Kamis, 23 May, 2013

Warga Tolak Penambangan Pasir Besi

TASIKMALAYA, (PRLM).- Puluhan warga di dua kedusunan yakni Dusun Ciheras dan Cipari Desa Ciheras, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, bukan tidak mau mendapatkan tambahan penghasilan dari hasil penambangan pasir besi, melainkan mereka lebih memilih menyelamatkan lingkungan dari kerusakan. Sikap puluhan warga Dusun Ciheras dan Cipari itu mendapat acungan jempol dari anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya.

"Baru sehari, handphone saya berhenti terima sms dan teror dari preman serta pengusaha pasir besi, yang meminta untuk melakukan penambangan pasir besi. Tapi, saya dan warga tetap menolak," kata Kepala Dusun/Desa Ciheras, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Ahmad Sahruri (41), Senin (11/6).

Kepala Dusun bersama segenap warga yang dipimpinnya nekat menolak pengusaha dan penambang pasir besi. Padahal wilayahnya menyimpan kandungan pasir besi yang tidak sedikit dan menjadi incaran seluruh pengusaha pasir besi.
Ketika menjawab pertanyaan Ahmad mengatakan, pihaknya dan warga khawatir lingkungan alam di sana menjadi hancur dan tatanan kehidupan sosial masyarakat terganggu. Sepengetahuan warga, upaya penambangan di sana hanya menyisakan kehancuran dan masyarakat malah akan menjadi materialistis serta individualis, yang hanya mengutamakan kepentingan perut sesaat saja.

"Kalau masalah potensi ekonomi yang hilang dari pertanian itu sudah jelas, namun aspek lingkungan dan tatanan sosial masyarakat yang ikut hancur itu tidak diharapkan. Namun, Alhamdulillah masyarakat di sini semuanya kompak, mereka semua sepakat menolak penambangan pasir besi, walau pun sering menerima teror dan iming-iming uang yang tidak sedikit," jelas Ahmad.

Menurutnya, ada dua kedusunan yang menolak penambangan pasir besi di sana, yakni Dusun Ciheras dan Cipari. Sementara Dusun Cihanura, Cibalanak, dan Lembur Tengah, alamnya mulai hancur, akibat penambangan pasir besi. Kemudian dusun lainnya yakni Cisangar 1 dan Cisangar 2 tidak memiliki potensi pasir besi.

Menurut Kepala Desa Ciheras, Karlin, pihaknya salut kepada masyarakat di Dusun Ciheras dan Cipari, yang begitu berani menolak penambangan pasir besi. Nampaknya warga mengerti jika akibat penambangan pasir besi akan menghancurkan alam. Bahkan upaya reklamasi di bekas galian yang mestinya dilakukan perusahaan, ternyata tidak sesuai seperti yang disepakati dan disosialisasikan di Baledesa sebelum penambangan dilaksanakan.

"Lahan yang telah dilakukan penambangan di sini mencakup beberapa kedusunan dan luasnya sekitar 15 hektar, dengan tiga perusahaan penambangan, dan hanya dua saja yang memiliki izin usaha penambangan (IUP). Dari 88 hektar luas di wilayah Ciheras, sekitar 15 hektar telah rusak," tutur Karlin.

Menurut Karlin, pemerintahan di desanya tidak bisa berbuat banyak saat perusahaan penambangan pasir besi menambang di wilayahnya, karena kebanyakan pemilik lahan umumnya milik pribadi, yang kemudian dijual ke perusahaan. Selanjutnya pada saat izin penambangan telah lengkap dikeluarkan pemerintah daerah, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. "Kendati memang ada retribusi bagi PAD desa pada akhirnya," katanya.

Anggota Fraksi PPP DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Hidayat Muslim mengatakan, pihaknya bangga dengan sikap warga Dusun Ciheras dan Cipari, yang berani menolak penambangan pasir besi dengan alasan kepedulian terhadap lingkungan.
"Oleh karena itu, saya di dewan mati-matian berupaya agar bisa mengalokasikan anggaran pengembangan sebuah pasar tradisional di sana, agar perekonomian masyarakat bisa meningkat, kendati tidak ada penambangan pasir besi yang justru keuntungannya sesaat," kata Muslim. (A-14/A-147)***

Justru hal ini yang perlu

Anonymous's picture

Justru hal ini yang perlu disadarkan di tingkat masyarakat bawah. Penambangan bisa terjadi karena ada keterlibatan oknum masyarakat dan aparat yang justru menjadi ikon simbol keberhasilan.
Oleh sebab itu jika ditinjau secara obyektif, penambangan memiliki dampak positif dan negatif. Justru hal inilah yang seharusnya dapat disinergikan keduanya.
Dampak positifnya adalah perputaran roda perekonomian, sedangkan dampak negatifnya adalah berubahnya bentang alam. Akan tetapi hal ini apabila dikelola secara baik justru menjadi peluang pemberdayaan masyarakat baik dari sisi perekonomian maupun daya nalar terhadap persoalan lingkungan.
Kembali kesemuanya adalah pada rasa memiliki akan alam lingkungan yang ada, sangat disayangkan apabila lingkungan tidak dapat dimanfaat secara optimal demi kesejahteraan bersama. Memang saat ini terjadi penolakan, akan tetapi apabila tingkat kesejahteraan warga tidak mengalami perubahan sangat mungkin terjadi kebalikannya.
Sebenarnya secara politis, baik bupati maupun anggauta dewan juga adalah representatif dari warga masyarakat. Sangatlah tidak bijak untuk mempertentangkan keduanya.

Pa Ahmad Sahruri terimakasih

Anonymous's picture

Pa Ahmad Sahruri terimakasih yach!, hanya bapak yang peduli dengan ini semua, tidak dengan Bupati nya, maupun anggota DPRD nya.Bapak tidak silau dengan sogokan, saya yakin itu.....

Alhamdulilah...akhirnya

Anonymous's picture

Alhamdulilah...akhirnya masyarakat sudah memiliki kesadaran betapa penyelamatan lingkungan sangat penting untuk kelangsungan hidup generasi mendatang. Saya sebagai putra asli Tasikmalaya Selatan merasa bangga dan mendukung penuh sikap masyarakat, termasuk segelintir anggota DPRD Kab. Tasikmalaya yang masih punya hati nurani, dan menganggap bahwa Pantai Selatan Tasikmalaya merupakan bagian dari wilayah Kab. Tasikmalaya.

Post new comment

Konten ini di bersifat pribadi dan tidak akan diperlihatkan kepada publik If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Alamat Web dan e-mail otomatis menjadi link.
  • HTML Tag yang diijinkan: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragrap akan di break otomatis.
  • Filtered words will be replaced with the filtered version of the word.

Informasi lanjutan tentang opsi format HTML yang berlaku.

CAPTCHA
.

KOMENTAR