Pepes Jambal Walahar Dimulai dari Warung Kecil
KARAWANG, (PRLM).- Popularitas pepes jambal Walahar tidak terlepas dari nama H. Dirja dan istrinya Hj. Siti Kurnia. Sepasang suami istri tersebut boleh dikatakan sebagai orang pertama yang memperkenalkan pepes jambal Walahar kepada khalayak.
Pada tahun 1985 silam Dirja dan Siti Kurnia yang ketika itu masih menjadi buruh tani mencoba peruntungan dengan berdagang nasi di tepi Bendungan Walahar, Kecamatan Klari, Karawang. Ketika itu Dirja mendirikan warung kecil dengan bahan dasar bilik bambu.
Sebagai lauk nasi Dirja dan Siti mencoba menjajakan pepes jambal yang memang bahan bakunya mudah di dapat di tempat itu. Awalnya, dagangan Dirja hanya ditujukan bagi kaum buruh dan pelancong kecil yang mendatangi Bendungan Walahar.
Tak dinyana, dalam kurun waktu yang tak terlalu lama dagangan Dirja terutama pepes jambalnya banyak diminati oleh pengunjung bendungan. Bahkan seriring dengan tumbuhnya industri di sekitar Bendung Walahar, warung nasi milik Dirja semakin ramai dikujungi orang.
“Yang makan di warung nasi paman bukan hanya kaum buruh dan pelancong kecil. Para Supervisor pabrik bahkan kalangan direkturnya banyak yang mencicipi menu pepes jambal di warung ini,” ujar Hj. Onih, pengelola warung yang juga keponakan H. Dirja itu.
Sejak saat itu, sambung Onih, pepes jambal H. Dirja semakin terkenal. Orang yang pernah merasakan kelezatan pepes jambal di warung tersebut mencoba berbagai kenikmatan dengan mengajak kerabatnya makan di tempat H. Dirja. “Karena letak warung persisi berada di Bendung Walahar. Orang yang datang kemudian menamakan pepes jambal H. Dirja dengan sebutan pepes jambal walahar,” ujar Onih.
Dikatakan, perkembangan warung pamannya itu semakin hari semakin pesat. Karena pegunjungnya terus bertambah, Dirja kemudian membeli sebidang tanah yang berada di belakang warungnya itu. Kini tempat makan H. Dirja cukup luas. Namun demikian, pemiliknya tetap mempertahankan konsep tradisionalnya. Sebagian besar bangunan berada di tempat tersebut didirikan dengan tiang kayu dan bilik bambu.
Ada tiga bangunan yang kini dikembangkan H. Dirja. Tempat pertama berada paling depan yang merupakan tampat makan utama dengan tempat duduk dari kuris. Kemudian bangunan kedua yang terletak di sebelah bangunan utama. Di tempa ini, pengunjung bisa menikmati hidangan dengan cara lesehan tapa kursi. Sementara bangunan ke tiga berupa saung-saung yang dibangun di bawah pohon-pohon yang rindang pada bagian belakang tampat makan itu.
Seiring berkembangnya bangunan, menu yang disajikan H. Dirja pun mulai variatif. Selain pepes jambal, disediakan pula aneka pepes lainnya, seperti pepes ayam, pepes oncom, pepes tahu, pepes teri, pepes ikan mas, pepes peda, ikan bakar dan ayam bakar. Meski begitu pepes jambal tetap yang palig laris dan banyak diminati pengunjung. “Khusus pepes jambal, sehari bisa terjual satu kwintal jambal. Itu pada hari bisa. Kalu hari libur bisa menghabiskan dua kwintal ikan jambal,” tutur Onih.
Dikatakan juga, kendati warung makan H. Dirja telah popular, namun harga makanan ditempat itu tetap tidak berubah. Satu bungkus pepes jambal hanya dijual Rp 5.000,00/bungkus. Harga tersebut berlaku bagi pepes-pepes lainnya seperti pepes teri, jamur, tahu, dan oncom, kecuali pepes ikan mas yang dibandrol Rp 25 ribu/bungkus.`Sementara nasi timbel dijual Rp 5.000,00/bungkus, es kelapa muda Rp 8.000,00/gelas dan es jeruk Rp 7.000,00/gelas.(A-106/A-147)***
Post new comment