Headlines

Terdakwa Penistaan Agama, Raden Oka Jayadiningrat, Divonis Lima Tahun

CIAMIS, (PRLM).- Terdakwa kasus penistaan agama Islam, Ondon Juhana alias Raden Oka Jayadiningrat akhirnya divonis lima tahun penjara. Sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri (PN) Ciamis. pada hari Kamis (7/7) berlangsung dibawah penjagaan ketat aparat kepolisian.

Atas putusan tersebut terdakwa yang juga pengasuh Padepokan Tri Tunggal Jaya Sampurna Galuh, langsung menyatakan pikir-pikir. Vonis yang dijatuhkan hakim tersebut sama dengan tuntutan yang diajukan Jaksa penuntut umum.

Sidang vonis berlangsung cukup menegangkan. Sejumlah polisi baik yang mengenakan seragam maupun berpakaian preman tampak berbaur dengan massa ormas Islam yang jumlahnya sekitar dua ratus orang. Sejumlah mobil polisi juga di parkir di depan PN Ciamis.

Sidang berlangsung mulai pukul 9.00 WIB. Bertindak sebagai Ketua majelis hakim adalah Merry Taat Anggarasih, didampingi anggota Sigit Pradewa dan Rudito Surotomo. Sedangkan jaksa penuntut umum adalah Asep Sontani dan Agus. Sementara terdakwa Ondon yang mengenakan kemeja warna putih dipadu celana dan peci warna hitam, didampingi kuasa hukumnya, Lambok T.

Saat berlangsungnya sidang, Ondon tampak dengan seksama menyimak amar putusan yang dibacakan hakim. Sesekali dia mengubah posisi duduknya. Sementara itu suasana ruangan penuh dengan massa ormas Islam yang selama ini menuntut pembubaran padepokan yang dinilai telah memberikan ajaran yang keliru, tampak tenang.

Ekspresi wajah terdakwa yang semula biasa mendadak berubah menjadi tegang, ketika Merry membacakan putusan. Hakim dalam putusnya menyatakan bahwa terdakwa terbukti dan sah melakukan tindakan penistaan agama, sebagaimana yang diatur dalam pasal 156 a huruf a tentang Penistaan Agama dan pasal 378 KUHP tentang Penipuan.

Usai mendengarkan putusan, terdakwa langsung menyatakan pikir-pikir. Demikian pula kejaksaan mengambil sikap serupa yaitu mengajukan jawaban pikir-pikir.
Begitu dibacakan vonis, Ondon langsung kembali digiring di ruang tahanan yang ada di PN Ciamis. Setelah suasana tenang, Ondon kemudian dibawa ke LP Ciamis untuk menjalanani sisa masa hukuman. ''Kami cukup puas dengan vonis yang diputuskan hakim. Putusan selama lima tahun penjara tersebut sama dengan tuntutan yang kami ajukan,'' tutur Asep Sontani usai sidang.

Penistaan yang dilakukan oleh Ondon di antaranya adalah melarang pasiennya untuk berdzikir. Sementara itu dalam prakatik pengobatannya, pasien mendapatkan totok pada bagian kepala dan perut. Selain itu juga diberi mie rebus dicampur dengan cabai serta minum kopi.

Padepokan Tri Tunggal Jaya Sampurna Galuh yang berada di Timbangwindu, Desa Pamalayan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, ditutup aparat kepolisian bersama dengan MUI serta sejumlah ormas Islam, pada bulan Januari 2011. Penutupan tersebut terkai tndgan munculnya desakan dari mormas Islam dan MUI yang menyatakan bahwa apa yang diajarkan maupun dilakukan oleh Ondon merupakan penistaan agama. (A-101/das)***

Komentari di Facebook !