Headlines

Populasi Badak Jawa pada 2011 Sedikitnya 35 Individu

JAKARTA, (PRLM).- Populasi Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berdasarkan hasil inventarisasi pada 2011 jumlahnya sedikitnya 35 individu. Hal yang menggembirakan, dari jumlah tersebut terdapat lima ekor badak anak dan lima ekor badak remaja.

“Ditemukan badak usia anak itu berarti ada indikasi bahwa badak masih berkembang,” kata Tim Monitoring dan Inventarisasi Badak Jawa Yanto Santosa ditemui usai penyampaian hasil inventarisasi Badak Jawa di Gedung Kementrian Kehutanan (Kemenhut) Jakarta, Kamis (29/12).

Ia menjelaskan, inventarisasi tahun 2011 ini menggunakan metode baru, yaitu video trap. Cara itu dengan menempatkan 44 unit video di lokasi-lokasi yang merupakan habitat yang disukai badak jawa. Yaitu di kawasan Citadahan, Cikeusik, Cibandawoh, dan Cigenter. Juga diletakkan di Tanjung Talereng dan Karang ranjang, keduab tempat itu adalah habitat yang kurang begitu disukai tetapi tetap dikunjungi oleh badak jawa. Pemantauan melalui video itudilakukan pada Februari sampai Oktober 2011.

Setelah melakukan analisa dari data yang didapat dari video itu, diketahui jumlah individu badak jawa di TNUK sedikitnya berjumlah 35 individu. Rinciannya, 22 individu jantan dan 13 individu betina. Dari segi umur, 7 individu usia tua, 18 individu usia dewasa, 5 individu usia remaja, dan 5 individu usia anak.

Yanto mengatakan, dari jumlah tersebut tidak bisa begitu saja bisa disimpulkan terjadi penurunan populasi Badak Jawa di TNUK. Sebab metode inventarisasi yang dilakukan sebelumnya berbeda yang digunakan tahun ini. Sejak 35 tahun lalu setiap tahun TNUK melaksanakan kegiatan inventarisasi Badak Jawa dengan menggunakan penghitungan jejak di dalam transek. Metode itu digunakan karena Badak jawa sulit ditemui secara langsung. “Oleh karena itu, sampai saat ini belum bisa dipastikan jumlah populasi Badak Jawa yang sesungguhnya di TNUK,” katanya.

Sedangkan menurut Balai TNUK, jumlah Badak Jawa di sana diperkirakan hanya sekitar 50 individu. Menurut Kepala Balai TNUK Agus Priambudi, dengan jumlah populasi yang sudah didapat itu, maka perlu upaya yang lebih keras untuk meningkatkan perkembangan Badak Jawa yang ditargetkan mencapai 70 individu pada 2015.

Beberapa hal yang mengancam populasi Badak Jawa ialah ancaman invasi tumbuhan yang mempersempit ketersediaan makanan, ancaman letusan Gunung Krakatau dan tsunami, persaingan makanan dengan banteng, serta perambahan hutan.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan, untuk meningkatkan populasi Badak Jawa tidak bisa dilakukan oleh Kemenhut sendiri. Perlu kerjasama dengan instutusi lain yang juga memberi perhatian untuk Badak Jawa. “Dukungan media, dosen, mahasiswa. Kalau semua bersama-sama, kita bisa,” katanya.

Kemenhut saat ini sedang berupaya untuk menjadikan tahun 2012 sebagai Tahun Badak jawa Internasional. Hal itu diharapkan bisa menjadi momentum untuk meningkatkan upaya pelestarian Badak Jawa. “Sudah kita kirim ke Pak Presiden,” ujarnya.

Peneliti Badak Jawa dari Institut Pertanian Bogor (IPB) E.K.S. Harini Muntasip mengatakan, salah satu kebutuhan penting yang diperlukan untuk meningkatkan populasi Badak Jawa ialah menyediakan tempat hidup yang cukup. Seba untuk berkembang biak, Badak Jawa perlu nutrisi yang baik, tempat hidup dan tempat kawin yang memadai.

“Kalau memang di TNUK tidak mencukupi, Mulai untuk mencari tempat hidup kedua bagi Badak Jawa,” katanya. Hal itu perlu ditempuh bila di Ujung Kulon sudah tidak ada lagi cukup tempat.

Ia mengatakan, di Pula Jawa banyak tempat yang cocok untuk Badak Jawa. Membentang di Pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai Kediri, Jawa Timur. “Di seluruh Jawa Barat, yang namanya ada Cibadak itu berarti dulunya ada Badak hidup di sana. Cai Badak, itu air kubangan Badak dulu,” katanya. (A-170/das)***

×
Customize This