Selasa, 21 May, 2013

Pasutri Samiun-Tuti, Lebih Dari 20 Tahun Santap Nasi Aking

ECEP SUKIRMAN/"PRLM"
ECEP SUKIRMAN/"PRLM"
TUTI Turwanti (37) memperlihatkan nasi aking yang biasa ia santap bersama keluarga. Kemiskinan menjadi faktor utama keluarganya tidak mampu membeli beras yang harganya lebih mahal dua kali lipat lebih dari nasi aking yang dijual Rp 4.000 untuk satu kilogramnya , sedangkan harga beras biasa mencapai Rp 9.000 per kilogramnya. Nasi aking seolah menjadi makanan pokok bagi keluarga prasejahtera yang dikaruniai enam anak itu.*

SUMBER, (PRLM).- Menyantap nasi aking, mungkin bukan sesuatu hal yang diinginkan pasangan Samiun (40) dan Tuti Turwanti (37), warga RT 01 RW 01 Blok Karangbaru Wetan Desa Pegagan Kidul Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon.

Kemiskinan, menjadi faktor utama beberapa warga di wilayah pesisir Pantura itu menyantap nasi yang berasal dari sisa-sisa nasi yang tidak termakan kemudian dibersihkan dan dikeringkan di teriknya matahari. Tidak hanya di wilayah pesisir Pantura, beberapa daerah pun terutama di wilayah masyarakat prasejahtera, nasi aking dijadikan makanan pokok pengganti nasi karena tidak mampu membeli beras.

Sejak membina rumah tangga pada 1992, Tuti dan Samiun kerap menyantap nasi aking dibandingkan dengan menyantap nasi biasa. Hingga pasangan ini dikaruniai 6 anak pun, mereka seringkali menyantap nasi aking. Samiun yang menjadi buruh tani musiman dengan upah yang tidak lebih dari Rp 20 ribu satu hari, seakan tidak mampu membeli beras yang saat ini mencapai Rp 9.000 per kilogramnya. Mereka pun memilih nasi aking yang dirasa lebih murah, yakni Rp 4.000 untuk satu kilogramnya. Tuti pun mengaku, keluarganya tidak mampu membeli beras untuk keluarga miskin (raskin) yang harganya mencapai Rp 9.000 untuk 3 kilogramnya.

“Kalau bapaknya anak-anak dapat uang ya beli beras meskipun hanya mampu membeli untuk dua kilogram. Tapi, kalau gak punya uang beli nasi aking, daripada kami kelaparan. Memang ada di desa ada raskin, tapi tetap saja kami tidak sanggup membelinya,” tutur polos Tuti saat ditemui di rumahnya yang berukuran 18 meter persegi itu yang hanya berdinding dari gedek (anyaman yang terbuat dari bilah-bilah bambu untuk dinding rumah), Rabu (11/7/12).

Tidak dimungkiri dalam hati Tuti, dia ingin sekali memberi makan anak-anaknya dengan nasi yang sewajarnya, bukan nasi aking. Sebab, anak-anaknya sering mengeluh menyantap nasi aking karena rasanya tidak seenak nasi biasa. “Memang kalau nasi aking sedikit keras dan tidak ada rasanya, karena itu kan nasi sisa. Tapi mau bagaimana lagi, saya dan suami saya hanya bisa memberi makan nasi aking kepada mereka (anak-anak, red),” ucap Tuti. (A-198/A-108)***

wiiih...ngeri....ini mah

Anonymous's picture

wiiih...ngeri....ini mah pantas pemimpinnya Bupati atawa Gubernur di adzab sama Yang Maha Kuasa....sdh sangat jelas menelantarkan rakyatnya...
Ya kita tunggu saja.....dan lihat bersama apa tindakkan dari Pemimpin kita...masih adakah nuraninya????

subhanalloh kasian

Anonymous's picture

subhanalloh kasian sekali..bersyukur lah bagi kita yg telah diberi kelebihan rejeki..dan jgn pernah lupa untuk berbagi dgn orang2 sekeliling kita yg tdk mampu..

Post new comment

Konten ini di bersifat pribadi dan tidak akan diperlihatkan kepada publik If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Alamat Web dan e-mail otomatis menjadi link.
  • HTML Tag yang diijinkan: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragrap akan di break otomatis.
  • Filtered words will be replaced with the filtered version of the word.

Informasi lanjutan tentang opsi format HTML yang berlaku.

CAPTCHA
.