SNI Sebagai Acuan Persaingan Mutu Internasional
NGAMPRAH, (PRLM).- Deputi Informasi dan Permasyarakatan Standarisasi Badan Standarisasi Nasional Indonesia (BSNI), Dewi Odjar Ratna Komala menuturkan, masih terdapat produk pabrikan yang belum terdaftar di Standarisasi Nasional Indonesia (SNI). Padahal, menurut dia, seharusnya produsen tersebut memberikan upaya terbaik bagi konsumen.
Pada era globalisasi, kata Dewi, standar mutu menjadi acuan dalam persaingan perdagangan. Berdasarkan itu, dia menyarankan kepada semua produsen pabrikan agar menguji hasil produksinya ke lembaga penguji mutu seperti, Lembaga Penilaian Kesesuaian atau Lembaga Sertifikasi Produk.
“Perdagangan, telah memasuki era keterbukaan. Produk barang atau jasa dari luar negeri sangat mudah ditemukan di Indonesia. Oleh karena itu, supaya menyejajarkan produk lokal dengan standar mutu internasional, Indonesia menggunakan standarisasi melalui SNI,” kata Dewi saat ditemui seusai membuka acara Jambore Gema SNI 2012 di Bale Seni Barli, Kota Baru Parahyangan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (17/7/12).
Meskipun demikian, ucap Dewi, pengujian standarisasi tergantung dari keinginan produsen. Dia menambahkan, pelabelan SNI bukan suatu keharusan, tetapi sebagai kebutuhan. Soalnya, label SNI berfungsi sebagai pagar untuk menahan gempuran berbagai produk impor.
“Bagaimanapun, Indonesia tidak mungkin membatasi produk impor. Akan tetapi, karena memiliki kualitas sama, saya berharap masyarakat lebih memilih produk lokal dibandingkan impor,” katanya.
Ketika ditanyakan upaya produsen Indonesia untuk melakukan standarisasi, Dewi menyatakan, kesadaran itu masih belum optimal. Meskipun begitu, Dewi menilai, suatu saat produk barang dan jasa akan seluruhnya berlabel SNI. Kondisi itu, menurutnya, karena sebagian produsen belum terbiasa dengan budaya standar.
Agar suatu saat budaya standar melekat dalam masyarakat Indonesia, BSNI menyelenggarakan Jambore Gema SNI 2012 di Bale Seni Barli. Penyelenggaraan acara tersebut diikuti 500 siswa sekolah dasar dari kawasan Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kab. Bandung Barat.
Selain itu, Dewi mengungkapkan, penyelenggaran itu sekaligus menyambut Gerakan Hari Anak Nasional pada 23 Juli mendatang. “Bahkan, acara ini membantu komitmen pemerintah melalui Gerakan Pangan Menuju Gerakan Sehat dari Wakil Presiden Budiono,” tutur Dewi.
Sementara itu, Pimpinan Bale Seni Barli, Nakis Barli menilai Jambore BSNI merupakan kali pertama dilaksanakan di Kota Baru Parahyangan. Pemberian informasi standarisasi kepada anak-anak, menurut dia, sangat bermanfaat untuk menanamkan pemahaman tentang pentingnya standar.
“Sebagai sekolah informal yang bergerak di bidang Iptek dan seni, siswa Bale Seni Barli sering berhubungan dengan cat, kuas, kaca dan sebagainya. Kesemua barang itu, memunyai potensi bahaya jika tidak berlabel SNI. Nantinya, karena telah mendapatkan pengetahuan, siswa dapat memilih barang aman atau berbahaya,” kata Nakis menjelaskan. (CA-12/A-108)***
Post new comment