Musik Bambu Angkat Citra Bangsa Indonesia

TRA-Digi Angklung karya Kasim Ghozali yang mampu memainkan esemble angklung tanpa dimainkan pemain musik merupakan inovasi baru dari karya musik bambu yang mampu mengangkat citra bangsa Indonesia di mata dunia melalui kekayaan seni budaya.*
RETNO HERIYANTO/PRLM
TRA-Digi Angklung karya Kasim Ghozali yang mampu memainkan esemble angklung tanpa dimainkan pemain musik merupakan inovasi baru dari karya musik bambu yang mampu mengangkat citra bangsa Indonesia di mata dunia melalui kekayaan seni budaya.*

BANDUNG, (PRLM).- Penyelenggaraan Bambu Nusantara World Festival bukan hanya merupakan upaya pemerintah dalam melestarikan keberadaan musik bambu dan sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada para pelaku seni budaya semata, tetapi juga mendukung kreativitas dan inovasi penggunaan media bambu. Pada akhirnya dengan banyaknya kreator-kreator yang menciptakan berbagai inovasi dari bambu akan semakin menguatkan pengakuan dan mengangkat citra bangsa Indonesia sebagai bangsa yang menghargai seni budaya tradisi.

“Bambu Nusantara tahun ini tidak hanya untuk musik saja, tapi didorong untuk edukasi, kuliner, permainan tradisional, artsitektur dan sebagainya. Selain itu, Bambu Nusantara pun bisa dijadikan sebagai alat diplomasi budaya antara Indonesia dengan negara lain di dunia dimana komunikasi antara negara dengan alat musik bambu sangat luar biasa, semisal melalui pergelaran kesenian sebagai duta Indonesia ke luar negeri melalui musik bambu," ujar wakil Guberur Jawa Barat H. Dede Yusuf, disela-sela pembukaan Bambu Nusantara World Festival V bertempat di Sasana Budaya Ganesha, Jalan Tamansari Bandung, Sabtu (1/10).

Dikatakan Dede, yang perlu diperhatikan saat ini adalah, pemerintah terus melakukan program penanaman bambu. Dengan demikian, keberadaan pohon bambu tidak akan hilang, karena banyak guna dan manfaatnya.

Sementara untuk dibidangseni musik, pelestariannya bisa melalui sekolah dengan muatan lokal. Dengan demikian, anak-anak sekolah bisa mempelajari musik bambu, termasuk proses pembuatannya. "Selain itu, bambu pun bisa dimanfaatkan sebagai kontruksi bangunan, karena mempunyai kelenturan yang luar biasa. Di Luar negeri, pohon bambu sudah dijadikan sebagai kontruksi bangunan bertingkat. Jabar akan berupaya ke arah sana, terlebih di Jabar banyak tanaman bambu berbagai jenis," ujar Dede, yang sangat tertarik dengan inovasi yang dilakukan Kasim Ghozali dengan Tra-Digi Angklung-nya.

Tra-Digi Angklung karya Kasim Ghozali ini pertamakali diperkenalkan dua tahun lalu di Shanghai Cina dan museum musik Miami Amerika Serikat, serta sejumlah negara semisal Jepang, Cina dan lainnya. Sementara di Indonesia sendiri Tra-Digi Angklung yang dipatok harga Rp 88 juta ini, baru dikenal sejak turut ambil bagian pada pameran UKM Kridaya 2011 bertempat di Jakarta Convention Center awal Agustus lalu. (A-87/A-147)***