Saweran Gedung KPK Bisa Bubarkan Negara
JAKARTA, (PRLM).- Pakar hukum tata negara Irman Putrasidin menyayangkan terjadinya ‘saweran’ rakyat untuk pembangunan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena secara kasat mata merupakan sinisme rakyat terhadap DPR dan pemerintah, dan kalau ini dibiarkan bukan saja menuju negara ‘gagal’, melainkan menuju negara ‘bubar’.
Rakyat semakin tidak percaya terhadap lembaga negara seperti DPR RI dan juga pemerintah, yang terbukti tidak mendukung pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh KPK.
“Kalau saweran itu dibiarkan di mana rakyat terus bergerak membantu KPK, berarti negara dan DPR tidak hadir untuk memberi solusi, maka tingkat ketidakpercayaan rakyat akan bertambah besar. Ini akan mengantarkan bukan saja pada negara ‘gagal’, tapi menuju negara ‘bubar’. Sebab, bagaimana kalau nanti untuk mewujudkan kepentingannya, rakyat saweran sendiri?” tandas Irman Putrasidin, dalam diskusi ‘Checks and Balances Lembaga Tinggi Negara’ bersama Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifuddin dan Ketua FPKB MPR RI M. Lukman Edy di Gedung DPR RI Jakarta, Senin (2/7/12).
Sebenarnya menurut Lukman Edy, anggaran Gedung KPK itu sudah ada dalam APBN 2012, dan tinggal dicairkan oleh pemerintah (Menteri Keuangan). “Soal kemudian ada tanda bintang itu, berarti mesti ada lobi-lobi untuk mendapat persetujuan DPR. Tapi, kalau itu tidak diatur oleh konstitusi, maka tanda bintang tersebut mesti ditolak, meski DPR punya hak untuk menerima atau menolak anggaran yang diajukan,” kata Lukman Edy.
Menurut Lukman Edy, munculnya tanda bintang tersebut biasanya karena dokumen pembangunan Gedung KPK itu yang belum lengkap. “Itu kesalahannya di Kemenkeu, kenapa belum lengkap sudah disetujui,” ujar mantan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) itu singkat.
Sebelumnya Wakil Ketua DPR Pramono Anung mendesak pemerintah mencari jalan agar pembangunan gedung KPK itu segera direalisasikan. “Kalau pemerintah memastikan adanya anggaran, tentu Komisi III DPR tak akan terus menahan. Saya melihat saweran yang dilakukan ICW itu sebagai pendorong. Jadi bukan substansi bahwa itu uang untuk membangun gedung baru KPK, tapi semangat antikorupsi yang harus dipelihara dan tak boleh disepelekan," tutur Pramono.
Menurut Pramono, pemerintah bisa memberikan sikap tegas dengan berbicara soal anggaran pembangunan gedung KPK. Dengan demikian tak ada lagi alasan Komisi III menahan rencana tersebut.
"Ya apapun saya termasuk yang berpandangan kebutuhan gedung baru KPK harus disiapkan pemerintah jangan sampai ini menjadi masalah di kemudian hari. Jadi pemerintah bisa segera mengusulkan anggarannya, tentu Komisi III akan menyetujui," katanya.
Sementara itu sampai minggu kemarin, dana saweran masyarakat yang dikumpulkan melalui rekening ICW sudah berjumlah Rp 155.399.902. Sumbangan terbanyak berkisar nominal Rp 100 ribu. Sumbangan sebanyak Rp 115 juta tersebut terdiri dari cek Rp 10 juta, tunai Rp 4.151.600, wesel Rp 184.400 dan sisanya masuk dalam rekening. (A-109/A-88)***
Seolah olah
Seolah olah teraniaya...terasa aneh menurutku...
sekarang lg musim seolah teraniaya
Keberadaan KPK nampaknya
Keberadaan KPK nampaknya semakin disukai para koruptor. Sungguh pandai KPK berwacana, kasus-kasus besar biar berlalu sibuk dengan keluhan dan tuntutan pembangunan gedung, menuntut budget operasional, penambahan pegawai. Nampaknya KPK sekarang lebih suka membidik kasus kasus kelas teri ( kuantitas perkara ). KPK lembaga penegak hukum yang lengket dengan permainan politik dan pandai memainkan peran dengan wacana-wacananya seolah membela kepentingan rakyat. Coba kita lihat, bagaimana indeks korupsi di indonesia, berapa aset negara yg dikorupsi bisa KPK kembalikan kepada negara, apakah putusan2 peradilan tipikor ( KPK ) sudah mampu membuat jera para koruptor atau calon koruptor, janganlah KPK itu ibaratnya sebagai harimau mengaum keras tapi taring-taringnya sudah rapuh sebelum menerkam.
ini bukti bahwa para elit
ini bukti bahwa para elit hanya mementingkan pencitraan, KPK ingin dapat citra dari rakyat bahwa lembaga mereka lembaga yg dijegal oleh DPR dan DPR dapat citra yg tdk baik dari rakyat, padahal yg dapat citra baik belumt tentu baik 100% demikian jg yg dapat citra buruk belum tentu juga buruk 100%, jadi intinya rakyat jangan dijadikan alat, dan rakyat jangan mau terlibat permainan KPK, DPR, partai dll, naum demikan politik itu penting dan mari belajar politik elegan
Post new comment