Jumat, 24 May, 2013

Pola Hidup Sehat di Sekolah Belum Optimal

SUBANG, (PRLM).- Penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di sejumlah sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiah (MI) di Kabupaten Subang belum optimal. Indikasinya, fasilitas sanitasi di sejumlah sekolah itu minim.

Pelaksana Seksi Hygiene dan Sanitasi Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, Deni Wiryanto mengungkapkan, sebagian besar SD/MI di Subang belum memiliki sarana sanitasi yang memadai. Kebanyakan SD/MI, menurut dia, hanya memilik dua fasilitas toilet masing-masing untuk guru dan murid.

"Paling banyak hanya 3 toilet, 1 untuk guru dan 2 untuk murid. Itu pun hanya di sekolah-sekolah yang ada di Subang kota, " ujar Deni di sela Lokakarya Hygiene dan Sanitasi Sekolah di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cijambe, Subang, Rabu (18/7). Kegiatan ini dihadiri puluhan guru SD/MI dari 15 kecamatan di Subang.

Deni menuturkan, berdasarkan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) PBB, perbandingan fasilitas toilet di sekolah yaitu 1:25 untuk perempuan dan 1:40 untuk laki-laki. Artinya, jika rata-rata satu SD/MI memiliki 180 murid yang masing-masing terdiri atas 90 murid laki-laki dan perempuan, jumlah toilet minimal 2 untuk laki-laki dan 4 untuk perempuan.

Meski demikian, kebanyakan SD/MI saat ini hanya memiliki 1 unit toilet yang terpadu untuk laki-laki dan perempuan. "Seharusnya dipisahkan, karena selain toilet itu bersifat pribadi, umumnya wanita lebih lama menggunakannya dibandingkan dengan laki-laki" ujar Deni.

Minimnya fasilitas sanitasi di sekolah menyebabkan penerapan PHBS di sekolah tidak optimal. Padahal, keberadaan fasilitas sanitasi dan kebersihan seperti toilet dan wastafel untuk mencuci tangan merupakan indikator penerapan PHBS di sekolah.

Minimnya fasilitas tersebut tidak terlepas dari minimnya anggaran sekolah. Sebab, pengadaan dan perbaikan fasilitas sanitasi tidak tercakup dalam dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang dikucurkan pemerintah. "Sementara jika melakukan pungutan kepada orang tua siswa sudah pasti menimbulkan masalah. Paling solusinya dengan mengandalkan dana CSR dari perusahaan di sekitar sekolah. Itu pun kalau ada," kata Deni.

Mahpudin, Guru SDN Neglasari, Desa Jambong, Kecamatan Pagaden membenarkan kondisi tersebut. Dari 230 murid di sekolahnya, fasilitas toilet untuk murid hanya satu unit. "Itu pun sudah rusak dan airnya mampet. Jadi, siswa terpaksa menggunakan toilet guru," katanya. (A-192/A-147)***

Post new comment

Konten ini di bersifat pribadi dan tidak akan diperlihatkan kepada publik If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Alamat Web dan e-mail otomatis menjadi link.
  • HTML Tag yang diijinkan: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragrap akan di break otomatis.
  • Filtered words will be replaced with the filtered version of the word.

Informasi lanjutan tentang opsi format HTML yang berlaku.

CAPTCHA
.

KOMENTAR