Bawang Merah Harus Sejajar dengan Beras
CIREBON, (PRLM).-Dewan Bawang Merah Nasional (Debnas) mendesak pemerintah agar bawang merah disejajarkan dengan beras dan menjadi salah satu bahan pokok.
Desakan tersebut disampaikan dalam seminar nasional bawang merah "Optimalisasi Perbenihan guna Menjaga Pasokan Bawang Nasional" yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Selasa (17/7).
Seminar digelar dalam rangkaian kegiatan Jambore Varietas Bawang Merah yang berlangsung Rabu (18/7) di Losari Kabupaten Brebes Jawa Tengah.
Dalam seminar yang digelar kerja sama Bank Indonesia dengan Kementrian Pertanian, sejumlah petani bawang merah yang hadir bahkan menuntut pemerintah memberlakukan harga dasar untuk bawang merah.
Menurut Dewan Bawang Merah Nasional (Debnas) ketua H. Sunarto Atmo Taryono, selama ini bawang merah selalu memberi sumbangan dalam inflasi.
"Bawang merah menyumbang sampai 0,6 dalam inflasi. Ini membuktikan kalau bawang merah merupakan komoditas strategis, yang juga harus diperlakukan sama seperti sembilan bahan pokok lainnya. Bawang merah harus disejajarkan dengan beras," katanya saat tampil sebagai pembicara seminar.
Menurut Sunarto, fluktuasi harga bawang merah yang cukup tinggi, terjadi karena tidak adanya proteksi dari pemerintah. Pemerintah, katanya, selama ini tidak berdaya menghadapi intervensi dan kepentingan partai politik.
"Pemerintah benar-benar menyerahkan harga bawang ke mekanisme pasar. Sementara pasar sangat rentan dengan isu, manipulasi dan permainan," katanya.
Sunarto pesimis, swasembada bawang merah bakal terealisasi tahun 2013 mendatang.
Soal rentannya pasar harga bawang dengan isu dan permainan diungkapkan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunungjati (Unswagati) Cirebon I Ketut Sukanata, yang juga sebagai nara sumber seminar.
Menurut dia, harga bawang selama ini sangat ditentukan oleh segelintir pemain. "Hanya empat orang saja yang jaringannya meliputi Brebes, Probolinggo, Medan dan Kuala Lumpur. Kalau mereka bilang Rp 2.000 ya Rp 2.000, ato sebalinya kalau mereka bilang Rp 8.000 ya Rp 8.000 per kg," katanya.
Sementara itu, Direktur Perbenihan Hortikultura Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementrian Pertanian Sriwijayanti Yusuf mengungkapkan, pemerintah terus mendorong agar swasembada bawang merah 2013 terealisasi.
"Saat ini produksi bawang merah kita sekitar 1,048 juta ton, sementara kebutuhan nasional 1,5 juta ton. Sehingga masih harus impor sekitar 500 ribu ton," katanya.
Dikatakan Yanti, sejumlah upaya dilakukan pemerintah sebagai regulator, agar swasembada bisa terwujud. Di antaranya, dengan terus mendorong petani agar menggunakan bibit yang berkualitas, menambah lahan dengan penyebaran lahan di seluruh pulau yang ada di Indonesia serta bantuan modal.
"Pelaksanaan Jambore Varietas Bawang Merah, merupakan salah satu upaya kami untuk memperkenalkan varietas lain benih bawang merah yang berkualitas," katanya.
Selama ini, katanya, petani cenderung menggunakan dua jenis bibit yakni super philips dan Bima Brebes. "Padahal ada 23 varietas benih yang asli Indonesia yang tahan di dua musim baik kemarau maupun hujan. Nanti petani dari seluruh Indonesia bisa menyaksikan sendiri keunggulan dari 23 varietas itu dari demplot-demplot yang ada," katanya.
Terkait dengan tuntutan masuknya komoditas bawang merah dalam bahan pokok, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tim Ekonomi Moneter Bambang Mukti Riyadi tidak sepakat.
Menurut Bambang, sumbangan bawang merah dalam inflasi karena faktor fluktuasi harganya yang sangat tinggi, bukan karena kebutuhan pokok. "Bawang kan hanya kebutuhan tambahan saja," katanya. (A-92/A-89)***
Post new comment