Penduduk Asli Aborigin Jauh Tertinggal dari Warga Pendatang

CANBERRA, (PRLM).- Setiap menjelang peringatan "Australia Day" yang dirayakan setiap tanggal 26 Januari itu, warga Aborigin selalu terkenang dengan penderitaan mereka di masa lalu. Sejak Inggris mendarat di Benua Australia pada 1778, tidak ada kemajuan signifikan yang dirasakan bangsa Aborigin. Padahal, saat ini Australia adalah salah satu negara kaya di dunia. Namun, kekayaan dan kesejahteraan masyarakat Australia itu tidak mendatangkan kebahagiaan bagi rakyat Aborigin.

Kemajuan rakyat Aborigin, kendati merupakan bangsa asli Australia, sampai saat ini tidak terlalu signifikan. Dibandingkan dengan pendatang dari Asia dan Timur Tengah, bangsa Aborigin masih tertinggal. Berdasarkan data, mayoritas Aborigin Australia kini tinggal di negara bagian Northern Teritory yang beribukotakan Darwin. Namun demikian, populasi Aborigin dapat ditemukan di semua negara bagian.

Pemerintah Australia selama ini membantah telah mengabaikan hak -hak masyarakat Aborigin. Pasalnya, selama ini pemerintah mengaku sudah membuat sejumlah kebijakan khusus bagi warga Aborigin Australia. Contohnya, di bidang pendidikan, warga Aborigin dapat diterima dengan mudah dis jeumlah universitas ternama di negara itu.

Mereka tidak perlu untuk melakukan tes seperti warga Australia lainnya. Akan tetapi, dilaporkan, masyarakat Aborigin tidak memanfaatkan dengan baik sejumlah kemudahan yang diberikan pemerintah tersebut. (A-133/das)***

Baca Juga

Intelijen Prancis Dinilai Gagal Total

PARIS, (PR).- Intelijen Prancis dinilai sangat lemah dan harus direformasi. Hal ini terungkap dalam rapat komisi investigasi serangan teroris Prancis, sepeti dilaporkan laman The Guardian, Minggu 31 Juli 2016.

Uber Siapkan 500 Juta Dolar Ciptakan Peta Sendiri

SAN FRANSISCO, (PR).- Perusahaan penyedia jasa taksi daring, Uber, tengah mempersiapkan proyek pembuatan peta sendiri. Upaya itu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap layanan Google Maps.

Dukung Kudeta, Thailand Alami Kemunduran Demokrasi

BANGKOK, (PR).- Hasil referendum yang menunjukkan mayoritas warga Thailand mendukung rancangan konstitusi yang dibuat militer cukup mengejutkan karena militer merupakan pelaku kudeta terhadap pemerintahan sah Yingluck Shinawatra tahun 2014 lalu.