Senin, 21 May, 2012

Portal Lain Menu

Penjualan Paksa LKS Dikaitkan dengan Nilai Rapor

BANDUNG, (PRLM).- Meski sudah sejak lama dilarang, aksi penjualan Lembar Kerja Siswa (LKS) di sekolah terutama tingkat SD dan SMP masih saja terjadi. Bahkan jual beli LKS sudah terjadi secara masif dengan berbagai dalih dan modus.

"Sekarang malah orang tua yang diajak kerja sama oleh guru dan sekolah. Penerbit kerja sama dengan guru dan orang tua. Karena guru dilarang jadi dijualnya melalui orang tua. Ini yang banyak terjadi," kata Ketua Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Kota Bandung Dwi Subawanto saat dihubungi "PRLM", Selasa (17/1).

Menurut Dwi, pada akhirnya siswa dan orang tua siswa lainnya juga seakan "dipaksa" untuk ikut membeli LKS ini. Apalagi ujung-ujungnya sering dikaitkan dengan angka siswa di kelas yang akan berdampak pada nilai rapor siswa. "Akhirnya orang tua tidak punya pilihan, mau tidak mau harus ikut. Jadi intimidasi ini sudah dilakukan dengan berbagai dalih, dan ini sama sekali tidak mendidik. Terkesan manis karena orang tua yang diajak kerja sama pasti akan menerima komisi, tapi sebetulnya ini racun," ungkapnya.

Saat ini, kata Dwi, pihaknya sudah menerima sejumlah laporan dari para orang tua yang "dipaksa" untuk membayar sejumlah pungutan terutama membeli LKS dengan berbagai modus. Setidaknya ada tiga SMP dan dua SD yang sudah diadukan ke Fortusis karena masalah ini.

"Tetapi saya yakin semua sekolah juga sama. Mau itu sekolah favorit, sekolah menengah, atau bahkan sekolah pinggiran. Penjualan LKS yang masih mendominasi dan itu terjadi secara masif," ungkapnya.

Salah satu orangtua siswa SDN Cijagra 1-2 yang enggan disebut namanya mengaku membeli semacam lembar kerja seharga Rp 90 ribu dari salah seorang wali kelas pada awal semester ini. Dengan harga tersebut, anaknya memperoleh lembar kerja berisi soal untuk 11 mata pelajaran sekaligus.

“Posisi kami ini sebagai orangtua serba salah. Kalau tidak membeli, anak bakal ketinggalan. Buku paket pelajaran memang diberikan sekolah, tapi tidak ada lembar soal. Isinya teori semua,” ujarnya ketika ditemui tengah menunggu sang anak di luar kompleks sekolah, Selasa (17/1).

Yuyun, Wali Kelas VI SDN Cijagra 1, mengaku tidak tahu-menahu perihal praktik jual beli semacam LKS tersebut. Yang ia tahu, setiap guru memang membuat LKS untuk pelajaran mereka masing-masing dan itu sudah menjadi bagian dari tugas mengajar.

“Barangkali yang dimaksud orangtua itu bukan LKS, tapi semacam lembar kerja. Atau semacam buku pendamping. Itu terserah para orangtua. Meski demikian, saya pribadi tidak menjual buku-buku seperti itu. Saya lebih percaya LKS yang saya buat sendiri,” tuturnya. (A-157/A-165)***

Bung. Kok yang ditindak

Anonymous's picture

Bung. Kok yang ditindak penerbitnya?? Tau g anda kalo jual lks itu dikoordinir. Coba tanya kepala sekolah dia pasti Tahu Dan sudah deal dgn penerbitnya. Cek Di sdn sindangkarsa 1 depok. Siswa diwajibkan beli lks. Dan ketika kasus ini ramai tiba tiba guru melarang siswanya membawa lks, dengan ancaman kalo Ada yg bawa akan distrap. dan bilang kalo ada orang yg datang ke sekolah menanyakan lks murid hares menjawab disekolah ini yg ada cuma buku latihan. Dua kesalahan besar.
1, mewajibkan murid untuk beli lks itu(dengan cara menunjuk toko tertentu cek rumah dibelakng sekolah atau tanya wali murid semua Siswa di sdn tersbut
2, mengajari murid sd sindangkarsa depok untuk berbohong kebayanggak sih nanti itu anak besar akan jd apa
tolong wartawan, anggota dewan depok atau lsm selidiki kasus Ini.
Inisudah penghancuran akhlak sejak dini tegur Dan kasih sangsi kalo perlu sampai walikotanya tegur

Si Dwi nih ga pantas deh jadi

Anonymous's picture

Si Dwi nih ga pantas deh jadi Ketua Fortusis. Daripada jadi Ketua Fortusis, urus saja tuh anakmu Dwi .... biar jadi anak pinter dan bener. Ingat lo, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, sekolah dan guru saja, tetapi juga (yang terbesar) adalah tanggung jawab orangtua. Orang tua gue (biarpun orang ga mampu, biarpun pendidikan mereka sendiri ga tinggi), tiap dimintai uang buat beli keperluan sekolah termasuk buku, ga pernah deh menggerutu..... La....elo? urusan beli lks az banyak protes. Daripada ngurusin beginian, mendingan kritisi az tuh koruptor koruptor....gantungin kalo perlu, termasuk koruptor didunia pendidikan, sebab gara gara mereka duit negara yang dapat ngutang sana sini banyak yang ilang.....masyarakat jadi susah, termasuk elo, beli lks az berat kan!? Kasian dueeeeh.....

