Petani Tebu Optimistis Hasil Giling Lebih Baik

EKONOMI

BANDUNG,(PRLM).- Memasuki musim giling, petani tebu Jawa Barat optimistis hasil giling tahun ini akan lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Hitungan awal mengenai kadar kandungan gula (rendemen) dinilai cukup tinggi.

“Analisa pendahuluan dengan menggunakan mesin giling kecil, ada yang rendemennya sampai 8,2 persen, minimal nanti di pabrik gula bisa 7,2 persen,” kata Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Barat, Haris D. Sukmawan, Selasa (29/5).

Dituturkannya, angka hitungan tersebut lebih baik dengan hitungan serupa yang dilakukan tahun lalu. Menjelang musim giling 2011, analisa awal rendemen hanya sekitar 7 persen.

Kemudian setelah masuk ke pabrik gula, rendemen hanya sekitar 6 hingga 6,2 persen. Dengan demikian, hasil tahun ini diyakini akan lebih baik.

Selain rendemen, dia mengatakan, analisa pendahuluan juga menghitung panjang batang tebu 2.87 meter, berat batang tebu per meter 0,56 kg, dan diameter batang tebu 2,58 cm.

Kondisi fisik tebu seperti ini juga menjadi salah satu landasan optimisme petani tebu rakyat. Tahun lalu, fisik tebu tidak terlampau baik, karena berkaitan dengan iklim.

“Tahun lalu kan curah hujan sangat tinggi, sedangkan tahun ini tidak. Jadi dari sisi fisik, tebu sekarang lebih baik,” ujarnya.

Untuk tebu rakyat, luas areal tanaman tebu yang akan digiling tahun ini sekitar 8.400 hektare. Dia mengatakan, secara bertahap sejumlah pabrik gula (PG) sudah memulai penggilingan, diawali dengan PG Jatitujuh pada Sabtu (26/5), kemudian dilanjutkan secara bertahap pada awal Juni ini di PG Sindang Laut (1/6), PG Karang Suwung (7/6), dan PG Tersana Baru (11/6).

Lebih lanjut dia mengatakan, tingginya rendemen ini menjadi tumpuan kesejahteraan bagi para petani tebu. Pasalnya, harga pembelian pemerintah (HPP) gula kristal putih yang ditetapkan pemerintah dianggap belum sesuai dengan hitungan ideal versi petani.

Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 28 tahun 2012 menyebutkan, HPP gula kristal putih sebesar Rp 8.100 per kg. Sementara hitungan versi petani tebu rakyat melalui APTRI pusat, idealnya HPP berada di kisaran Rp 9.250 per kg.

Pada 2010 HPP ditetapkan sebesar Rp 6.350 per kg, sedangkan harga rata-rata lelang sebesar Rp 8.723 per kg, kemudian harga eceran di pasaran sebesar Rp 10.090 per kg. Pada 2011 HPP Rp 7.000 per kg, harga rata-rata lelang petani Rp 8.142 per kg dan harga pasaran Rp 10.144 per kg.

Dia mengatakan, masih belum sesuainya HPP dengan harapan petani ini bisa terbantu jika rendemen tinggi. Meski HPP tidak terlampau tinggi, pendapatan sekaligus kesejahteraan petani akan bertambah jika rendemen hasil giling bisa lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Jika dianggap berhasil, pertanian tebu rakyat tahun depan akan terus melaju.

“Petani akan melihat dulu hasil sekarang. Kalau dianggap baik, tahun depan jumlah petani tebu dan luas panen tentu akan bertambah,” katanya. (A-179/A-89)***

Baca Juga

Jokowi Disurati, Pertanyakan Penerimaan Pajak 2015

EKONOMI

JAKARTA, (PRLM).- LBH Pajak dan Cukai telah mengirimkan surat kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) berkaitan dengan adanya dugaan data bodong atas penerimaan pajak tahun 2015 lalu.

Pedagang Daging Ayam Berhenti Berjualan

EKONOMI
TOMI menunjukan ayam potong yang beratnya hanya 1,2 kg di kandang lokasi pemotongannya di komplek Pasar Cigasong, Kelurahan Cigasong  Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka, Senin (11/1/2015).*

MAJALENGKA,(PRLM).- Beberapa pedagang daging ayam di sejumlah pasar di Kabupaten Majalengka terpaksa berhenti berjualan karena terus melonjaknya harga daging ayam hingga mencapa Rp 42.000 per kg serta minimya pasokan dari para peternak ayam.

Perhutani akan Buka 1.200 Ha Lahan Tumpangsari

EKONOMI

SUMEDANG, (PRLM).- Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sumedang, tahun 2016 ini akan membuka lahan tumpangsari di kawasan hutan untuk dimanfaatkan oleh para petani Masyarakat Desa Hutan (MDH) binaan Perhutani.

Gubernur Jawa Tengah Ajak Warga Kembangkan Sayur Organik

EKONOMI

SOLO, (PRLM).- Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, minta masyarakat di perkampungan mengembangkan usaha produktif, di antaranya dengan bercocok tanam sayur-mayur organik di pekarangan.