Harganya Menggiurkan, Warga Pilih Tanam Cengkeh

EKONOMI
ISMAIL (57), warga Cirendang kini berupaya menyediakan bibit cengkeh karena banyak warga yang kembali berminat menanamnya, Selasa (31/7). Tahun 90-an sempat ribuan pohon di Kabupaten Kuningan, ditebang dalam upaya meningkatkan harga.*
TOTO SANTOSA/’’PRLM’’
ISMAIL (57), warga Cirendang kini berupaya menyediakan bibit cengkeh karena banyak warga yang kembali berminat menanamnya, Selasa (31/7). Tahun 90-an sempat ribuan pohon di Kabupaten Kuningan, ditebang dalam upaya meningkatkan harga.*

KUNINGAN, (PRLM).- Sejumlah warga di Kabupaten Kuningan, kini kembali memilih untuk bertanam cengkeh setelah hampir 20 tahun ditinggalkan akibat selalu terjadi fluktuasi harga. Mereka tertarik menaman pohon cengkeh selain arbise (albasia), karena dalam kurun beberapa waktu terakhir ini harganya dinilai menggiurkan.

Adalah Ismail (57), warga Cirendang yang sejak lima tahun lalu kembali menggeluti tanaman cengkeh setelah ribuan pohon cengkeh di sejumlah daerah termasuk di Kabupaten Kuningan, ditebang dalam upaya meningkatkan harga. Bahkan Ismail kini mencoba menanam bibit, karena permintaan cukup banyak sedangkan persediaan bibit masih sulit.

Memanfaatkan lahan berukuran sekitar 15 x 30 meter persegi di daerah Situ Ciarja Kelurahan Cirendang Kuningan, Ismail mampu menyemai bibit cengkeh sampai 4000 pohon dan setelah berumur dua tahun masa tanaman dengan rata-rata memiliki ketinggian 1 meter sampai 1,5 meter, maka bibit tanaman cengkih baru dijualnya.

“Sejak tiga tahun lalu, kami tidak kesulitan dalam pemasaran malah sering kekurangan. Pembelinya selain datang dari Kuningan, juga tak sedikit yang datang dari daerah Ciamis dan Tasikmalaya,” tutur Ismail, saat memeriksa tanamannya di Ciarja, Selasa (31/7/12).

Tapi sekarang, kata Ismail, dengan harga cengkeh rata-rata Rp 83.000,-/kg (cengkeh kering), banyak warga yang tergoda untuk kembali menanam cengkeh. Dari satu pohon yang potensial cengkeh jenis Cencybar, ada yang mampu menghasilkan 2 kuital cengkeh kering atau setara dengan Rp 16,6 juta sekali panen. “Saya sudah tiga kali panen bibit, rata-rata menjual 4.000 pohon setiap panen dengan harga antara Rp 40.000,- s.d Rp 50.000,- per pohon. Menguntungkan bila dibanding tanaman lain,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kab. Kuningan, Ir. H. Dodi Nurochmatudin, MP, menanggapi banyaknya warga yang berminat menanam cengkeh, menyebutkan, Selasa (31/7/12), produk komoditi cengkeh selalu berhadapan dengan masalah naik dan turunnya harga dan hal itu sepenuhnya adalah mekanisme pasar.

“Kami dari BP4K, hanya bisa menganjurkan kepada para petani untuk berusaha sesuai dengan komoditas yang memberikan keuntungan yang paling besar dan sesuai dengan agroklimatnya. Apabila secara teknis petani membutuhkan bimbingan, BP4K siap membantu dan bahkan kalaupun tidak diminta apabila diketahui secara teknis kurang tepat, maka penyuluh akan meluruskan agar berhasil,” tuturnya.

Prospek cengkeh di Kuningan, kata Dodi, sangat baik pada tahun 80-an baik dalam jumlah produksi maupun harga yang diterima petani, bahkan Kuningan termasuk penghasil cengkeh yang diperhitungkan di Jawa Barat. (A-164/A-108)***

Baca Juga

Christine Lagarde: IMF Akan "Gembira" Bekerja Sama dengan AIIB

EKONOMI

WASHINGTON, (PRLM).- Direktur Dana Moneter Internasional Christine Lagarde mengatakan IMF akan "gembira" bekerja sama dengan Bank Penanaman Modal Prasarana Umum Asia (AIIB) pimpinan Tiongkok.

Pemerintah Dorong PT DI Produksi Pesawat N-219

EKONOMI

SOLO, (PRLM).-Pemerintah berencana mendorong PT Dirgantara Indonesia (DI) mengembangkan produksi pesawat terbang seri N-219 untuk melayani penerbangan dalam negeri.

Kraft Akan Bergabung dengan Heinz

EKONOMI
REUTERS/PRLM

WASHINGTON, (PRLM).- Perusahaan raksasa di bidang makanan, Heinz, akan bergabung dengan kelompok usaha makanan Kraft, yang menurut mereka akan membentuk perusahaan terbesar ketiga di Amerika Serikat dalam bidang makanan dan minuman.

Menghasilkan Lima Juta Pekerjaan

Indonesia Bela Penebangan Hutan untuk Kelapa Sawit

EKONOMI

WASHINGTON, (PRLM).- Pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit adalah masalah "teknis" yang seharusnya tidak dikaitkan dengan pembicaraan perdagangan, menurut seorang pejabat dalam konferensi lahan dan kemiskinan.