Diperbanyak, Peserta Magang ke Luar Negeri

JAKARTA, (PRLM).- Pemerintah siap memfasilitasi peserta magangkerja di perusahaan-perusahaan di luar negeri, terutama Jepang. Negeri matahari terbit ini siap menerima peserta magang lagi setelah bangkit dari krisis.

"Program pemagangan menjadi salah satu solusi alternatif dalam mengatasi masalah pengangguran. Bahkan program pemagangan pun menjadi titik awal untuk membuka lapangan kerja baru melalui wirausaha mandiri," kata Menakertrans Muhaimin Iskandar saat membuka Expo Alumni Pemagangan, di Kantor Kemnakertrans, Jakarta, Selasa (3/7).

Pada kesempatan itu, Muhaimin melepas keberangkatan 285 orang peserta pemagangan luar negeri ke sejumlah perusahaan di Jepang, Australia, dan Singapura. Peserta pemagangan itu terdiri dari pemagang ke Jepang sebanyak 237 orang, ke Australia ada 12 orang, dan ke Singapura 36 orang.

Data Kemenakertrans menyebutkan sejak 1993 sampai dengan Mei 2012 tercatat sebanyak 36.481 orang alumni pemagangan luar negeri yang berhasil kembali ke tanah air.

Sedangkan pada tahun 2012, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menargetkan penempatan 2.500 orang peserta magang yang akan ditempatkan di sekitar 700 perusahaan dengan 60 jenis kejuruan.

Dikatakan, selama ini program pemagangan di perusahaan-perusahaan luar negeri diprioritaskan untuk kejuruan di bidang industri, otomotif, tekstil, listrik, manufaktur, mesin dan bangunan.

"Pelaksanaan program pemagangan ke luar negeri ini merupakan salah satu langkah konkrit pelaksanaan konsep link and match, yaitu memastikan dunia pendidikan dan pelatihan agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja, serta mempercepat upaya pengurangan angka pengangguran,“ kata Muhaimin.

Disebutkan, pogram pemagangan ke Jepang dapat membantu tenaga kerja secara cepat terserap di pasar kerja. Karena program pemagangan, memberikan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Ditambahkan, program pemagangan yang menjadi satu kunci dalam membuka kesempatan kerja bagi kaum muda. Program ini dapat mengembangkan keahlian kerja para tenaga kerja muda dan menumbuhkan dorongan kerja, karena pekerja dalam usia ini membutuhkan dukungan, serta arahan yang intensif agar dapat menjadi pekerja yang potensial.

Sementara itu, Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kemnakertrans Abdul Wahab Bangkona menerangkan program pemagangan ke luar negeri selama 3 tahun ini sangat diminati terutama oleh para pencari kerja usia muda yang baru lulus dari pendidikan yang butuh pengalaman kerja.

“Program magang ke luar negeri, khususnya ke Jepang ini terbuka untuk lulusan minimal SLTA atau Sederajat. Para calon peserta magang bisa mendaftarkan diri ke dinas-dinas tenaga kerja setempat.“ kata Bangkona.

Namun, Bangkona menjelaskan para peserta magang itu harus mengikuti seleksi ketat dan lulus dari 8 tahap seleksi yang terdiri dari seleksi administrasi, tes kesemaptaan tubuh, matematika dasar, ketahanan fisik, bahasa Jepang, wawancara, tes kesehatan dan pengurusan passport.

Selanjutnya para calon pemagang harus mengikuti pelatihan pra pemberangkatan selama 2 bulan di daerah ditambah pelatihan di pusat selama 2 bulan. Selama bulan pertama di Jepang pemagang mengikuti masa training atau masa kenshusei, yang artinya “masa berlatih sambil bekerja”. Untuk mendapat surat ijin tinggal dan masuk ke tahap berikutnya.

Sedangkan, program pemagangan bulan ke dua sampai selesai disebut technical intern training atau masa jisshusei yang artinya “praktik kerja”. Pada masa ini peserta sudah dilindungi oleh undang-undang perburuhan di Jepang.

Pada masa kenshusei (masa training selama sebulan), peserta akan menerima tunjangan sebesar 80.000 yen atau sekitar Rp 10 juta (1 yen = Rp 125). Selanjutnya peserta akan menerima tunjangan setiap bulan. Tahun ke 1, jissushei sekurang-kurangnya akan menerima 90.000 yen/bulan, tahun ke 2 sebagai jisshusei sekurang-kurangnya menerima 100.000 yen/bulan. (A-78/A-89)***

Komentari di Facebook !