Headlines

Jalan Rusak Berat, Hunian Hotel Palabuhanratu Jadi Rendah

SUKABUMI, (PRLM).- Kurang memadainya infrastruktur jalan di wilayah Kab. Sukabumi, khususnya di Palabuhanratu, menjadi faktor utama minimnya tingkat hunian hotel di kawasan objek wisata Pantai Palabuhanratu. Kurang memadainya infrastruktur jalan tersebut, di antaranya ketiadaan jalan tol jalur Bogor-Sukabumi, banyak jalan yang rusak berat dan lebar jalannya sempit sehingga menimbulkan kemacetan.

“Kami tahu kendala buruknya sarana jalan ini, dari keluhan para tamu hotel juga. Kalau datang ke hotel, mereka sering kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh dan lama untuk sampai ke Palabuhanratu ini. Kondisi itu dampak kurang memadainya sarana jalan di kita. Tak heran, hampir 80 persen tamu hotel kami, terpaksa harus stay berlama-lama di kamarnya, untuk menghilangkan rasa lelah. Mereka tidak sempat jalan-jalan seharian dan berkeliling menikmati indahnya pantai. Paling juga, mereka hanya jalan-jalan di sekitar hotel saja,” kata Resident Manager Inna Samudra Beach Hotel (SBH), I Made Asawijaya ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (27/7).

Ia mengatakan, tingkat hunian hotel di SBH diakui relatif minim rata-rata per tahun hanya 20 persen, dari 100 kamar yang tersedia. Minimnya tingkat hunian hotel tersebut, dialami juga oleh hotel-hotel lainnya di Palabuhanratu, termasuk di wilayah Kab. Sukabumi. “Kendala utama minimnya tingkat hunian hotel itu, akibat buruknya kondisi jalan terutama menuju ke Palabuhanratu. Sudah jalannya jelek, sempit dan rutenya pun berkelok-kelok,” kata Asawijaya.

Apabila musim liburan, lanjut dia, para pengunjung dari Jakarta yang akan berekreasi ke Pantai Palabuhanratu dan menginap di hotel, selalu terjebak kemacetan di empat titik, yakni di Ciawi (Kab. Bogor), Cicurug dan Cibadak (Kab. Sukabumi) serta di depan pintu tol Palabuhanratu. Bahkan di jalur Cicurug-Cibadak, semua jenis kendaraan tumplek di jalan itu. Dari mulai Bus AKDP (antar kota dalam provinsi), truk kontainer, truk-truk besar pabrik, angkot hingga kendaraan pribadi. Kondisi itu lah yang membuat pengunjung enggan berkunjung ke Palabuhanratu.

“Kasihan, ada pengunjung yang berangkat dari Jakarta jam 10 siang sampai ke hotel jam 11 malam. Bayangkan, waktu tempuh dari Jakarta ke Palabuhanratu hampir 12 jam. Sampai-sampai ada pengunjung yang ingin melangsungkan malam pergantian tahun baru di hotel, hilang begitu saja akibat terjebak kemacetan. Dia berangkat dari Jakarta jam 10 malam, datang ke hotel jam 3 subuh,” ujar Asawijaya.

Dikatakan, akibat perjalanannya jauh dan lama, sehingga minat kunjungan wisatawan untuk berekreasi ke Pantai Palabuhanratu relatif rendah. Mereka lebih memilih berlibur ke daerah Puncak. “Tapi seandainya jalur Cicurug-Cibadak-Palabuhanratu jalannya bagus, saya berani taruhan, kawasan Puncak bisa kalah dengan Palabuhanratu. Jangan salah, keindahan Pantai Palabuhanratu yang eksotis ini, mirip sekali dengan Pantai Kuta, Bali,” ujarnya.

Lebih jauh Asawijaya menjelaskan, untuk menggenjot tingkat hunian hotel, ada beberapa solusi yang bisa ditempuh oleh pemerintah dari segi infrastruktur jalan. Solusi yang paling utama, yaitu segera membangun jalan tol Bocimi (Bogor, Ciawi, Sukabumi). Jika pemerintah tidak mampu, alternatif lain bisa melakukan pelebaran jalan dari mulai Cicurug, Cibadak, Palabuhanratu. Minimal, kanan-kiri jalan dilebarkan masing-masing dua meter. “Kalau tidak sanggup juga, ya diperhalus lagi jalannya. Sebetulnya kami sudah bosan membicarakan masalah jalan tol bocimi ini. Sudah digulirkan sejak 2008 lalu, tapi sampai sekarang nggak kelar-kelar. Bagi kami, dihalusin saja jalannya, sudah untung,” tutur Asawijaya. (A-67/A-88)***

Customize This