Miniatur Angklung Terbuat dari Limbah Bambu

SENI BUDAYA

NGAMPRAH, (PRLM).- Bagi kebanyakan orang, limbah merupakan benda yang tak berguna. Selain mencemari lingkungan, limbah hanyalah sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis. Namun, bagi Nursofik (35), limbah justru menjadi ladang penghasilannya.

Berawal dari kecintaannya terhadap seni, warga Kp. Ciawitali, Desa Mandalasari, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat itu berkeinginan untuk membuahkan karya meski dengan modal materi yang terbatas. Dengan memanfaatkan limbah bambu hitam dan bambu tali yang tersedia di kampungnya, dia mencoba berkreasi dengan bakat seni yang dimilikinya.

Dengan tangan kreatifnya, pria asal Tegal, Jawa Tengah ini menyulap limbah bambu menjadi miniatur angklung. Replika alat musik bambu khas Jawa Barat itu dibuat sedemikian rupa hingga menyerupai bentuk aslinya.

"Limbah bambu di kampung ini jumlahnya melimpah. Sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan," katanya saat ditemui belum lama ini di tempat produksinya, RT 1 RW 12 Kampung Ciawitali, Cikalongwetan.

Membuat miniatur angklung, bagi Nursofik, gampang-gampang susah. Gampang karena tinggal meniru model aslinya. Susah, tentu karena ukurannya lebih kecil sehingga membutuhkan ekstraketelitian.

Mula-mula, limbah ranting bambu dikeringkan di bawah terik matahari untuk mengetahui kualitasnya. Bambu yang terpakai kemudian diamplas hingga permukaannya halus. Lalu, bambu tersebut dipotong-potong dengan ukuran 8-10 cm kemudian dilubangi di beberapa bagian untuk standar dan rangka angklung.

Berebeda dengan angklung sungguhan, miniatur angklung tidak membutuhkan harmonisasi nada sehingga pembuatannya lebih sederhana. Meski demikian, kenyataannya tidak sesederhana yang dibayangkan karena dalam pembuatannya tentu harus melibatkan rasa dan sentuhan seni. "Yang paling susah adalah mengikat angklung dengan tali rotan. Selain harus kuat, ikatan itu juga harus rapi dan jangan sampai ada goresan," kata Nursofik.

Itulah sebabnya, pengikatan dan penyelesaian miniatur angklung masih ditangani Nursofik sendiri. Sebelas pekerjanya yang merupakan para pemuda daerah setempat hanya membantunya hingga tahap pemotongan dan penghalusan bambu.

Untuk satu set miniatur angklung, dia membandrol harga Rp 25.000,00-Rp 35.000,00 bergantung pada ukurannya. Semakin kecil ukurannya, semakin mahal pula harganya. Selain dijual per set, dia juga menjual satuan yang bisa dipakai untuk pin dengan harga Rp 2.500,00.

Layaknya kebanyakan industri rumah tangga, produk Nursofik masih terkendala pengemasan dan pemasaran. Media promosi hanya dari mulut ke mulut dan memanfaatkan situs jejaring sosial. Meski demikian, upaya itu cukup membuat karyanya diminati oleh sejumlah toko souvenir di Lembang dan Kota Bandung bahkan hingga ke Batam.

“Saat ini, kami juga tengah membuat lima ratus set angklung yang telah dipesan dari salah satu toko suvenir di Kota Bandung,” ujar Nursofik. (A-192/A-147)***

Baca Juga

Festival Seni dan Budaya Islam

SENI BUDAYA

Patung Discobulus: Yunani, Nazi, dan Tubuh Indah

SENI BUDAYA

ROMA, (PRLM).- Nazi Jerman kerap terinspirasi oleh karya seni periode klasik, tetapi ada satu patung Yunani Kuno yang membuat Adolf Hitler terpesona, laporan Alastair Sooke.

Bahasa Daerah Hilang, Seni Pertunjukan Terancam

SENI BUDAYA
‎KEPALA Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat Nunung Sobari (kelima kanan) berfoto bersama usai membuka workshop bahasa dan sastera daerah di Sawangan, Depok, Selasa (5/5/2015). Acara diikuti generasi muda dan mahasiswa sampai Kamis (7/5/2015).*

DEPOK, (PRLM).- Bahasa Melayu Betawi bukan bahasa yang mati. Bahasa Melayu Betawi adalah bahasa daerah yang harus terus dihidupkan keberadaannya. Bila tidak, bukan hanya bahasa yang akan punah tetapi seni pertunjukkan pun akan punah.

Festival Seni Pasir di Vientiane, Laos

SENI BUDAYA