Keily Setiawan Menjadi Penulis Termuda “iTunes” Dunia

KEILY Setiawan, penulis termuda “iTunes” dunia,  saat diperkenalkan kepada wartawan di Kampus SWA (Sinarmas World Academy), BSD City, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Jumat (11/5).
AGUS IBNUDIN/”PRLM”
KEILY Setiawan, penulis termuda “iTunes” dunia, saat diperkenalkan kepada wartawan di Kampus SWA (Sinarmas World Academy), BSD City, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Jumat (11/5).

JAKARTA, (PRLM).- Keily Setiawan, siswi kelas IV sekolah dasar di Sinarmas World Academy (SWA) BSD City, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten menorehkan prestasi, yakni menjadi salah satu penulis independen termuda dunia melalui buku “iBook” yang berjudul “Chen-Chen Goes to Space”.

Keily diperkenalkan kepada jajaran wartawan di Kampus SWA di BSD City, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Jumat (11/5/12). Buku cerita bergambar itu diterbitkan secara online oleh produsen komputer Apple dan didistribusikan di 32 toko iTunes stores seluruh dunia pada 28 April 2012.

Menurut keterangan, aplikasi software terbaru dari Apple bernama “iBook Author” diluncurkan pada Januari 2012 lalu bersamaan dengan aplikasi lainnya, termasuk “Book Creator” yang digunakan Keily untuk membuat “iBook”-nya.

Ini menyediakan media baru yang unggul kepada generasi muda dan para guru, membuat mereka mampu untuk menulis buku-buku multimedia yang cangih dan menyebarkannya kepada pembaca di seluruh dunia.

“Tidak hanya sebuah teknologi baru, tetapi belajar bagaimana menerbitkan sebuah iBook adalah suatu pengalaman baru untuk sekolah juga,” ujar guru teknologi informasi di SWA, Jane Ross.

Belum lama ini, Jane tercatat sebagai salah seorang guru dari sekelompok guru yang terpilih di Asia yang diundang untuk mengikuti pelatihan lanjutan mengenai software terbaru di Bangkok, Thailand.

Buku “Chen-Chen Goes to Space” ditulis oleh Keily dalam dua bahasa, yaitu Mandarin dan Inggris, dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang dibuat oleh Keily sendiri.

Pada usianya yang baru 9 tahun (lahir 10 Desember 2002), Keily dengan bahasa Inggris yang lancar menuturkan bahwa buku tersebut ditulis sebagai hadiah ulang tahun pertama adik laki-lakinya, Kenzo.

Dia mengatakan, memilih karakter kelinci sebagai tokoh utama pada ceritanya karena shio (Chinese zodiac) adiknya itu dilambangkan dengan kelinci.

Jane Ross yang juga merupakan salah satu Apple Distinguished Educators dari tim SWA, dan seluruh pihak sekolah sepakat bahwa karya ini bisa diterbitkan. Dan, dengan seizin orang tua Keily, yaitu Thomas Setiawan dan Linda Salim, karya ini kemudian didaftarkan ke Apple.

Pimpinan sekolah John McBryde menuturkan, keunggulan siswa-siswi dari segala usia untuk bisa menerbitkan atau mempubliksikan eBook tidak bisa ditekan dan jauh melampaui dari arti pentingnya pendidikan literasi dan teknologi. Karena hal itu mengajarkan kemampuan untuk berpikir lebih tinggi, seperti penalaran dan logika, pemecahan masalah, dan kualitas seperti dedikasi, kegigihan, dan perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan.

“Ini merupakan sebuah contoh yang sangat bagus tentang nilai dari teknologi yang memperkaya lingkungan belajar siswa siswi dunia sekarang ini,” katanya.

McBryde meyakini, ke depannya akan banyak iBook yang akan dipublikasi.

Selain Keily, sejumlah siswa lainnya juga memperlihatkan karya buku multimedia, seperti Kim Nahyeon (Kelas XI) dan Peter Ryandry (Kelas X). Keduanya juga diperkenalkan saat temu wartawan.

Berdasarkan catatan, SWA berdiri pada Juli 2008, dan menawarkan pendidikan dari tingkat batita (bawah tiga tahun-red.) sampai dengan SMA, dengan total siswa sebanyak 500 anak. Siswa-siswi di SWA mewakili 24 kewarganegaraan, termasuk di dalamnya 40% siswa internasional dan 60% siswa berasal dari Indonesia.

Para guru mewakili 14 kewarganegaraan dengan sebagian besar berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Sisanya berasal dari Belanda, Afrika Selatan, Cina, dan Indonesia. (A-94/A-88)***

Baca Juga

Diwarnai Aksi Walk Out, DPR Sahkan Presidential Threshold 20%

JAKARTA, (PR).- Ketua DPR Setya Novanto yang memimpin sidang paripurna RUU Pemilu 2019 mengesahkan RUU Pemilu dengan ambang batas presiden (presidential threshold) 20%. Novanto memimpin sidang setelah tiga pimpinan DPR walk out.