Beli Surat Berharga IMF Dari Cadangan Devisa
JAKARTA, (PRLM).- Indonesia sudah dipastikan menyertakan modal satu miliar dolar AS (Rp 9,3 triliun) pada Dana Moneter Internasional (IMF-International Monetary Fund). Penyertaan modal tersebut dilakukan lewat pembelian surat berharga IMF oleh Bank Indonesia (BI).
"Jika pembelian surat berharga itu dilakukan BI, itu bukan berarti akal-akalan pemerintah agar terhindar minta izin terlebih dahulu ke DPR. Tetapi, dana yang digunakan membeli surat berharga IMF itu berasa dari cadangan devisa yang dimiliki BI. Sehingga, sewaktu membeli, Indonesia memiliki surat berharga IMF satu miliar dolar AS, tetapi di satu sisi itu masih tetap masuk dalam cadangan devisa yang dimiliki BI," kata Gubernur BI Darmin Nasution saat memberikan keterangan pers tentang hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, di gedung BI Jln.Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (12/7/12).
RDG BI memutuskan tetap mempertahankan BI Rate 5,75 persen. Keputusan itu diambil karena BI memandang suku bunga tersebut masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sesuai dengan sasaran inflasi 2012 dan 2013, taitu 4,5 persen plus minus 1 persen.
Menurut Darmin, pembelian surat berharga IMF itu tepat dilakukan BI, karena bank sentral tersebut yang menguasai cadangan devisa 100 miliar dolar AS lebih. Sedangkan jika pemerintah yang membelinya tidak mungkin, karena APBN dipakai dan pergi (habis) dan kemudian tidak ada lagi di APBN (berikutnya).
Darmin menjelaskan, penggunaan cadangan devisa juga biasa dilakukan seperti rencana membeli surat berharga IMF. "Sebagian besar cadangan devisa yang dimiliki BI disimpan dalam bentuk surat berharga. Misalnya, ditempatkan pada surat berharga pemerintah AS, Australia, Kanada, Jerman dan lainnya yang memiliki risiko rendah. Komposisi cadangan devisa dalam bentuk surat berharga itu dalam bentuk berbagai mata uang asing. Tetapi, semuanya (surat berharga itu-red.) masuk dalam cadangan devisa," kata Darmin yang didampingi para anggota DG BI lainnya.
Tentang angka satu miliar dolar AS yang akan ditempatkan di IMF itu, kata Darmin, bukanlah angka yang tiba-tiba muncul. Itu sudah lewat proses, terutama pembicaraan padaa working group IMF. Di IMF itu ada warking group ASEAN, yang kemudian menyepakati angka masing-masing negara. Misalnya, Malaysia, Filipina, Thailand masing-masing satu miliar dolar AS. Indonesia pun kemudian mengikuti angka tersebut. (A-75/A-88)***
Post new comment