Dosen PTS Jarang Lakukan Aktivitas Riset
BANDUNG, (PRLM).- Kebiasaan dan iklim kompetisi yang kurang menguntungkan bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) selama ini menjadi salah satu penyebab minimnya hasil riset dan penelitian di kalangan PTS. Sebab dosen PTS harus bersaing secara nasional berkompetisi dengan perguruan tinggi negeri dan seluruh PTS untuk meraih dana-dana penelitian.
"Tapi mulai tahun ini, Dirjen Dikti mengubah kebijakan tersebut. Saya sendiri sangat mengapresiasi kebijakan itu. Dari sebelumnya harus bersaing secara nasional, kini dana-dana penelitian ini dikelompokkan. Untuk swasta dipusatkan di Kopertis di masing-masing daerah, sehingga meningkatkan budaya meneliti di kalangan swasta. Sebab harus diakui riset-riset di PTS ini masih sangat minim. Di samping peralatan yang kurang memadai juga karena kebiasaan meneliti yang masih kurang," kata Prof. Mitra Djamal, dosen Institut Teknologi Bandung yang juga reviewer Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, dalam acara Lokakarya "Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Peneliti" di Universitas Pasundan, Jln. Dr. Setiabudhi Bandung, Jumat (27/7).
Menurut Mitra, dengan perubahan kebijakan ini, PTS semakin diuntungkan. Sebab dosen-dosen dan peneliti di PTS tidak perlu bersaing secara nasional lagi melainkan cukup per wilayah sehingga kesempatan untuk meraih program hibah penelitian akan semakin besar. "Nominalnya bervariasi, mulai dari Rp 5-10 juta, sampai yang Rp 100 juta. Tapi kalau di nasional nominalnya ada yang mencapai Rp 75-1 miliar," ucapnya.
Meski demikian, Mitra berpendapat, kebijakan yang menguntungkan ini harus didukung juga oleh peningkatan kebiasaan meneliti di kalangan dosen. Sebab mayoritas dosen terutama di PTS hanya fokus mengajar, bahkan masih banyak dosen yang sama sekali tidak melakukan aktivitas riset atau meneliti.
"Padahal riset itu memberikan banyak keuntungan. Baik bagi dia sendiri maupun institusinya. Mulai dari kenaikan pangkat, bahan ajar, akreditasi, sampai persyaratan menjadi guru besar pun dari riset ini. Selama ini waktu dosen habis di kelas ngajar, alasannya karena ngajar lebih jelas. Padahal kalau dia fokus juga di riset, hasilnya juga bisa menggantikan apa yang didapat dari mengajar," tuturnya. (A-157/A-147)***
Post new comment