Penduduk Asli Aborigin Jauh Tertinggal dari Warga Pendatang

CANBERRA, (PRLM).- Setiap menjelang peringatan "Australia Day" yang dirayakan setiap tanggal 26 Januari itu, warga Aborigin selalu terkenang dengan penderitaan mereka di masa lalu. Sejak Inggris mendarat di Benua Australia pada 1778, tidak ada kemajuan signifikan yang dirasakan bangsa Aborigin. Padahal, saat ini Australia adalah salah satu negara kaya di dunia. Namun, kekayaan dan kesejahteraan masyarakat Australia itu tidak mendatangkan kebahagiaan bagi rakyat Aborigin.

Kemajuan rakyat Aborigin, kendati merupakan bangsa asli Australia, sampai saat ini tidak terlalu signifikan. Dibandingkan dengan pendatang dari Asia dan Timur Tengah, bangsa Aborigin masih tertinggal. Berdasarkan data, mayoritas Aborigin Australia kini tinggal di negara bagian Northern Teritory yang beribukotakan Darwin. Namun demikian, populasi Aborigin dapat ditemukan di semua negara bagian.

Pemerintah Australia selama ini membantah telah mengabaikan hak -hak masyarakat Aborigin. Pasalnya, selama ini pemerintah mengaku sudah membuat sejumlah kebijakan khusus bagi warga Aborigin Australia. Contohnya, di bidang pendidikan, warga Aborigin dapat diterima dengan mudah dis jeumlah universitas ternama di negara itu.

Mereka tidak perlu untuk melakukan tes seperti warga Australia lainnya. Akan tetapi, dilaporkan, masyarakat Aborigin tidak memanfaatkan dengan baik sejumlah kemudahan yang diberikan pemerintah tersebut. (A-133/das)***

Baca Juga

Satu Tersangka Pembunuh Kim Jong Nam Terimbas Racun VX

KUALA LUMPUR, (PR).- Satu dari dua tersangka pembunuh Kim Jong Nam terkena dampak racun VX yang digunakan untuk membunuh saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tersebut. Hal tersebut diungkapkan Kepala Polisi Malaysia, Khalid Abu Bakar, Jumat, 24 Februari 2017.

Erdogan Meradang, Hubungan Turki-Jerman Menegang

ANKARA, (PR).- Ketegangan antara Turki dan Jerman meningkat pada Jumat. 3 Maret 2017, setelah pemerintah Ankara menuding Berlin berupaya untuk memengaruhi suara warga Turki di Jerman untuk tak memilih Recep Tayyip Erdogan pada refernedum 16 April mendatang.

Cegah Krisis Diplomatik, Belanda Ajak Turki Dialog

ROTTERDAM, (PR).- Setelah berseteru dengan Jerman, Turki kini juga bersitegang dengan Belanda. Pemicunya masih sama, terkait dengan kampanye referendum Turki yang akan digelar 16 April mendatang.