Moka Majalengka Dituntut Lebih Kreatif
MAJALENGKA, (PRLM).- Mojang jajaka (moka) selama ini terkesan hanya untuk mencari mojang cantik dan jajaka yang tampan dari sisi wajah serta mencetak duta pariwisata yang sebetulnya pengetahuannya mengenai kepariwisataan yang ada di daerahnya sendiri demikian terbatas.
Ke depan moka Majalengka diharapkan lebih cerdas, kreatif dan multitalenta sehingga mampu menguasai berbagai program pembangunan yang ada di daerah dan bisa menjadi juru penerang dari program tersebut, serta dia pun mampu menguasai bahasa Inggris agar bisa berkomunikasi dengan orang luar.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Majalengka Hj.Suratih Puspa meyikapi pelaksanaan pasanggiri mojang dan jajaka yang pendaftaranya dibuka hingga 7 Juli mendatang.
“Moka di daerah kebanyakan hanya bertugas sebagai pagar ayu pada kegiatan seremonial yang dilakukan pemerintah daerah. Ke depan hal tersebut harus dihapus, mereka dituntut untuk memiliki kreativitas, menguasai berbagai program pembangunan di Majalengka serta dia juga bisa menjadi media untuk menginformasikan seni budaya dan pariwisata yang ada di Majalengka. Apa saja pariwisata di Majalengka dan dimana saja lokasinya, bagaimana juga potensi pengembangannya,” ungkap Hj. Ratih.
Beberapa moka terdahulu, kurang begitu banyak menguasai kepariwisataan secara detail dimana saja objek wisata Majalengka adanya, bagaimana sejarahnya. Demikian juga dengan kesenian Sunda, karena memang ada di antara mereka yang belum mengunjungi objek-objek wisata tersebut. Sama halnya dengan program pembangunan Kabupaten Majalengka. Makanya ke depan moka dituntut memiliki kecerdasan, pengetahuan yang banyak serta memiliki kreativitas yang tinggi.
“Ada banyak hal yang akan diujikan pada pasanggiri moka kategori dewasa dan remaja tahun ini. Di antaranya saja publik speaking, tata krama Sunda, keorganisasian, etika diri, teknik guiding, soal kepemerintahan dan kepariwisataan serta penguasaan kesenian dan kawih Sunda. Mereka juga harus mampu berdandan dan menggunakan kebaya Sunda sendiri tanpa ada bantuan orang lain. Jadi yang cantik atau tampan wajahnya dengan tubuh yang tinggi belum tentu menang kalau dia tidak cerdas,” ungkap Hj. Ratih.(C-28/A-147)***
Post new comment