritik kebijakan satu anak tersebut.
Namun, seperti dilaporkan Daily Mail, Selasa (31/7), pemerintah Cina membela diri dengan mengatakan, penerapan kebijakan tersebut sejak 1978 telah berhasil mengurangi jumlah penduduk di negara itu sebanyak 400 juta orang. (A-133/A-108)***
Post new comment