Headlines

9 Balon Wabup Garut dari Independen Bertarung di Kongres

GARUT, (PRLM).- Sembilan bakal calon wakil bupati Garut dari kalangan independen akan bertarung dalam Kongres Rakyat Independen yang digelar Senin (12/3). Lima di antara mereka yang mendapatkan dukungan terbanyak melalui voting akan direkomendasikan kepada Bupati Garut Aceng H.M Fikri untuk dipertimbangkan sebagai wakil bupati pengganti Diky Candra yang mengundurkan diri.

Ketua penyelenggara Kongres Rakyat Independen Ishak Anzhari mengatakan, kongres akan melibatkan sedikitnya 100 peserta pemegang hak suara dari tim pengusung dan pemenangan Aceng-Diky mulai dari kordinator kecamatan (Korcam) ANDA CENTER, TOPP ANDA, dan FPCI (Forum Pengusung Calon Independen).

Adapun 9 calon yang akan bertarung dalam kongres adalah mereka yang sudah lulus secara administratif. Para balon wabup tersebut berasal dari kalangan politisi, pengusaha, akademisi, aktifis,sampai anggota TNI. Kesembilan balon tersebut adalah Cecep Syahrul (Pengusaha), Deden Agus Setiawan (Aktifis), Hasanudin (Aktifis), Mahyar Suara (Politisi/mantan anggota DPRD Garut), Tabrani Zebua (aktifis), M. Faojan Rachman (Aktifis), Dr. Asep Tapip Yani (Akedemisi), Ibad Badruzaman (Pengusaha), Kol. Dudu Fityatin (TNI-AD), dan H. Ukim (pengusaha).

"Persiapan sudah 75 persen, tinggal pelaksanaan. Dalam kongres tersebut nantinya akan dilakukan mekanisme voting pemegang hak suara untuk mengerucutkan lima nama. Lima besar nama yang mengumpulkan dukungan terbanyak akan diajukan menjadi balon wabup," ujar Ishak.

Dia menegaskan, pemerintahan Garut saat ini adalah pemerintahan independen karena bupati dan wakil bupati terpilih melalui jalur perseorangan dengan dukungan rakyat. Oleh karena itu, kendati saat ini Aceng Fikri sudah tidak lagi independen karena sudah berpartai, independensi harus dijaga dengan pengisian posisi wakil bupati oleh balon wabup dari kalangan independen.

Menurut dia, Aceng memang terpilih menjadi bupati Garut dari jalur perseorangan, namun hal itu tidak berarti dia bebas mengambil keputusan atas dasar kehendak sendiri. Aceng yang saat ini sudah memilih masuk partai politik tidak akan mungkin bisa jadi bupati kalau tidak ada organ-organ pengusung independen.

"Aceng dan Diky menjadi bupati dan wakil bupati karena dukungan Keluarga Besar Independen yang lembaganya resmi, maka dalam proses pemilihan wabup yang kini kosong, Aceng juga harus melibatkan Keluarga Besar Independen. Bupati harus kembali ke rumah tempat awal berangkat dalam pencalonan saat itu. Jangan sampai bupati melupakan sejarah itu, lupa kacang pada kulitnya, melupakan jasa tim pengusung," ungkap Ishak. (A-168/A-108)***