Headlines

Guru Jadi Korban Penipuan Berkedok Bimtek BAN-SM Kemdikbud

BANDUNG, (PRLM).- Penipuan berkedok bimbingan teknis (bimtek) pelaksanaan akreditasi online yang mengatasnamakan Badan Akreditasi Nasional Sekolah Madrasah (BAN-SM) menimpa sekolah di Kota Bandung. Bahkan telah memakan korban dari kalangan guru di salah satu SMK Kota Bandung.

Salah satu guru di sebuah SMK swasta Kota Bandung yang enggan disebutkan namanya mengaku telah menjadi korban penipuan ini. Uang sebesar Rp 2,5 juta dalam rekening miliknya raib seketika ketika dia melaksanakan proses registrasi untuk mengikuti bimtek ini.

Awalnya, menurut dia, sekolah tempatnya mengajar menerima fax yang kop suratnya tertulis BAN-SM. Bahkan dalam fax tersebut tertulis "From: BAN-SM" tertanggal 28 Desember pukul 8.53 WIB. Dalam surat bernomor 3579/BAN-SM/BT/I/2012 itu tertulis undangan bagi kepala sekolah dan guru yang kompeten untuk mengikuti program sosialisasi "Bimbingan Teknis Pelaksanaan Akreditasi Secara Online 2011" yang akan dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 4-5 Januari 2012 di Le Meridien Hotel Jakarta.

Dalam surat tersebut, peserta diharuskan mendaftarkan diri paling lambat satu atau dua hari setelah menerima undangan kepada Drs. HM. Indra Subekti M.Pd di nomor 021-36265772 ext 109. Disebutkan biaya penyelenggaraan seminar bersumber dari DIPA BAN-SM Kemdikbud termasuk juga bantuan laptop dan transport serta akomodasi yang akan ditransfer ke rekening peserta.

"Hari itu juga saya langsung daftar karena sekolah menugaskan saya. Lalu saya disuruh menghubungi langsung Pa Indra di nomor pribadi 081286007345. Katanya saya peserta nomor 98. Dia bilang saya akan menerima transfer Rp 10 juta sebagai biaya transport, akomodasi dan di sana akan menerima bantuan laptop juga. Lalu saya diminta mengirimkan nomor rekening karena katanya akan langsung ditransfer ke rekening pribadi saya," ujarnya di Bandung, Kamis (29/12).

Setelah mengirimkan nomor rekening, kata dia, orang tersebut memberikan PIN 325/5010023/07503-II. Lalu diminta ke ATM dan memasukkan PIN tersebut. "Di ATM saya cuma masukkin PIN tadi, tidak mentrasfer uang. Tetapi setelah saya cek, uang di rekening saya habis, sampai nol. Rp 2,5 juta hilang. Setelah itu saya mulai curiga apakah ini penipuan, padahal saya masih terus berkomunikasi dengan orang itu, malah ketika saya katakan saldo saya habis, dia menyuruh saya untuk mengisi kembali tabungan saya," ungkapnya.

Setelah melapor ke kepala sekolah, kata guru tersebut, dirinya baru sadar kalau telah menjadi korban penipuan. Bahkan setelah dilihat lagi suratnya, alamat yang tercantum di surat undangan tidak sesuai dengan alamat yang sebenarnya. "Di surat disebutkan jika BAN-SM ada di Komplek Ditjen Mandikdasmen Kemdikbud RI, Gd. F Lantai 2. Betul memang di gedung F, tapi alamatnya di Jln. RS Fatmawati Cipete, padahal seharusnya di Jln. Jend. Sudirman. Hotel Le Meridien pun disebutkan di Jln. Raya Mangga Dua, padahal ada di Jln. Jend. Sudirman. Nomer handpone yang saya kontak pun sekarang jadi tidak aktif lagi," tuturnya.

Menanggapi kasus ini, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kota Bandung Supardi mengimbau kepada seluruh sekolah terutama SMK di Kota Bandung untuk waspada terhadap modus penipuan seperti ini. Sebab dia yakin bukan hanya satu sekolah yang dikirimi surat undangan di Kota Bandung ini. "Pasti ini sebuah komplotan, dan mereka pasti punya data lengkap. Saya juga yakin bukan hanya satu sekolah yang dikirimi undangan seperti ini," ucapnya.

Oleh karena itu, menurut Supardi, sekolah diharapkan teliti jika menerima undangan atau apapun. Jangan sampai kejadian yang menimpa salah satu guru SMK di Kota Bandung ini juga menimpa sekolah lainnya. "Jangan percaya dulu, cek dulu kebenarannya. Cek juga jika ada yang janggal dari surat undangan itu, sebab saat ini banyak sekali oknum yang memanfaatkan situasi," ungkapnya. (A-157/das)***

Customize This