Rabu, 19 Jun, 2013
Selalu Menjaga Kualitas

Tahu Sumedang Diserbu Konsumen Saat Liburan Panjang

ADANG JUKARDI/"PRLM"
ADANG JUKARDI/"PRLM"
RESTORAN tahu sumedang “Tahu Bungkeng” di Jln. Mayor Abdurachman, tampak diserbu konsumen terutama dari luar kota.

SUMEDANG, (PRLM).- Para pedagang tahu Sumedang, diserbu konsumen pada liburan panjang Jumat (6/4/12) hingga Minggu (8/4/12). Bukan hanya pedagang asongan saja yang biasa berjualan di bus atau angkutan umum lainnya, melainkan sejumlah restoran yang menyajikan makanan khas Sumedang itu pun, turut kecipratan rezeki dari melonjaknya konsumen.

Salah satunya, restoran “Tahu Bungkeng”. Hampir semua restoran “Tahu Bungkeng” yang ada di Sumedang, banyak dikunjungi konsumen. Mereka sebagian besar dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Garut dan Cirebon. Konsumennya, umumnya rombongan keluarga yang menggunakan kendaraan roda empat. Sebagian ada yang menikmati sajian tahu sumedang langsung di restoran sambil rilek, ada pula yang membawanya untuk oleh-oleh. Mereka sengaja mampir dulu di Sumedang membeli oleh-oleh tahu sumedang, setelahnya berlibur ke suatu tempat.

“Tak beda dengan dodol garut. Tahu sumedang ini, kebanyakan untuk oleh-oleh. Sambil melintas ke Sumedang, mereka (pengunjung) mampir dulu membeli oleh- oleh tahu sumedang,” kata Suryadi (45) salah seorang anggota keluarga besar Ong Bonkeng, pendiri “Tahu Bungkeng” ketika ditemui di restoran pusat sekaligus tempat produksi “Tahu Bungkeng” di Jln. 11 April No. 53, Sumedang, Sabtu (7/4/12).

Pada liburan panjang kali ini, penjualan tahu bungkeng melonjak tajam ketimbang hari- hari biasa dan libur kantor Sabtu-Minggu. Dengan banyaknya konsumen yang datang ke restoran maupun tempat produksinya, otomatis omzet penjualannya meningkat. Dari omzet harian rata-rata terjual 1.000 biji, pada liburan panjang kali ini, naik dua kali lipat hingga per hari mampu terjual 2.000 biji.

“Memang liburan panjang kali ini, ada pengaruhnya terhadap penjualan. Dengan banyaknya kunjungan konsumen, otomatis penjualan meningkat bila dibandingkan hari-hari biasa. Namun, tidak selalu setiap libur ramai konsumen. Kendalanya, karena jalan di Sumedang jelek dan banyak yang rusak. Itu yang sering dikeluhkan konsumen, khususnya dari luar kota,” ujar Suryadi.

Tak hanya liburan panjang saja, tahu bungkeng pun laku keras pada bulan-bulan tertentu, ketika banyak orang yang melangsungkan pernikahan. Setelah mereka menghadiri hajatan pernikahan di Sumedang, rombongan tamu undangan dari luar kota, biasanya menyempatkan dulu membeli oleh-oleh tahu sumedang. Bahkan penjualan tahu sumedang selalu mengalami booming, ketika libur Lebaran Hari Raya Idul Fitri. Apalagi jika hari liburnya lama, omzet penjualan tahu bungkeng langsung melonjak drastis. Tahu yang terjual, per hari bisa mencapai 5.000-6.000 biji.

“Jadi tak hanya pakaian dan sembako saja yang booming pada waktu Lebaran, tahu sumedang pun ikut kecipratan rezeki. Akan tetapi, ada kalanya lesu. Biasanya, waktu ujian sekolah atau tahun ajaran baru. Saat itu, daya beli masyarakat menurun. Para orang tua, banyak pengeluaran untuk biaya sekolah anaknya,” tuturnya.

Maju dan berkembangannya usaha “Tahu Bungkeng” yang merupakan perintis tahu sumedang sejak 1917, tak lain karena selalu menjaga kualitas tahu yang rasanya enak.

Memproduksi tahu sumedang dengan cita rasa tinggi, dibutuhkan kualitas air tanah yang sangat bagus serta tangan-tangan terampil para karyawannya. Air tanah dibutuhkan untuk merendam tahu-tahu yang sudah diproduksi. “Kalau airnya bau, hasil tahunya pun akan bau. Oleh karena itu, untuk menjaga kualitas tahu yang enak, airnya harus bagus,” kata Suryadi.

Begitu pula SDM (sumber daya manusia) karyawannya, harus betul-betul terampil. Sebab, pembuatan tahu sumedang harus apik dan telaten. Terlebih, produksi tahu bungkeng itu masih dikerjakan secara manual.

“Capek sedikit saja karyawan, akan berpengaruh pada kualitas tahu yang dibuatnya. Oleh karena itu, kita tidak terlalu memporsir tenaga para karyawan. Bahkan kami tidak terlalu menggenjot produksi. Kalau stok tahu per hari 1.000-2.000 biji sudah habis, ya sudah, restoran tutup.

Dikarenakan pembuatannya harus apik dan telaten, sehingga proses produksinya agak lamban dan relatif lama. Dari mulai produksi sampai penggorengan, membutuhkan waktu sekitar tiga jam,” ujarnya. (A-67/A-88)***

Post new comment

Konten ini di bersifat pribadi dan tidak akan diperlihatkan kepada publik If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Alamat Web dan e-mail otomatis menjadi link.
  • HTML Tag yang diijinkan: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragrap akan di break otomatis.
  • Filtered words will be replaced with the filtered version of the word.

Informasi lanjutan tentang opsi format HTML yang berlaku.

CAPTCHA
.

KOMENTAR