90 Persen Bahasa Ibu di Dunia Terancam Punah

BANDUNG, (PRLM).- Hampir 90 persen bahasa ibu di dunia terancam punah karena semakin sedikit masyarakat yang menuturkannya. Dari 6.000 bahasa ibu di dunia, hanya sekitar 600 atau 10 persen saja bahasa ibu yang "aman" atau tidak terancam punah.

"Alasannya karena semakin sedikit para penuturnya. Populasi penduduk dunia mencapai 6 milyar. Namun dari 6 milyar populasi tersebut hanya empat persen yang menggunakan sekian banyak bahasa ibu. Mayoritas populasi menggunakan bahasa ibu yang sama. Akibatnya setiap tahun ada saja bahasa ibu yang punah," kata Minda Tahapary, dari Sil Internasional Indonesia, sebuah organisasi pengembangan bahasa dalam Konferensi Linguistik Internasional, yang digelar di Institut Teknologi Bandung, Rabu (27/6).

Menurut Minda, di Indonesia misalnya, berdasarkan hasil penelitian Sil pada 2007 ada 742 bahasa ibu. Sejalan dengan waktu, jumlah tersebut terus mengalami penurunan karena banyak bahasa yang punah. Hingga di 2009 tercatat ada 726 bahasa ibu di Indonesia. "Di beberapa daerah ada yang bahasa ibunya punah secara drastis. Meski ada juga bahasa baru yang muncul. Sayangnya lagi banyak masyarakat kita yang malu menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerahnya," ujarnya.

Minda menjelaskan, Indonesia merupakan negara kedua dengan bahasa ibu terbanyak di dunia. Di atas Indonesia ada Papua Nugini yang memiliki bahasa ibu sekitar 800 bahasa. "Di Indonesia yang terbanyak itu di wilayah timur yakni daerah Papua. Sebelahnya, Papua Nugini merupakan negara terbanyak bahasa ibunya," ucapnya.

Oleh karena itu, menurut Minda, pelestarian bahasa ibu menjadi penting untuk mencegah terus berkurangnya bahasa ibu di Indonesia dan di dunia. Salah satunya melalui pendidikan multibahasa yang diberlakukan di pendidikan terutama di pendidikan dasar atau pendidikan usia dini. Selain menggunakan bahasa nasional, juga mengandalkan bahasa ibu yang merupakan bahasa keseharian anak.

"Karena hasil penelitian menunjukkan anak yang belajar dengan menggunakan bahasa ibu atau bahasa yang dia kuasai sejak kecil memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik dibanding anak lain yang langsung belajar menggunakan bahasa baru," tuturnya.

Minda menjelaskan, dengan pendidikan multibahasa maka akan membangun pondasi yang kuat untuk membangun kemampuan kognitif dan kemampuan berbahasa anak. Pendidikan multibahasa pun akan bisa menjembatani anak untuk mempelajari bahasa kedua dan bahasa lainnya.

"Anak akan maju dan mampu mengembangkan bahasa-bahasa yang ada. Anak pun akan berani bicara karena bahasanya dia kuasai. Berbeda jika pendidikan awal anak dimulai dengan bahasa yang tidak dikuasai anak. Kemungkinan besar anak tidak mampu mengembangkan kemampuan intelektualnya. Sekolah pun akan menjadi tempat yang sulit karena pendidikan dimulai dengan bahasa yang tidak mereka kuasai," ungkapnya. (A-157/A-147)***

Baca Juga

IKA Unpas Mencari Ketua Baru

PALABUHANRATU, (PR).- Ikatan Keluarga Alumni Universitas Pasundan (IKA Unpas) menggelar kongres pertama di Ballroom Inna Samudera Beach Hotel, Kabupaten Sukabumi, Sabtu 27 Agustus 2016. Pembukaan secara resmi dilakukan oleh Wakil Bupati Sukabumi Adjo Sardjono sekitar pukul 16.30 WIB

Ratusan Siswa Diduga Korban Percaloan Datangi SMAN 11 Depok

KISRUH Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Kota Depok terus berlanjut. Ratusan siswa terlantar di SMAN 11 Depok. Mereka diduga sebagai siswa titipan yang menjadi korban praktik percaloan oknum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Riset Potensi Pangan Perlu Perhatian Serius

JAKARTA,(PR).- Riset di bidang potensi pangan berbasis kearifan lokal perlu mendapatkan perhatian serius. Ini karena ancaman krisis pangan dapat diatasi dengan membudayakan kembali pangan lokal, khususnya pangan laut.