Headlines

Hasil Sidak, tidak Ditemukan Daging Busuk

KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"
KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"
KEPALA Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor, Eddy S. Warsa (batik cokelat) bersama dengan Direktur Utama PD Pasar Pakuan Jaya, Radjab Tampubolon (batik putih) melakukan pantauan dan inspeksi mendadak daging sapi dan harga sejumlah kebutuhan bahan pokok lainnya di Pasar Bogor, Kota Bogor, Kamis (4/8). Berdasarkan hasil sidak dan pemantauan, harga sejumlah bahan kebutuhan pokok mengalami penurunan hingga mendekati harga normal.*

BOGOR, (PRLM).- Isu soal peredaran daging sapi busuk dan daging ayam tiren merebak di Kota Bogor dan meresahkan warga. Namun, berdasarkan inspeksi yang dilakukan oleh PD Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor bersama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor, tidak ditemukan barang yang dimaksud.

Selain itu berdasarkan hasil pemantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor di tujuh pasar tradisional yang ada di Kota Bogor, Kamis (4/8), diketahui tiga dari empat bahan kebutuhan pokok yang harganya sempat melambung menjelang Ramadan lalu di Kota Bogor mulai mengalami penurunan hingga hampir mendekati harga normalnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor, Eddy S. Warsa di sela-sela pemantauan dan sidak bahan kebutuhan pokok di Pasar Bogor, mengatakan pihaknya menjamin keamanan daging ayam dan sapi yang dijual di tujuh pasar tradisional yang ada di Kota Bogor. Sebab, daging yang dijual berasal dari rumah potonmg hewan sehingga sudah terjamin keamanan dan kesegarannya. Selain itu, Kota Bogor tidak tergantung pada daging impor sehingg pasokan mencukupi. "Tidak ada indikasi daging sapi busuk ataun ayam tiren selama pantauan kita ke pasar-pasar," kata Eddy menegaskan.

Selain itu, Eddy juga mengatakan jika pada hari keempat puasa, harga sejumlah kebutuhan pokok yang sempat melonjak hingga pada harga tertinggi telah mengalami penurunan hingga mendekati harga normalnya. Saat mendekati bulan Ramadan lalu, lanjut Eddy, harga daging sapi, daging ayam, beras, dan telur terus mengalami lonjakan hingga harga yang tertinggi. Dipastikan Eddy, kenaikan tinggi yang sempat terjadi itu bukan karena faktor penimbunan barang atau permainan dari pedagang. Menurut dia, hal itu semata-mata hanya karena hukum ekonomi yakni ketika permintaan naik, harga pun akan naik.

"Kita terus melakukan pemantauan di pasar-pasar tradisional hampir setiap hari. Hasilnya, saat ini harga daging sapi, daging ayam, dan beras mengalami penurunan hingga mendekati harga normalnya," kata Eddy menjelaskan.

Dicontohkan Eddy, beras semua dijual dengan harga Rp 6.000 dan mengalami kenaikan hingga Rp 8.000 per liter pada awal Ramadan. Saat ini dijual di pasar dengan harga Rp 5.400 per liter atau jika diukur dengan kilogram hampir seharga Rp 6.000 per kilogram atau lebih rendah Rp 100 dibandingkan harga penetapan pemerintah. Daging sapi yang semula mencapai harga Rp 80.000 saat menjelang Ramadan, saat ini berkisar antara Rp 65.000 hingga Rp 70.000 untuk daging kualitas satu (has).

Sementara daging ayam yang semula mencapai harga Rp 32.000 per kilogram saat ini harnya mulai mendekati harga normal yakni Rp 28.000 per kilogram.  "Tinggal harga telur yang masih berkisar antara 17.000 hingga Rp 18.000 per kilogram dari harga normal Ro 14.000 per kilogram. Namun, kami jamin harganya masih stabil. Kemungkinan baru akan mencapai harga tertinggi saat mendekati Lebaran nanti karena banyaknya permintaan," tutur Eddy.

Meski demikian, Eddy tidak bisa memastikan harga yang sekarang akan bisa sama saat mendekati lebaran nanti. Pihaknya memperkirakan harga sejumlah kebutuhan pokok akan mengalami kenaikan lagi saat mendekati lebaran. Namun, kenaikannya dipastikan Eddy tidak akan melebihi harga tertinggi yang pernah terjadi menjelang Ramadan.

Mengamati harga yang mulai stabil, Eddy menilai belum perlu melakukan operasi pasar. "Kalau dipaksakan OPM, nanti malah enggak laku, karena harganya hampir sama dengan harga yang ada di pasaran. Kalaupun akan diadakan, kita masih menunggu juknis dan juklak dari Pemprov yang saat ini sedang disusun," lanjut Eddy.

Sementara itu, di Kabupaten Bogor, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, Soetrisno mengatakan pasokan daging sapi hingga lebaran masih aman meski ada penurunan sekitar 30 persen karena dampak larangan impor sapi Australia. Namun, stok untuk tahun berikutnya masih mengkhawatirkan dan belum aman.


"Persediaan daging sapi selama Ramadhan dan Lebaran aman. Namun, untuk stok tahun berikutnya, kita perlu memikirkan apakah masih tetap aman," ujar Soetrisno. Untuk mengantisipasi kelanggkaan daging sapi pada tahun-tahun berikutnya, pihaknya melakukan pencegahan pemotongan bibit betina, mengembangkan bibit anakan yang produktif. (A-155/A-147)***