Sdr Dwi Subamanto, jika

Anonymous's picture

Sdr Dwi Subamanto, jika memang banyak terjadi penjualan LKS yang dikaitkan dengan nilai, sebaiknya anda sebutkan saja nama sekolah dan gurunya. Jangan hanya sekedar bicara dan menduga duga. Anda seringkali menyerang dan menyalahkan guru, tanpa memahami, saat ini banyak para siswa yang nekad memfitnah gurunya untuk menutupi kemalasan dan kebutuhannya.
Saya pernah mengalami, didatangi ortu yang komplain mencak mencak, anaknya dikeluarkan dari kelas karena tidak membawa lks dan tidak mau sekolah lagi sebelum membeli lks. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah anaknya dikeluarkan dari kelas menjelang ulangan, bukan karena tidak memiliki lks tetapi disuruh meminjam buku Paket kekelas lain, sebab buku Paketnya sendiri ditinggal dirumah dengan alasan berat membawanya. Padahal sudah srng saya beritahu agar buku Paket selalu dibawa ke sekolah.
Saya lakukan hal tersebut, 1) mendorong siswa agar memanfaatkan buku Paket yang telah dipinjamkan pihak sekolah kepada seluruh siswa secara gratis 2) mendorong siswa agar melaksanakan ulangan secara mandiri, jujur, dan tidak bekerjasama. 3) melindungi siswa lain agar tidak terganggu selama mengikuti ulangan.
Lain waktu sekolah juga didatangi orangtua siswa yang komplain krn anaknya tidak diperkenankan mengikuti kegiatan pemantapan krn belum membayar. Padahal yang sebenarnya adalah kegiatan pemantapan di sekolah kami selama 3 bulan menjelang UN dilaksanakan secara GRATIS, termasuk pembagian paket Bank Soal dan pelaksanaan TO 3 kali pembiayaannya diambil dari BOS. Artinya apa? Anak tsb berusaha menipu ortunya. Dari kejadian ini bisa diambil kesimpulan bahwa apa yang dikatakan siswa pada ortunya belum tentu benar semuanya.

Orang tua sekarang, ngasih

Anonymous's picture

Orang tua sekarang, ngasih jajan anak (diluar ongkos) 10 ribu/hari atau 250 ribu/bulan. Beli LKS 20 ribu perbulan untuk semua pelajaran gerutu....... parah....

Orangtua yang mana dulu???

Anonymous's picture

Orangtua yang mana dulu??? Orangtua yang keberatan menyediakan anak2nya kebutuhan sekolah, biasanya orangtua yang frustasi, gagal, ga sukses dalam usaha. Jadi kerjanya uring2an, wakakakakakak.......

Ya keberatan dooooong, karena

Anonymous's picture

Ya keberatan dooooong, karena uang kami untuk beli rokok dan arisan jadi terganggu...

Rupana dinas pendidikan ga

Anonymous's picture

Rupana dinas pendidikan ga serius dlm plarangan jual beli LKS.anak sy yg sekolah di salah satu SD di pamoyanan,hrs membeli 10 LKS dr guru,kalo tdk siswa akan di acuhkn dlm belajar..MOHON TINDAKAN YG TEGAS DUNK,BKNKAH DANA BOS SKRNG BERTAMBAH?.

Yang harus ditindak adalah

Anonymous's picture

Yang harus ditindak adalah penerbit LKS itu sendiri yang membebani orang tua siswa dan bikin guru jadi malas bikin soal. Patut dicurigai juga bahwa penerbit buku pelajaran memang tidak menyediakan lembar soal agar orang tua siswa membeli LKS.....

Coba tanya Kepala Sekolahnya,

Anonymous's picture

Coba tanya Kepala Sekolahnya, ngak mungkin Kepala Sekolah ngak tahu.....agar kita tidak terlalu menyalahkan guru....kadang guru sering dijadikan kambing hitam...coba disekolah anak kita gak ada guru siapakah yg bisa membimbing anak kita di sekolah.....guru ada yg memang berbakti...ada juga guru yg memang memanfaatkan situasi....para kepala Sekolah seolah-olah orang suci....

Gimana Dinas Pendidikan???

Anonymous's picture

Gimana Dinas Pendidikan??? sekolah itu untuk mencerdaskan anak bangsa bukan membodohi, emang kalau dah ketahuan guru banyak alasannya mentang2 pintar ngomong, anak hrs beli buku atau ikut les kalau ga ikut nilainya jadi kecil.

Post new comment

Konten ini di bersifat pribadi dan tidak akan diperlihatkan kepada publik If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Alamat Web dan e-mail otomatis menjadi link.
  • HTML Tag yang diijinkan: <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Baris dan paragrap akan di break otomatis.
  • Filtered words will be replaced with the filtered version of the word.

Informasi lanjutan tentang opsi format HTML yang berlaku.

CAPTCHA
.

KOMENTAR