Headlines

Harga Terigu dan Produk Turunannya akan Naik

BANDUNG, (PRLM).- Harga tepung terigu dan produk turunannya tahun ini dipastikan naik, berkaitan dengan penerapan bea masuk bahan baku impor sebesar 5 persen. Namun hingga saat ini, tepung terigu di tingkat pedagang masih menggunakan harga lama.

“Sampai sekarang harga masih stabil, belum ada perubahan. Tapi kalau ada kenaikan, tentunya kita mengikuti harga. Segala sesuatunya dikembalikan ke mekanisme pasar,” kata Ketua Asosiasi Pedagang Gula Pasir dan Terigu Indonesia (Apegti) Jawa Barat, Irwan Gunawan, Minggu (1/1).

Kenaikan harga tepung terigu dan produk turunannya ini sejalan dengan diterapkannya Peraturan Menteri Keuangan nomor 13/PMK.011/2011 tentang Perubahan Kelima atas PMK nomor 110/PMK.010/2006 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor. Pasal II regulasi itu menyebutkan, penetapan tarif bea masuk sebesar 5 persen berlaku efektif terhitung 1 Januari 2012.

Irwan menuturkan, saat ini distributor yang berada dalam mata rantai niaga tepung masih menerapkan harga lama, sebelum pemberlakuan regulasi tersebut. Pasalnya, terigu yang ada di pasaran pun masih produksi tahun lalu. Dia mencontohkan, harga terigu Cap Payung keluaran Bogasari masih dijual di sekitar Rp 113.000 per karung seberat 25 kg. Angka tersebut berlaku di pedagang pertama setelah pabrik.

Mengenai kenaikan harga akibat pemberlakuan bea masuk impor, Irwan mengatakan, pedagang akan melakukan penyesuaian jika ada perubahan harga dari pabrik. Namun diprediksi, pasokan tidak akan terpengaruh. Hal ini berkaitan dengan hitungan kebutuhan baku yang sudah disiapkan oleh pedagang. Angka kebutuhan baku tersebut tetap akan dipenuhi meski harga berubah. Dengan demikian, kenaikan harga tepung terigu hanya akan berpengaruh ke harga jual, tanpa berimbas banyak terhadap pasokan.

Namun pemberlakuan bea masuk impor untuk tepung terigu ini berimbas langsung terhadap sejumlah produk turunan. Asosiasi Pengusaha Industri Pangan Indonesia (Aspipin) memperkirakan akan ada kenaikan harga mi instan dan produk berbahan tepung terigu lainnya sebesar 10 hingga 20 persen.

"Naiknya bea impor masuk tepung terigu akibat PMK tersebut sebesar 5% akan berdampak pada hasil produk akhir seperti mie instant, mie dan produk-produk berbahan baku tepung terigu, diperkirakan naiknya cukup tinggi sekitar 10 hingga 20 persen," ujar Ketua Umum Aspipin Budiyanto.

Kenaikan produk tersebut dikarenakan produsen sebelumnya sudah menanggung bea masuk impor untuk tepung terigu sebesar 5 persen sejak 7-8 tahun lalu, artinya dengan diberlakukan PMK tersebut tarif bea masuk impor tepung terigu menjadi 10 persen.

"Bea masuk tarif impor tepung terigu sudah sejak lama 5 persen, kalau ini naik lagi bisa jadi 10 persen. ini yang dapat mempengaruhi naiknya produk akhir cukup tinggi, dan pada akhirnya pula konsumen lah yang akan menanggung kenaikan harga tersebut," ujar Budiyanto, yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur Sentrafood ini.

Di sisi lain, dia mengatakan, kenaikan harga jual produk turunan mungkin dapat diredam hingga di bawah 10 persen, atau bahkan hanya 3 persen jika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terus menguat, yakni berkisar di bawah Rp 9.000. (A-179/das)***

Komentari di Facebook !
Customize This