Taufan, “Anak Muda Mencoba Ideologi Lain”
JAKARTA, (PRLM).- Bangsa Indonesia kini sedang mengalami krisis jati diri. Krisis tersebut menimbulkan kecenderungan untuk mencoba ideologi lain seperti kapitalisme dan sosialisme. Keadaan ini membuat para pemuda ikut galau karena memudarnya nilai-nilai Pancasila dan cenderung mencoba ideologi lain, yaitu kapitalisme dan sosialisme.
“Anak muda galau dengan Pancasila, di antara bahkan ada yang mencoba ideologi lain. Bagi anak muda ini merupakan proses pendewasaan Yang harus dilewati untuk mencapai kematangan,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) Taufan EN Rotorasiko dalam siaran persnya yang diterima “PRLM”, di Jakarta, Senin (2/7/12).
Taufan menjelaskan, persoalan lainnya yang dihadapi para pemuda Indonesia saat ini ialah kurangnya kebanggaan terhadap bangsa dan ketidak percayaan diri saat berhadapan dengan orang asing.
“Kita seperti tidak percaya diri saat berhadapan dengan orang asing. Padahal kita jauh lebih hebat ketimbang mereka,” ujarnya.
Ia berpendapat, masyarakat Indonesia, khususnya kalangan muda mengalami kegelisahan dengan memudarnya nilai-nilai Pancasila itu. Ini bisa dibaca dari berbagai forum diskusi yang diikutinya di berbagai daerah. Dalam berbagai forum diskusi itu, anak muda mempertanyakan mengapa nilai-nilai Pancasila itu memudar sebagai cermin budaya bangsa.
Setiap kali Taufan berkunjung ke daerah, selalu saja ada forum yang memperbincangkan Pancasila. Ia menegaskan, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan dasar negara sudah terbukti menjadi alat pemersatu bagi kemajemukan bangsa. Bersatunya berbagai suku bangsa hingga sekarang tidak lain karena Ppancasila merupakan representasi dari kesatuan budaya, suku, bahasa dan lain sebagainya.
Bahkan, kata Taufan, Presiden AS Barack Obama mengapresiasi Pancasila dengan melaksanakan prinsip-prinsip Pancasila dalam menyatukan dunia. “Ini harus banyak dipahami generasi muda agar tidak galau terhadap Pancasila,” tegasnya.
Menurutnya, pemuda harus memulai menjiwai dan hidup dengan Pancasila. Salah satu unsurnya adalah lebih mengedepankan musyawarah untuk mufakat ketimbang voting.
“Bahasa Indonesia tidak akan disepakati menjadi bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda jika melalui proses suara terbanyak. Namun, dengan musyawarah untuk mufakat terpilihlah bahasa Indonesia. Kenapa sekarang ini segala keputusan harus melalui voting?” katanya bertanya.
Berkaitan dengan itu semua, ujar Taufan, KNPI akan terus mengembangkan nilai nilai Pancasila melalui berbagai forum dan kegiatan, khususnya berkait dengan upaya memupuk dan mengembangkan karakter bangsa dan pemuda. Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi dan pengembalian nilai-nilai Pancasila sebagai pondasi bagi empat pilar berbangsa. (A-75/A-88)***
Post new comment