Headlines

Musim Jualan Tutut

KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"
KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"
SEORANG pedagang tutut yang menggunakan sepeda sebagai lapaknya menunjukkan tutut buatannya yang dijualnya, di Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor, Rabu (1/2/12). Masakan tutut kembali menjadi tren dan marak dijual di sepanjang Jalan Sholeh Iskandar hingga Jalan Abdullah bin Nuh Kota Bogor. Bahkan, sejumlah pedagang makanan mulai beralih dagangannya ke tutut karena banyaknya peminat.*

PRLM - Sudah beberapa bulan terakhir ini Jalan Sholeh Iskandar hingga Jalan Abdullah bin Nuh, Kota Bogor dipenuhi oleh deretan lapak pedagang tutut. Tampaknya, tutut, menjadi masakan yang kembali ngetren dan digemari di wilayah Bogor. Bahkan, sejumlah pedagang buah, es campur, hingga pedagang cilok pun beralih dagangannya menjadi tutut.

Sejumlah pedagang yang kebanyakan berasal dari Cirebon ini mengaku tertarik untuk beralih ke tutut karena menilai penikmatnya semakin banyak. "Tadinya jualan buah sama es. Tapi ngeliat peminat tutut makin banyak, akhirnya pindah ke tutut," kata salah seorang pedagang, Pantun (39).

Dalam sehari, sedikitnya 10-15 kilogram tutut habis terjual dengan harga Rp 3.000 per porsi. Di beberapa lapak, bahkan dijual tutut dengan berbagai macam bumbu dan rasa dengan harga sekitar Rp 4.000 hingga Rp 6.000 per porsi tergantung bumbu dan rasanya.

Dengan iming-iming kandungan protein yang tinggi serta bisa membantu penyembuhan penyakit liver, kuning, hingga penambah nafsu makan, tutut di kawasan jalan tersebut semakin naik daun dan laris manis. Sejumlah penelitian menyebutkan tutut atau keong sawah mengandung protein yang cukup tinggi tetapi kadar lemak atau kolesterol rendah, yakni 15 persen protein, 2,4 persen lemak, dan sekitar 80 persen air.

Selain itu disebutkan 75 persen lemak di tubuh keong adalah unsaturated fatty acids atau lemak yang baik dan dibutuhkan tubuh. Oleh karena itu, makanan yang sering disebut makanan kampung ini bisa menjadi alternatif sumber protein hewani pengganti daging.

Selain itu, penikmat tutut pun juga diajak bernostalgia ketika menikmati tutut dengan cara dicongkel menggunakan tusuk gigi atau disedot. "Dulu waktu kecil sering banget makan. Sekarang rasanya kayak bernostalgia ketika makan tutut kembali. Soalnya udah jarang banget ada tutut sekarang," kata salah seorang pembeli, Emil (46). (Kismi Dwi Astuti/"PRLM"/A-88)***