Jurnal Ilmiah untuk Meningkatkan Kualitas Lulusan

CIAMIS,(PRLM).-Publikasi penulisan jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan bagi mahasiswa merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi, terutama dalam kemampuan penulisan ilmiah. Sementara itu, kewajiban penulisan jurnal ilmiah sebagai tanda kelulusan sarjana, diserahkan kepada pihak perguruan tinggi.

"Soal jurnal ilmiah apakah menjadi syarat kelulusan, kami serahkan kepada rektor perguruan tinggi," tutur Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikti Kemdikbud), Djoko Santoso di Universitas Galuh Ciamis, Rabu (11/4).

Ia menegaskan sebagai seorang sarjana tidak hanya mempunyai kemampuan ilmiah semata, akan tetapi juga harus memiliki keahlian serta menguasai tata cara penulisan ilmiah. "Kewajiban publikasi menjadi syarat untuk kelulusan, itu juga sepenuhnya ada pada pihak rektor," ujarnya.

Berkenaan dengan penulisan jurnal ilmiah, ketika berbicara di hadapan mahasiswa, Djoko juga mengungkapkan saat ini penulisan jurnal ilmiah di Indonesia masih sangat rendah, jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia.

Padahal beberapa puluh tahun lalu, nerega tersebut berguru ke Indonesia, akan tetapi saat ini sudah mampu melampaui Indonesia. Jumlah publikasi ilmiahnya lebih banyak dibandingkan dengan Indonesia.

"Indonesia masih dalam keadaan tiarap terus, sementara Malaysia yang sekitar tahun 1960 an jauh di bawah Indonesia, justru terus naik jauh meninggalkan Indonesia. Jika membandingkan dengan negara maju, rentang perbedaannya semakin jauh," katanya.

Publikasi jurnal ilmiah Indonesia saat ini hanya sekitar 13.000 atau sepertujuh dibandingkan dengan Malaysia. Sedangkan di Amerika Serikat dan beberapa negara maju lainnya mencapai 5,3 juta karya ilmiah yang dipublikasikan.

Padahal jumlah mahasiswa Indonesia mencapai 5,3 juta orang, atau lebih banyak dibandingkan dengan seluruh penduduk Singapura atau Malaysia.

"Mengapa dibandingkan dengan Malaysia atau negara berkembang saja. sebab jika disandingkan dengan negara maju menjadi tidak terbandingkan. Jangankan dengan negara maju, sesama negara berkembang saja masih tertinggal. Keadaan tersebut merupakan tantangan sekaligus pemicu bagi mahasiswa Indonesia untuk bisa lebih banyak dalam menulis serta mempublikasikan karya ilmiah," tambahnya.

Djoko mengatakan bahwa persoalan penting yang harus diperhatikan adalah tidak sekadar jurnal ilmniah, akan tetapi juga harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dengan demikian karya ilmiah yang dipublikasikan harus berkualitas. "Jangan hanya jurnal-jurnalan, tetapi harus dibuat sesuai dengan kaidah ilmiah.Seorang sarjana dituntut bisa menulis ilmiah," katanya.

Berkenaan dengan infrastruktur untuk publikasi, dia mengatakan bahwa masasiswa tidak perlu khawatir dengan media publikasi. Sebab Kementerian Pendidikan sudah memersiapkan perlengkapan.

"JIka servernya masih kurang gede (besar) akan kami kembangkan hingga lebih dari 20 terabyte. Apabila tetap masih tidak memadai, masih bisa terus dikembangkan. Untuk publikasi ilmiah tersebut juga tidak perlu membayar, gratis. Yang penting tidak hanya mengembangkan budaya membaca, akan tetapi juga menulis," jelas Djoko.(A-101/A-89)***

Baca Juga

Bandung Barat Seleksi 132 Calon Kepala SD

NGAMPRAH, (PR).- Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat tengah menyeleksi 132 calon kepala sekolah dasar, untuk sekolah-sekolah yang belum memiliki pimpinan. Saat ini, ada 110 SD di KBB yang belum memiliki kepala sekolah.

Indonesia Dominasi Kompetisi Paduan Suara Anak Internasional

SETELAH viral di media sosial dengan video “Yamko Rambe Yamko” yang ditampilkan di Roma beberapa bulan lalu, The Resonanz Children’s Choir (TRCC) asal Jakarta kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. 

SMA, Usia Terbaik untuk Memberikan Gawai pada Anak

SOREANG,(PR).- Masyarakat khususnya orangtua sering salah kaprah dengan sudah memberikan gawai (gadget) sejak anak masih balita dengan alasan agar bermain dengan tenang dan tidak rewel.