Kloter Pertama Kontingen Besar Indonesia Bertolak ke London
JAKARTA, (PRLM).- Kloter pertama Kontingen besar Indonesia yang berisikan enam cabang olah raga bertolak menuju London, pada Minggu (22/7/12) pukul 00:10 WIB dengan Qatar Air. Keenam cabang tersebut yakni bulutangkis, panahan, renang, menembak, anggar, serta angkat besi.
Dengan enam cabang tersebut, maka total 15 atlet yang kemarin menuju London. Sementara dua cabang lainnya, yakni atletik dan judo yang baru lolos akan menyusul pada kloter kedua pada 25 Juli mendatang. Sayangnya, pada pelepasan kemarin di KOI Tower FX, Jakarta, lantai 19, yang dihadiri oleh Menpora Andi A. Mallarangeng, tidak semua atlet yang akan berangkat berkumpul.
Bulutangkis misalnya, hanya diwakili oleh para pemain latih tanding, sementara para atlet utamanya menurut Wakil Ketua Umum PB PBSI I Gusti Made Oka berangkat langsung dari pelatnas. "Mereka berangkat dari Cipayung langsung ke Bandara. Istirahat dahulu setelah selesai latihan sore, karena perjalanannya panjang," katanya saat pelepasan kontingen, Minggu (22/7/12).
Sama dengan bulutangkis, renang juga tidak terlihat menghadiri acara pelepasan tersebut. Kendati demikian, namun sepertinya hal itu tidak menjadi masalah. Menpora dalam sambutannya menuturkan, bahwa dirinya bangga Indonesia bisa menambah satu wakil lagi dari cabang Judo.
Dia pun mengatakan bahwa regenerasi para atlet Indonesia pun kini sudah mulai berjalan dengan baik, terbukti dengan banyaknya atlet-atlet muda yang ikut serta dalam Olimpiade kali ini. Hal itu dinilainya suatu kebanggaan dan berharap semoga hal ini bisa terus berlanjut pada Olimpiade-olimpiade selanjutnya.
"Misalnya Diaz (Kusumawardani), menembak, yang usianya masih muda 16 tahun. Dia dengan usianya saat ini jika terus menjaga pretasinya bisa seperti Taufik (Hidayat-bulutangkis) yang sudah empat kali ikut Olimpiade dan merebut emas. Mungkin dia, next olimpiade atau dalam dua olimpiade, Diaz bisa mempersembahan emas seperti Taufik," imbuhnya.
Sementara untuk cabor yang menyusul, Andi mengharapkan untuk segera diselesaikan administrasinya dan agar disesuaikan program latihannya dengan jadwal pertandingan.
Terkait dengan ibadah puasa ramadan yang bertepatan dengan pelaksanaan pertandingan olimpiade, Andi meminta agar keputusan puasa atau tidaknya atlet diserahkan kepada atlet dan pelatihnya masing-masing.
"Biasanya dalam hadist kan, kalau bepergian jauh dianggap musafir, kalau tidak kuat puasa diperbolehkan tidak puasa. Masalahnya disana pun waktu puasanya sangat panjang 17 jam. Saya harap hal ini bisa disesuaikan dengan program latihan atlet di sana," ucapnya menambahkan. (A-161/A-108)***
Post new comment