Senin, 21 May, 2012

Portal Lain Menu

Interaksi Langsung Guru dengan Murid tak Tergantikan

BANDUNG, (PRLM).- Sistem pembelajaran melalui video live-streaming (online) hanya sebagai fasilitas penunjang dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Peranan guru melalui interaksi langsung dengan murid tidak bisa digantikan dengan metode apapun, meski berbagi teknologi canggih terus berkembang. Pernyataan itu disampaikan Sony Sugema saat meluncurkan Sistem Pembelajaran Online dengan Bandwidth Rendah, Selasa (21/2) di Grand Hotel Panghegar Bandung.

Akan tetapi, menurut pemilik bimbingan belajar Sony Sugema Collage (SSC) ini, teknologi yang diperkenalkan lembaganya telah banyak membantu siswa dan guru dalam proses KBM.”Umumnya layanan video live-streaming untuk menghasilkan kualitas gambar dan suara yang bagus membutuhkan kecepatan minimal 512 kbps, sedangkan pengguna internet di Indonesia sebagaian besar memiliki kecepatan akses di bawah 512,” jelas Sony.

Kini dengan program yang dimiliki SSC, para siswa yang terdaftar di lembaga pendidikan tersebut bisa menikmati layanan belajar jarak jauh, meski kecepatan PC mereka hanya 24 kbps. Sementara dengan kapasitas bandwith server sebesar 12 Mbps, maka pada saat yang bersamaan lebih kurang 500 siswa dapat mengikuti pelajaran online tanpa melalui gangguan koneksi yang berarti.

Program yang diklaim sebagai temuan Sony Sugema tersebut, rencananya akan diintegrasikan dengan berbagai sekolah maupun lembaga pendidikan lain.”Prinsifnya kerja sama, bukan menjual program,” jelas Sony seusai acara tersebut. (CA 01/CA 10/A-147) ***

Proses KBM di Indonesia

Anonymous's picture

Proses KBM di Indonesia memang perlu di kembangkan. Entah dgn menggunakan video visual ato pun Bandwidth rendah. Yang perlu di perhatikan bukanlah alat pembantu ato programnya, tapi apakah siswa sudah mampu mengoperasikan alat canggih tsbt . Di sekolah yang berstatus RSBI, umumnya sudah memiliki fasilitas, seperti Laptop, komputer desk, Infokus, televisi di dalam kelasnya. Tapi itu semua hanya bbrp sekolah saja, dikarenakan biaya yg besar dan mahal. Karena membutuhkan ruangan ber AC. Contohnya di SDN 01 menteng Jkt Pusat. Siswa dari kelas 1 sudah mengenal dan dpt mengoperasikan fasilitas sklh dgn baik. Mereka berjumlah 28 Siswa/ kelas. Yang di bimbing oleh 2 orang Guru. Nah , BAGAIMANA kalo di Kota Bandung? Pada Umumnya dari tingkat SD s/d SMA, pengennya gratis, ngak bayar SPP, sedangkan fasilitas tsbt cukup mahal, apa bisa proses KBM seperti ON line dapat diterapkan ? Seluruh proses KBM yg UPTODATE membutuhkan biaya yg tdk sedikit, Nah Bagaimana mensosialisasikannya kepada ORTU yg pengennya semua GRATIS. APAKAH SSC dpt membantu nya ?

Post new comment

Konten ini di bersifat pribadi dan tidak akan diperlihatkan kepada publik If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Alamat Web dan e-mail otomatis menjadi link.
  • HTML Tag yang diijinkan: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragrap akan di break otomatis.
  • Filtered words will be replaced with the filtered version of the word.

Informasi lanjutan tentang opsi format HTML yang berlaku.

CAPTCHA
.

KOMENTAR