Headlines

Produksi Udang di Kec. Tarumajaya Meningkat 100 Persen

YULISTYNE KASUMANINGRUM/"PRLM"
YULISTYNE KASUMANINGRUM/"PRLM"
SALAH seorang pedagang tengah menunjukkan udang usia lima bulan hasil produksi petambak di Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, pekan lalu. Meski kemarau, hasil produksi udang petambak di wilayah tersebut naik 100-150 persen.*

BEKASI, (PRLM).- Pada musim kemarau, hasil produksi udang di Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi meningkat. Peningkatan mencapai 100-150 persen dibandingkan tahun 2010.

Salah seorang petambak di Desa Segara Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Nain Anjat pada tahun ini sebenarnya meski kemarau relatif lebih panjang sehingga berpengaruh pada salinitas air, hasil produksi udang para petambak meningkat 100-150 persen dibanding 2010. Sebagai contoh, produksi udang tahun ini mencapai 100 kg perhektar. Sementara, pada tahun lalu hanya berkisar 20-30 kg.

"Memang kemarau sekarang lebih panjang. Tapi justru lebih baik, karena air tawarnya tidak terlalu banyak," katanya saat ditemui di Desa Segara Makmur, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, akhir pekan lalu.

Namun, Nain yang juga bendahara Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Tarumajaya menjelaskan kondisi berbeda justru terjadi pada jenis bandeng. Kekhawatiran terjadinya anomali cuaca seperti tahun lalu menyebabkan banyak petambak yang tidak menebar bandeng. Akibatnya, saat permintaan naik tajam, petambak tak mampu memenuhi permintaan.

"Bandeng produksinya justru turun. Tadinya saat awal kemarau pada ragu akan terus menerus hujan seperti tahun lalu. Jadi pada ga banyak tanam," ucapnya.

Ia memaparkan hasil produksi udang dan bandeng di Tarumajaya memang relatif berbeda dengan daerah lain. Tatkala, di beberapa daerah banyak ditemui gagal panen, hasil produksi petambak Tarumajaya justru meningkat. "Waktu awal kemarau kita masih dapat air tawar sehingga kadar garamnya terjaga. Kalau untuk seperti Muara Gembong itu mayoritas memang gagal, karena sejak awal kemarau sudah kesulitan air tawar," ujarnya.

Lebih lanjut, Nain memaparkan kegagalan panen di sejumlah daerah dan adanya isu formalin yang menerpa ikan laut, menyebabkan terjadinya peningkatan permintaan.

Ia mencontohkan permintaan udang Tarumajaya atau yang biasa dikenal udang cilincing dari Jakarta mencapai 300 kg perhari. Namun, petambak hanya mampu memenuhi 50 kg. Untuk bandeng, dari permintaan 1 ton perhari, hanya mampu terpenuhi 20 persennya atau sekitar 200 kg. "Harga sebetulnya lagi bagus karena pasokan kosong. Bandeng yang biasanya Rp 17.000-18.000 per kilogram naik jadi Rp 23.000-25.000. Udang dari Rp 75.000 menjadi Rp 90.000-95.000. Tapi, petambak tidak bisa memenuhi," katanya.

Peningkatan permintaan akan udang dan bandeng pun diakui salah seorang pedagang, Ade, di Tarumajaya. Ia memaparkan adanya isu formalin menyebabkan banyak pembeli yang beralih ke ikan air payau dan tawar. "Ada peningkatan. Untuk bandeng saja, kita saat ini kosong, rata-rata sudah diminta sama Jakarta," ucapnya. (A-188/A-147)***