Perjuangan Kontestan MasterChef Indonesia Semakin Keras

SEORANG peserta Lenna mengundurkan diri karena rindu keluarga.*
MUNADY/PRLM
SEORANG peserta Lenna mengundurkan diri karena rindu keluarga.*

JAKARTA, (PRLM).- Perjuangan 27 kontestan menuju 20 besar MasterChef Indonesia semakin keras. Setiap kontestan berusaha memukau dengan masakan yang disuguhkan kepada ketiga juri. Pada kesempatan itu, Chef Master Juna yang absen, digantikan oleh mystery guest, yang merupakan juara MasterChef Indonesia season pertama, Lucky Andreono. Ia hadir dengan membawa tantangan yang membuat kontestan gugup dan cemas.

Signature Dish Challenge, Mystery Box dan Pressure Test adalah tiga tantangan yang dihadapi kontestan kali ini. Sayangnya, salah satu kontestan bernama Magdalena (29, Ibu Rumah Tangga – Jakarta), yang akrab disapa Lenna mengundurkan diri dari MasterChef Indonesia. “Saya mengundurkan diri dari kompetisi, karena saya rindu dengan anak saya,” ungkap Lenna.

Kehadiran sosok pria bertubuh tinggi besar bernama Lucky Andreono di MasterChef Boot Camp, membuat kontestan gembira sekaligus cemas. Kontestan harus menirukan signature dish-nya yang berjudul “Baso Bakar Kuah Rawon”. Masakan andalan dari MasterChef Lucky akan menjadi ujian kemampuan memasak para kontestan. Banyak yang memiliki pengalaman dengan rawon, namun tidak sedikit yang awam terhadap masakan ini. Maka terjadilah berbagai dinamika kesulitan yang menghinggapi kontestan saat proses memasak berlangsung, mulai dari masalah bumbu kluwek, kendala teknis alat memasak, seperti blender dan penggiling daging, manajemen waktu, serta kesulitan membaca resep.

Ketika food tasting, ketiga juri berharap bisa melihat dan merasakan masakan kontestan yang semirip mungkin dari segi rasa dan penampilan, seperti apa yang dicontohkan MasterChef Lucky. Mereka yang gagal menyajikan makanan yang sesuai dengan harapan juri, akan menjalani Pressure Test.

Harap-harap cemas menghinggapi Taufik (29, Manager Supermarket  Bandung), Widya (21, Administrasi Kitchen),  Yetty (34, Pemilik Tour & Travel – Malang), Ogan (35, Karyawan Swasta – Jakarta) dan beberapa kontestan lainnya, ketika Juri memilih masakan mereka untuk dicoba. Komentar positif dan negatif mewarnai proses ini. Mulai dari kekecewaan juri terhadap Rawon rasa Jamu milik Zeze (20, Mahasisiwi – Jakarta) dan Rawon mirip Lulur kepunyaan Hani (23, Penari – Bogor), hingga pujian untuk Taufik.

Tanpa disangka, ketika juri ingin mengumumkan hasil penilaian masakan kontestan, Magdalena (29, Ibu Rumah Tangga  - Jakarta), menyatakan pengunduran dirinya dari kompetisi ini, karena ia rindu pada anaknya. Dengan berat hati, juri, kontestan dan terutama saudara kembarnya, Margaretha (29, Ibu Rumah Tangga  Surabaya) atau akrab disapa Retha, menerima pengunduran diri Magdalena.

Pengumuman pun berlanjut, Juri menyatakan Hani dan Widya, masuk ke Pressure Test. Sedangkan Bagus (29, Tatto Artist – Surabaya) dan Taufik termasuk dua terbaik di tantangan ini. Namun, hanya satu dari mereka yang bisa otomatis lolos masuk ke 20 besar. Taufik akhirnya dipilih oleh juri dan langsung masuk ke 20 Besar, tanpa harus menghadapi challenge berikutnya di episode tiga ini.

Kejutan baru yang menunggu mereka dalam challenge  ini adalah Mistery Box. Dimulai dengan kendaraan Forklift yang masuk ke Boot Camp mengangkut satu kotak raksasa berlogo “M” MasterChef, semakin membuat kontestan penasaran. Ukuran Mystery Box yang besar membuat MasterChef Lucky menyebutnya, “The Mother of Mystery Box”. Juri pun membuka kotak tersebut, yang ternyata berisi bahan-bahan yang siap dibuat masakan. Juri membagi tantangan masak ini dalam enam tim beranggotakan masing - masing empat orang. Setelah juri menunjuk ketua regu, misi pun dimulai. Kepincangan jumlah anggota tim yang hanya tiga orang, karena mundurnya kontestan Lenna, tidak menurunkan semangat juang tim Faisal (21, Mahasiswa - Surabaya),  Adeline (37, PNS – Bandung) dan Vera (23, Designer – Bandung).

Kemampuan bekerja sama antar anggota tim dan kemampuan manajemen sang ketua regu, tak jarang menimbulkan drama tersendiri. Mulai dari karakter ketua tim Faisal yang dipandang rendah oleh anggotanya, hingga tim “extravaganza”-nya Bagus (29, Tatto Artist – Surabaya), Ogan (35, Karyawan Swasta – Jakarta), Widya (21, Administrasi Kitchen) dan Joice (60, Pemilik Event Organizer – Depok). Setiap Tim berupaya membuat t tiga hidangan kreatif dari bahan-bahan yang ada. Ada yang kompak dan ada yang terjebak kebingungan memanfaatkan waktu.

Masing-masing tim menyajikan tiga jenis masakan kepada Juri. Tim Amudi (26, Pelaut – Surabaya) mendapatkan komentar monoton atas masakannya, tidak jarang Juri (Degan, Marinka, dan Lucky) heran akan konsep masakan para tim yang terkesan boros dan bersifat karnaval meriah seperti tim yang diketuai oleh Bagus. Setelah juri mencoba masakan kontestan, saatnya memutuskan  tim manakah yang masuk ke Pressure Test. Tim Amudi dan tim Retha mesti rela masuk ke Pressure Test sedangkan Bagus dan kawan-kawan yang mendapat julukan tim carnival melaju ke 20 besar, menyusul tim Ken (30, Manager Restoran – Surabaya) yang telah masuk lebih dulu. Tim Rachmat yang terdiri dari empat orang diputuskan untuk masuk Pressure Test, dikalahkan oleh tim Faisal yang hanya terdiri dari tiga orang.

Saatnya kontestan menghadapi kenyataan berakhir tidaknya perjuangan mereka di kompetisi ini. Chef Master Degan, Chef Master Marinka dan MasterChef Lucky telah mencoba ragam kue lapis dari kontestan Pressure Test, mulai dari kue lapis yang keras hingga yang begitu lembek. Akhirnya keputusan bulat telah dibuat. Enam kontestan mengakhiri mimpi mereka untuk melaju ke 20 besar. Amudi, Raiha, Retha, Rahmat, Didik dan Yeti harus rela melepaskan apron mereka dan mengucapkan salam perpisahan dari kompetisi MasterChef Indonesia.(Mun/A-147)***