Produk Makanan Indonesia Sering Ditolak Pengimpor

BOGOR, (PRLM).- Produk makanan Indonesia bermasalah dalam hal standar keamanan pangan sehingga sering ditolak oleh negara pengimpor. Dari berbagai macam alasan yang diungkapkan, sebagian besar atau sekitar 60 persen alasan karena produk makanan Indonesia tidak higinis, dan cenderung jorok.

Demikian dikatakan Direktur South East Asian Food Science dan Technology Center Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi di sela-sela Diskusi Current Issue and Challenge for Food Safety, Kamis (9/2). Dikatakan Purwiyatno dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2010 masalah produk makanan Indonesia sangat sederhana, yakni kurang higinis. "Artinya ada potensi produk kita diproduksi dengan proses yang kurang memerhatikan kebersihan sehingga mengancam keamanan makanan saat dikonsumsi," kata Purwiyatno.

Negara yang banyak menolak produk makanan kita misalnya, Uni Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan, produk makanan tanpa disertai keterangan berbahasa Inggris atau tidak terdaftar pun ditolak di negara-negara ini. "Hanya saja, alasan kurang higinis malah yang paling banyak. Hal itu perlu kita benahi jika tidak ingin terus ditolak," lanjutnya.

Dicontohkan Purwiyatno, sejumlah produk ikan dan olahan ikan kita sering ditolak di negara-negara Uni Eropa karena terkontaminasi logam berat. Hal ini, lanjut Purwiyatno dipengaruhi oleh asal ikan tersebut dipanen. "Untuk saat ini, tren penolakan censerung menurun karena adanya program pemerintah yang cukup baik sehingga berhasil menekan kontaminasi logam berat," tuturnya.

Selain itu, dari sejumlah produk makanan yang kita ekspor juga mengandung atau terkontaminasi residu obat hewan yang relatif banyak. Artinya, ada proses pemupukan atau pengawetan pangan kita yang menyalahi aturan. Negara pengimpor juga mengkhawatirkan kontaminasi mikroba dalam produk makanan kita yang diekspor.

Kemungkinan, lanjut Purwiyatno karena dalam proses pengolahan atau produksinya tidak menggunakan air bersih karena keterbatasan air bersih atau cara penyimpanan yang salah. Hal-hal yang dinilai sepele oleh masyarakat kita inilah yang harus diperbaiki. Purwiyatno mengusulkan agar pemerintah atau pihak terkait lainnya untuk mulai memperluas akses air bersih serta listrik sehingga proses produksi lebih higinis. Selain itu, proses penyimpanan juga lebih efektif melalui pengaturan suhu.

Terkait bahan pengawet dan pewarna, Purwiyatno mengatakan sah-sah saja jika produk makanan menggunakannya. Asalkan, bahan pengawet dan pewarna sesuai dengan peruntukan dan dosis. "Asal tidak menggunakan bahan kimia berbahaya seperti formalin, penggunaan bahan pengawet dan pewarna boleh dilakukan," tambahnya.

Sementara itu, pemantauan di lapangan, sejumlah produk makanan dari Indonesia memang mayoritas dikerjakan dengan proses sederhana dan tradisional. Bahkan, beberapa di antaranya yang beredar di pasaran lokal kita kurang memerhatikan faktor kebersihan karena keterbatasan pengetahuan, infrastruktur dan lain sebagainya. (A-155/A-147)***

Baca Juga

Belajar Arti Kesuksesan dari Pencipta Snapchat

DI kalangan anak muda, aplikasi Snapchat tentu bukan lagi barang baru. Aplikasi pesan video ini sudah memiliki 170 juta pengguna di seluruh dunia. Di balik kesuksesan Snapchat ada Evan Spiegel, anak muda pencipta aplikasi tersebut.