Guru Sukwan di Sukabumi Harapkan Tunjangan Gurdacil

ADANG JUKARDI/"PRLM"
ADANG JUKARDI/"PRLM"
ALAN Suherlan (32/kanan) guru sukwan (sukarelawan) dan Ipah Saripah (28/kiri) guru PNS di SDN I Cirendang, Desa Cileungsing, Kec. Cikakak, tampak sedang membereskan tumpukan buku paket murid-muridnya, Rabu (12/10). Sehubungan mereka mengajar di daerah terpencil, sehingga mereka sangat berharap mendapatkan dana guru di daerah terpencil (gurdacil) dari pemerintah.*

SUKABUMI, (PRLM).-Sejumlah guru sukarelawan (sukwan) di SDN I Cirendang di Kp. Pasirpanjang, Desa Cileungsing, Kec. Cikakak, Kab. SUkabumi, berharap mendapatkan dana tunjangan gurdacil (guru di daerah terpencil). Terlebih dari segi persyaratan, mereka merasa sudah layak mendapatkan dana gurdacil yang dianggarkan APBN.

“Kalau dilihat dari masa kerja, sebetulnya saya sudah melampui dari kriteria yang ditetapkan. Kriteria masa kerja untuk guru sukwan 'kan lima tahun, saya sendiri sudah mengajar di sekolah ini 12 tahun. Tapi nggak tahu, sampai sekarang saya belum mendapatkan dana gurdacil,” ujar guru sukwan SDN I Cirendang, Alan Suherlan (32) ketika ditemui di sekolahnya di Kp. Pasirpanjang, Desa Cileungsing, Rabu (12/10).

Menurut dia, kriteria lainnya dilihat dari persyaratan TMT (terhitung mulai tugas). Guru sukwan yang berhak mendapatkan dana gurdacil, yakni yang TMT-nya sebelum tahun 2005. Sementara, ia sendiri sudah bertugas mengajar di sekolah itu terhitung sejak tahun 1999.

“Jadi, dari kriteria TMT pun saya sudah memenuhi persyaratan tersebut. Tapi tetap saja, saya belum mendapatkan dana gurdacil. Dana gurdacil bagi guru sukwan sebesar Rp 8,3 juta per semester,” kata Alan.

Sekolah SDN I Cirendang, kata dia, termasuk sekolah yang berada di daerah terpencil. Selain jaraknya sangat jauh dari pusat perkotaan, juga akses jalannya pun sulit dijangkau oleh kendaraan. Jarak sekolah dari kantor kecamatan sejauh 16 km, sedangkan dari kantor desa sejauh 5 km.

Untuk menjangkau ke sekolah itu, harus menempuh medan jalan yang berat. Selain jalan berbatu dan sebagian masih berupa tanah, juga harus melalui daerah perbukitan dan perkebunan yang terjal.

“Jadi sekolah ini berada di daerah terpencil sehingga guru sukwannya pun layak mendapatkan dana gurdacil. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan dana gurdacil tersebut. Apalagi gaji guru sukwan relatif kecil sebesar Rp 450.000,00., per bulan yang dialokasikan dari dana BOS (Biaya Operasional Sekolah). Di sekolah ini, ada satu guru sukwan lagi yang senasib dengan saya,” ujar Alan.

Di tempat yang sama, Ipah Saripah (28) guru PNS yang mengajar di sekolah itu mengatakan, guru yang mendapatkan dana gurdacil itu, tak hanya guru sukwan saja, melainkan guru berstatus PNS yang mengajar di daerah terpencil pun, berhak mendapatkan dana tersebut.

Yang membedakannya, hanya dari masa kerja. Guru PNS yang berhak mendapatkan dana gurdacil itu yang masa kerjanya sudah tiga tahun. “Kalau saya sendiri, memang masa kerjanya belum sampai tiga tahun sehingga tidak mendapatkan dana gurdacil. Saya baru mengajar di sekolah ini 2,5 tahun. Dana gurdacil untuk guru PNS yakni Rp 10,6 juta per semester,” tuturnya.

Kendati belum layak mendapatkan dana gurdacil, kata dia, namun biaya operasional dan biaya hidup mengajar di daerah terpencil dinilai cukup berat. Berbagai biaya itu, hampir tidak sebanding dengan gaji yang diterima. Terlebih ia harus mengontrak rumah di Kp. Pasirpanjang karena rumahnya sangat jauh di daerah Cisaat, Sukabumi.

”Jadi, gaji yang saya terima hampir habis dipakai biaya kontrak rumah, biaya hidup sehari-hari dan ongkos pulang ke Sukabumi. Oleh karena itu, seandainya masa kerja saya nanti sudah tiga tahun, saya pun berharap mendapatkan dana gurdacil tersebut,” ujar Ipah. (A-67/A-89)***

Komentari di Facebook !
Customize This