Senin, 20 May, 2013

Jelang Lebaran, Permintaan Rajut Binong Jati Naik 50 Persen

BANDUNG, (PRLM).- Menjelang Lebaran 2012, permintaan produk rajut Sentra Rajut Binong Jati naik 50% dibandingkan hari normal. Peningkatan permintaan sudah terjadi sejak beberapa pekan lalu. Saat ini permintaan produk rajut Binong Jati mencapai 1.500 lusin per hari, sedangkan pada hari normal 1.000 lusin per hari.

Demikian diungkapkan Ketua Asosiasi Perajin Rajut Binong Jati, Suhaya Wondo, di Bandung, Senin (25/6). Namun, menurut dia, peningkatan permintaan tersebut tidak secemerlang periode Lebaran dua tahun lalu, sebelum diberlakukannya pasar bebas ASEAN-Cina (ACFTA).

“Sebelum ACFTA, permintaan menjelang Lebaran bisa sampai 3.000 lusin per hari, sedangkan hari normal sekitar 2.000-2.500 lusin per hari. Biasanya, permintaan sudah naik dari dua bulan sebelum Lebaran dan mencapai puncaknya dua pekan sebelum Ramadan,” kata Suhaya.

Kondisi ini, menurut dia, sudah terjadi dua tahun terakhir. Dia mengatakan, tingkat permintaan 2011 pun nyaris sama dengan tahun ini. Selain membanjirnya produk impor sejenis yang berharga miring, ia memprediksi, kondisi itu terjadi karena Lebaran tahun ini berdekatan dengan tahun ajaran baru.

“Pedagang grosir sepertinya tidak berani berspekulasi dengan menyimpan stok terlalu banyak seperti dua tahun lalu. Dua tahun terakhir pasar memang sulit bergerak,” tuturnya.

Seperti diketahui, pasar utama produk rajut Binong Jati adalah Pasar Grosir Tanah Abang, Jakarta, serta sebagian besar dikirim ke Surabaya. Menurut Suhaya, sebenarnya saat ini ada pasar baru yang cukup potensial untuk digarap, namun perajin Binong Jati terkendala modal.

“Selain permintaan dari Pasar tanah abang, sebenarnya menjelang Lebaran ini banyak pedagang dari sejumlah daerah yang datang langsung untuk membeli ready stock. Persoalannya, 90% parajin Binong Jati tidak membuat stock. Umumnya mereka tidak bisa melayani pembeli yang datang langsung,” katanya

Hal itu, menurut dia, tidak terlepas dari kendala modal. Walaupun 90% perajin Binong Jati sudah mengakses kredit perbankan, umumnya kredit mikro. Perajin Binong Jati, lanjutnya, sulit mendapatkan kepercayaan lebih dari perbankan karena performa yang dinilai belum tanggung.

“Pedagang yang datang untuk membeli langsung ke Binong Jati diantaranya datang dari Surabaya, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera. Selain harus kecewa karena tidak adanya stock, mereka juga banyak yang mengaku kesulitan karena umumnya perajin Binong Jati tidak memiliki show room,” tuturnya. (A-150/A-108)***

Post new comment

Konten ini di bersifat pribadi dan tidak akan diperlihatkan kepada publik If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Alamat Web dan e-mail otomatis menjadi link.
  • HTML Tag yang diijinkan: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragrap akan di break otomatis.
  • Filtered words will be replaced with the filtered version of the word.

Informasi lanjutan tentang opsi format HTML yang berlaku.

CAPTCHA
.

KOMENTAR