Penggalian Kembali Gunung Padang Resahkan Warga

JAWA BARAT
SITUS Megalitikum Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. Penggalian kembali di situs tersebut mengundang keresahan warga, Budayawan Cianjur, dan pemerhati lingkungan di Cianjur.*
WILUJENG KHARISMA/PRLM
SITUS Megalitikum Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. Penggalian kembali di situs tersebut mengundang keresahan warga, Budayawan Cianjur, dan pemerhati lingkungan di Cianjur.*

CIANJUR, (PRLM).- Penggalian kembali di Situs Megalitikum Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur yang dilakukan sekitar tiga hari lalu mengundang keresahan warga, Budayawan Cianjur, dan pemerhati lingkungan di Cianjur. Mereka khawatir situs Gunung Padang hanya akan dijadikan sebagai sebuah komoditas untuk kepentingan yang tidak jelas peruntukannya. Bahkan mereka masih mempertanyakan ijin penggalian tersebut.

“Meski sudah pernah diadakan ekspose dalam melakukan penelitian di Gunung Padang, namun kami belum jelas menangkap mau diapakan Gunung Padang ini dan untuk apa penelitian ini nantinya. Kegiatan penggalian ini terkesan sangat dipaksakan," ucap Koordinator Simpul Bogor Depok Puncak Cianjur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat Eko Wiwid, Jumat (18/5/12).

Eko menuturkan tim peneliti Gunung Padang seperti tidak mempedulikan kearifan lokal dengan melibatkan masyarakat, seniman, ataupun budayawan mengenai arah dan tujuan penggalian ini. "Banyak yang sudah mengeluhkan ke kami. Penggalian ini nantinya untuk apa?. Artinya selama ini masyarakat tidak pernah tahu tujuan kegiatan penggalian tersebut,” ujarnya.

Tim penelitian Gunung Padang yang dipimpin Staf Kepresidenan Bidang Sosial penelitian dan Bencana Andi Arif rencananya akan melakukan penggalian hingga tanggal 30 Juni 2012. Kabarnya, bukan hanya arkeolog saja yang ikut terlibat dalam penggalian kali ini, tetapi juga ada tim geolog, sejarawan, dan beberapa tim ahli lainnya.

"Hingga kini kami, para pemerhati lingkungan dan budayawan lokal masih belum mengerti sedarurat apa penggalian Gunung Padang harus dilakukan. Dari awal kami melakukan protes karena mereka seperti tidak melihat ada kearifan lokal disana," katanya.

Padahal, kata Eko, di Cianjur masih banyak budayawan dan sejarawan yang bisa diajakan komunikasi duduk satu meja. Namun, mereka hanya melakukan koordinasi di tingkat birokrat atau pemerintahan. "Kami bukannya menolak tanpa alasan. Namun, harus jelas dulu arahnya. Apalagi penggalian ini dikhawatirkan akan merusak benda-benda cagar budaya,” tuturnya.

Hal serupa juga diungkapkan Budayawan Cianjur, Abah Ruskawan. Ia mengatakan seharusnya dilakukan analisis dan pemetaan mengenai potensi kerusakan Cagar Budaya jika Gunung Padang digali. Pemetaan tersebut dilakukan di zona-zona di kawasan situs Gunung Padang. Hal ini penting dilakukan agar tidak terjadi kerusakan cagar budaya.

“Sampai saat ini belum diketahui mana zona inti atau zona penyangga di kawasan Gunung Padang. Termasuk juga berapa luas zona inti atau penyangga. Kami meminta agar penggalian dihentikan sebelum diketahui pemetaan zona dan luasannya, ucapnya.

Lebih lanjut Abah mengatakan kecewa dengan sikap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar yang terkesan lebih mementingkan penataan ketimbang melakukan kajian di situs Gunung Padang. Padahal, dari hasil kajian bisa ketahui mana kegiatan yang mesti dipriotitaskan di Gunung Padang.

"Cagar budaya itu bukan seperti benih padi ketika saat ini gagal panen bisa kembali ditanam kembali pada masa tanam berikutnya. Jika benda-benda cagar budaya rusak, apakah bisa diganti lagi pada tahun berikutnya?. Jangan hanya untuk kepentingan yang belum jelas peruntukannya, nilai sejarahnya rusak," tuturnya. (A-186/A-108)***

Baca Juga

Pawai Budaya Meriahkan HUT ke-16 Kota Depok

JAWA BARAT
WARGA dari masing-masing perwakilan kecamatan, ikut menyemarakan pawai budaya dalam rangka HUT ke-16 Kota Depok.*

DEPOK, (PRLM).- Kepadatan arus lalu lintas terjadi di Jalan Raya Margonda, Sabtu (25/4/2015), seiring diselenggarakannya pawai budaya dalam rangka menyambut HUT ke-16 Kota Depok yang jatuh pada 27 April 2015.

Jembatan Ambruk, Satu Tewas

JAWA BARAT

MAJALENGKA,(PRLM).- Jembatan Cisambeng sepanjang kurang lebih 15 m dengan lebar 3,5 m yang menghubungkan Desa Wanajaya-Desa Ranji, di Desa Wanajaya, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka ambruk seketika ketika hujan gerimis yang terjadi Minggu (26/4/2015).

Pengetahuan Petugas Lapas Terhadap Narkoba Masih Lemah

JAWA BARAT

TASIKMALAYA, (PRLM).- Terkait maraknya peredaran narkoba di Lapas Anggota Komisi III DPR RI, Ahmad Zacky Siradj, merasa perihatin.

Tamu tak Dikenal Tewas Mendadak di Rumah Warga

JAWA BARAT

TASIKMALAYA, (PRLM).- Warga dihebohkan dengan sesosok mayat laki-laki tanpa identitas yang ditemukan dipelataran rumah warga di Kampung Sangkali RT 02 RW 02 Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Cilembang Kota Tasikmalaya, Rabu (29/4/2015).