Akses Penyandang Cacat ke Dunia Industri Masih Sangat minim
BANDUNG,(PRLM).- Paradigma negatif terhadap para penyandang cacat membuat kalangan berkebutuhan khusus ini dianggap merepotkan sehingga keberterimaan di dunia industri masih sangat minim. Padahal dalam peraturan ketenagakerjaan tercantum keharusan industri/instansi untuk memberikan alokasi satu persen untuk kalangan disabilitas ini.
"Paradigma "merepotkan" ini yang salah, padahal tidak. Ketika mereka memiliki keterampilan yang baik, mereka mampu bekerja dengan baik, bahkan lebih baik daripada pekerja normal," kata Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung Noviendi Makalam dalam yang ditemui di sela-sela Diklat Teknis Bidang Hospitalitas Bagi Penyandang Disabilitas di Kampus STP Bandung, Jln. Dr. Setiabudhi Bandung, Senin (16/7).
Di Indonesia, kata Noviendi, jumlah tenaga kerja penyandang disable ini memang masih minim. Dibandingkan dengan negara lain, jumlahnya masih sangat jauh. "Kalau di negara lain jumlah tenaga kerjanya memang terbatas, sehingga kalangan disable ini diterima di dunia industri. Sementara di kita, para pencari kerja yang normal saja masih rebutan, apalagi bagi mereka. Ditambah paradigma perusahaan yang masih enggan menerima mereka," tuturnya.
Oleh karena itu, kata Noviendi, diperlukan peningkatan kompetensi kalangan disable ini agar industri semakin percaya dengan kemampuan yang dimiliki. Sebab ketika para penyandang disabilitas ini memiliki kompetensi apalagi dengan sertifikat yang dapat dipercaya maka industri juga akan membuka kesempatan kepada mereka.
"Pelatihan ini adalah salah satunya. Kita dorong agar mereka memiliki kemampuan yang baik. Program, kurikulum, dan pengajarnya kami yang sediakan. Bahkan ke depan kami ingin menjadi semacam program setara diploma satu. Sebab pasar tenaga kerja termasuk di dinia pariwisata masih terbuka lebar. Tetapi kalau mereka dibiarkan tanpa keahlian ya susah juga," ungkapnya.
Melalui pelatihan semacam ini, Noviendi mengharapkan, konsep education for all benar-benar bisa terwujud. Meski untuk tahap pertama ini baru sekitar 30 orang yang mengikuti pelatihan. "Meski upaya ini kecil tapi minimal kita sudah jalan. Education for all bukan sekedar jargon," ucapnya.
Salah satu peserta diklat, Irpan Rustandi (40) asal Kiaracondong Bandung mengaku dunia kerja dan pola pikir masyarakat masih menganggap penyandang cacat merepotkan. Padahal kalau saja diberi kesempatan, para penyandang cacat ini sebetulnya bisa bekerja sesuai keahliannya.
"Saya sendiri pernah punya pengalaman menyakitkan ketika suatu perusahaan kendaraan bermotor menanyakan sesuatu yang menurut saya tidak penting. Mereka bilang, 'Nanti kalau kamu bekerja bagaimana, harus naik motor dan sebagainya?'," ungkap ayah satu anak ini.
Irpan menjelaskan, setelah lulus kuliah D3 Administrasi Keungan di salah satu perguruan tinggi, dirinya tidak pernah bekerja. Sebab berkali-kali mencoba melamar selalu saja tidak diterima. Akhirnya Irpan memilih membuka usaha warnet meski saat ini usaha kecil-kecilannya itu mulai sepi.
"Pernah mencoba melamar lowongan kerja tahun 1996. Di salah satu operator selular. Sempat testing, wawancara sesi terakhir. Sudah berhasil melampui segala macam test
Ternyata tidak diterima. Tiga bulan kemudian, sebuah perusahaan mencari pekerja khusus penyandang cacat kaki, namun keburu krisis moneter, akhirnya tidak jadi kerja," katanya.
Oleh karena itu, melalui pelatihan di bidang perhotelan ini, Irpan bisa memperoleh kesempatan meski usianya tidak lagi muda. Irpan pun optimis bisa memperoleh pekerjaan dan mampu bekerja dengan baik seperti halnya para pekerja normal.
"Kegiatan di sini membuat saya tertarik. Sebab hospitality adalah bisnis yang mengedepankan panampilan fisik. Tapi ko ingin memberdayakan penyandang cacat. Makanya saya bergabung," ucapnya. (A-157/A-89)***
Asslmkm. Halllo Mas Irfan,
Asslmkm. Halllo Mas Irfan, klo oleh tw Brp No Hpnya Mas Irfan ?
Always on makin heboh,hanya
Always on makin heboh,hanya tri yg bisa buat promo gede-gedean
Semoga hal serupa dapat lebih
Semoga hal serupa dapat lebih ditingkatkan oleh semua sektor, dan para pembuat regulasi agar dapat juga berpihak kepada penyandang disabilitas........agar dunia lebih berwarna ......dengan disetarakannya mereka (penyandang disabilitas ) dalam berbagai hal terutama di sektor pariwisata/hospitality......
woooowwww bagus ini kegiatan.
woooowwww bagus ini kegiatan. jarang sekali ada kampus konsen terhadap penyandang disabilitas.
moga-moga semakin banyak teman-teman kita penyandang disabilitas dilatih oleh STP Bandung dan pada akhirnya terserap di industri kerja.
mari buka mata hati kita,
mari buka mata hati kita, penyandang cacat bukan berarti cacat secara keseluruhan karena semua pasti mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing baik dia normal pun tidak secara fisik
Post new comment