Rusia dan AS Perang Mulut soal Assad
JENEWA, (PRLM).- Kendati para pemimpin dunia sudah menyepakati pembentukan pemerintahan transisi untuk menyelsaikan konflik Suriah, efektifitas rancangan baru tersebut ternyata masih dipertanyakan. Pasalnya, Rusia dengan tegas menolak ide agar Presiden Bashar al-Assad dilengserkan terlebih dahulu. Sementara negara-negara Arab dan Barat meminta Assad harus segera mundur agar pembentukan pemerintahan transisi dapat segera dilakukan.
Dalam hal ini, seperti dilaporkan Yahoo News, Minggu (1/7/12), Menlu Hillary Clinton memperingatkan Rusia, kendati dalam komunike Jenewa tidak disebutkan soal pelengseran Assad, ini tetap akan menjadi bagian dari upaya yang harus direalisasikan. "Assad harus keluar trelebih dahulu," ujar Clinton.
Oleh karena itu, selama Assad masih dilibatkan, Amerika pesimis dengan kemungkinan rancangan baru tersebut akan dapat mengakhiri konflik Suriah.
Sampai saat ini, silang pendapat mengenai apakah Assad masih dibolehkan memainkan peranan politik dalam pemerintahan transisi mendatang atau tidak, masih belum bisa dituntaskan.
Rusia bersikukuh Assad tetap harus dilibatkan, sedangkan negara-negara Barat dan Liga Arab ingin agar Assad tidak diberi lagi posisi politik dalam pemerintahan baru Suriah. (A-133/A-108)***
Post new comment