Tradisi Ngabubur Suro Masyarakat Rancakalong Masih Lestari

JAWA BARAT
SEJUMLAH panitia acara Ngabubur Suro, sedang menghitung bungkusan bubur yang akan dibagikan kepada masyarakat pada acara tradisi Ngabubur Suro yang diselenggarakan masyarakat di Dusun Legokpicung, Desa Pamekaran, Kec. Rancakalong, Kab. Sumedang, Selasa (6
NURYAMAN/PRLM
SEJUMLAH panitia acara Ngabubur Suro, sedang menghitung bungkusan bubur yang akan dibagikan kepada masyarakat pada acara tradisi Ngabubur Suro yang diselenggarakan masyarakat di Dusun Legokpicung, Desa Pamekaran, Kec. Rancakalong, Kab. Sumedang, Selasa (6/12). *

SUMEDANG, (PRLM).- Tanggal 10 Muharam (Asyuro) 1433 Hijriyah bertepatan 6 Desember 2011 kembali diperingati masyarakat di Kec. Rancakalong, Kab. Sumedang, dengan menggelar acara "ngabubur suro". Tradisi yang sampai saat ini masih terpelihara lestari di kecamatan tersebut, Selasa (6/12) digelar secara besar-besaran dipusatkan di Dusun Legokpicung, Desa Pamekaran, Kec. Rancakalong.

Acara itu, diikuti oleh sedikitnya 500 warga dari sejumlah desa di Kec. Rancakalong, termasuk sejumlah tamu kehormatan perwakilan masyarakat adat dari sejumlah kabupaten di Jawa Barat.

Selain itu, juga dihadiri dan disaksikan para tokoh masyarakat adat Rancakalong, serta Sekretaris Jenderal Duta Sawala Dewan Musyawarah Kasepuhan Masyarakat Adat Tatar Sunda Eka Santosa.

Dalam acara tradisi tahunan yang berlangsung sejak pagi hingga sore itu, diisi dengan membuat bubur campuran ratusan jenis bahan makanan. Bahkan menurut salah seorang tokoh masyarakat adat Rancakalong Sukarma, dan Ketua Panitia "ngabubur suro" di Dusun Legok Picung Ahmad (69), bubur suro itu sampai mencakup seribu jenis bahan makanan.

"Bahan utamanya beras. Lainnya, berbagai jenis umbi-umbian, buah-buahan, dan aneka jenis sayuran, serta daun-daunan semacam lalab-lalaban, sampai seribu jenis. Memang kalau persis seribu jenis tidak tercapai, tetapi kekurangannya biasa kami penuhi dengan menambahkan pisang, namanya pisang seribu. Masyarakat di sini menyebut pisang itu dengan nama Cau Sewu," kata Ahmad.

Sukarma maupun Ahmad, dibenarkan sejumlah masyarakat yang turut mengikuti acara itu, bahan-bahan campuran bubur itu seluruhnya terhimpun dari sumbangan sukarela masyarakat sekitar. Termasuk sumbangan dari perwakilan masyarakat adat luar Sumedang, baik berupa barang maupun uang.

Bubur yang dibuat sekaligus pada acara tradisional setiap tanggal 10 Muharram, menurut mereka bobotnya tak pernah kurang dari satu kuintal bubur masak. Pembuatan bubur sebanyak itu, biasa diaduk dan dimasak dalam puluhan wajan ukuran besar dengan tungku kayu bakar pada satu lokasi. (A-91/A-88)***

Baca Juga

Bibit Sudah Tua, Petani Terlambat Tanam Padi

JAWA BARAT
SEJUMLAH petani sedangn menanam padi di lahan kering di Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, Jumat (8/1/2016).*

MAJALENGKA,(PRLM).- Para petani di Desa Pilangsari dan Panyingkiran hampir seluruhnya terlambat melakukan tanam padi, sementara bibit ada yang sudah berusia 40 hari. Sebagian petani kini terpaksa melakukan tanam kering dengan cara dilanja (sunda:diaseuk).

Para Pendekar Menjadi Pendonor Darah

JAWA BARAT

SUKABUMI, (PRLM).- Pendekar yang tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Sukabumi mendonorkan darahnya. Aksi para pendekar Paguron Maung Bodas seiring kelangkaan darah yang menyebabkan sulitnya warga untuk memperoleh darah, telah memicu keprihatinan para masyarakat.

Jalan Menuju Desa Bungurberes Ambles

JAWA BARAT
Jalan Menuju Desa Bungurberes Ambles

KUNINGAN, (PRLM).-Belasan meter bagian jalan akses kendaraan menuju Desa Bungurberes, Kecamatan Cilebak, Kabupaten Kuningan, ambles terseret pergerakan tanah, Senin (11/1/2016) pagi.

Kendaraan Berat Disiagakan di Zona Merah Bencana

JAWA BARAT

SUKABUMI (PRLM).- Dua puluh lebih kendaraan berat, Rabu (13/1/2016) disiagakan Balai Pengelolaan Jalan Wilayah II (BPJP) Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat. Penyiagaan kendaraan berat di sejumlah ruas jalan yang berada di zona merah untuk mengantisipasi bencana tanah longsor.