Kamis, 20 Jun, 2013

Terpidana Teroris Luncurkan Novel Mengenai Jihad

JAKARTA, (PRLM).- Terpidana lima tahun penjara kasus terorisme di Medan, Khairul Ghazali, meluncurkan sebuah novel berjudul “Kabut Jihad” yang diterbitkan oleh Pustaka Bayan Bandung. Selain berkisah tentang kasus perampokan CIMB Niaga Medan dan penyerangan Polsek Hamparan Perak pada 2010, novel tersebut juga berisikan makna jihad dalam Islam menurut sang penulis.

“Ini adalah novel yang saya tulis dalam penjara. Dalam sel tiga kali empat meter, seorang diri, saya memahat kata demi kata,” tulisnya dalam halaman awal novel tersebut.

Meski baru menjalani sekitar dua tahun masa hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta Medan, Khairul Ghazali diberi kesempatan oleh Kementrian Politik Hukum dan Keamanan, melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), untuk hadir di acara peluncuran buku karyanya di Jakarta.

Selain mengisahkan tentang kehidupan di dalam penjara, ia juga menceritakan nasib anak istri pelaku terorisme yang mengalami kesulitan ekonomi dan selalu dicap teroris di lingkungan mereka.

“Dalam buku ini ada penyesalan, karena ada anak-anak yang jadi yatim dan wanita-wanita yang jadi janda. Itu tanggung jawab siapa? Artinya mereka-mereka yang melakukan [aksi terorisme] ini kan anak-anaknya terlantar. Lalu bagaimana menderitanya seorang wanita yang terstigma teroris di kampungnya dan tidak diterima pekerjaan,” kata Khairul.

Khairul juga menuliskan pemikirannya soal makna jihad, yang menurutnya tidak berhubungan dengan merampok dan membunuh. Menurut ayah dari sembilan orang anak ini, Indonesia bukan medan jihad karena masyarakat masih bebas untuk mencari nafkah dan beribadah.

Menyambut baik penerbitan novel tersebut, kepala BNPT Ansyad Mbay mengatakan lembaga yang dipimpinnya itu mengedepankan pola pendekatan secara halus terhadap para mantan teroris, untuk meredam aksi-aksi radikal di masa mendatang.

“Penerbitan buku seperti ini sangat berarti sekali karena merupakan pencerahan. Di Medan, beliau [Khairul] ini dianggap tokoh ideologis oleh para tokoh teroris itu. Kita harapkan lebih banyak lagi tokoh-tokoh yang bisa muncul seperti itu,” ujar Ansyad.

Psikolog dari Universitas Indonesia Sarlito Wirawan Sarwono melihat belum ada skema nasional konsep deradikalisasi yang melibatkan instansi terkait, seperti Kementrian Agama dan Kementrian Sosial. Ia berharap BNPT dapat melakukan koordinasi lintas instansi.

“Deradikalisasi oleh pemerintah dalam bentuk operasional sejauh ini menurut pendapat saya belum ada. Harus ada sebuah skema nasional yang dilakukan secara menyeluruh kemudian lintas instansi untuk melakukan deradikalisasi. Fungsi BNPT sebagai badan koordinasi harus makin ditingkatkan dan diefektifkan,” ujar Sarlito.(voa/A-147)***

Hanya sayangnya novel yg

Anonymous's picture

Hanya sayangnya novel yg begini bagus diseret ke ranah politik oleh pemerintah, dalam hal ini BNPT, untuk kepentingan kanpanyen deradikalisasi. Seharusnya karya sastra mempunyai hak otonomi dan kebebasan yang mandiri, tidak daipasung oleh oleh kepentingan politik sesaat. Sudah seharusnya sastrawan menuntut hak otonomi ini sebagaimana yang dilakukan seniman lainnya dalam hal hak cipta.

Wah, lucu novelnya, penuh

Anonymous's picture

Wah, lucu novelnya, penuh gejolak, derita kemanusiaan sekaligus jihad yang salah. Saya sarankan kepada produser film agar novel ini di filmkan karena bisa menyadarkan jutaan generasi muda kita agar tidak terbelit oleh gurita radikalisme dan anarkhisme jihad yang menyimpang dari syariat. Nilai sastranya cukup bagus, macam negeri 5 menara.

saya kira bagus ini novel

Anonymous's picture

saya kira bagus ini novel untuk bacaan remaja dan generasi muda kita, karena berbasis fakta yang bisa meluruskan kesalahpamahan tentang jihad yang dipromosikan kalangan radikal seperti JAT dll.

Saya baru selesai membaca

Anonymous's picture

Saya baru selesai membaca novel Kabut Jihad. Masya-Allah, saya berdecak kagum melihat cerita 3 peristiwa penting: perampokan bank CIMB, penyerangan polsek Hamparan Perak dan pelatihan militer di Jantho, Aceh. Penulisnya seolah-olah membawa kita turut terlibat dalam peristiwa yang berdarah-darah itu. Sebagai pencinta novel dan pembaca setia jendela sastra, saya mengusulkan agar ada kritisi sastra di media ini untuk meresensi novel tsb. Ini novel fenomenal yang luar biasa!

Saya kira biasa aja novel

Anonymous's picture

Saya kira biasa aja novel ini, kecuali pada bab Barracuda dan Dunia Tanpa Penjara. Dalam dua bab ini penulisnya berhasil memecah kebekuan sastra Indonesia yg selama ini stagnan. Disini ada revolusi pemikiran baru yang menyegarkan sastra kita. Patut dibanggakan karena ditulis dari penjara.

Ini novel bagus dan bisa

Anonymous's picture

Ini novel bagus dan bisa menjelaskan perihal jihad melalui cerita sehingga tidak membosankan bagi mereka yang tak suka baca buku

Post new comment

Konten ini di bersifat pribadi dan tidak akan diperlihatkan kepada publik If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Alamat Web dan e-mail otomatis menjadi link.
  • HTML Tag yang diijinkan: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragrap akan di break otomatis.
  • Filtered words will be replaced with the filtered version of the word.

Informasi lanjutan tentang opsi format HTML yang berlaku.

CAPTCHA
.

KOMENTAR